Kraukk.com

728 x 90

Saturday, December 19, 2009

Sekilas tentang situs ciaruteun

Hari minggu tgl 13 Desember 2009 , saya dan ida pergi ke suatu daerah di kota bogor bernama Ciaruteun tepatnya ke sebuah prasasti atau situs sejarah peninggalan kerajaan tarumanegara yang terdapat di sana. Kami pikir awalnya prasasti ini adalah prasasti batu tulis yang dahulu sempat menjadi bahan perbincangan yang ramai di media massa karena ada salah seorang mantan pejabat kementrian pemerintah yang menutup serta menggali kawasan disekitar situs itu karena diduga terdapat harta karun.

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di jawa barat dengan rajanya adalah Purnawarman. Tidak seperti kerajaan – kerajaan lain yang ada dijawa , kerajaan tarumanegara hingga kini masih belum tersusun dengan lengkap karena sumber sejarah yang ada hanya berupa sejumlah prasasti dan peninggalan arkeolog lainnya yang masih samar. Latar belakang dari kerajaan tarumanegara dapat disimpulkan seperti yang terlihat dari tulisan Palawa dan Bahasa Sansekertanya bersifat keagamaannya bercorak Hindu.

Pada Abad 18M ditemukan prasasti batu tulis ciaruteun di tepi sungai Ciaruteun. Prasasti Ciaruteun diangkat dari sungai pada bulan Juni 1981 dengan menggunakan ala-alat sperti : Katrol , rantai , serling , papan dan tambang besar dan beberapa alat penunjang lainnya. Panjang prasasti Ciaruteun 1160 cm dan tingginya 1150 cm dan beratnya mencapai 8 ton. Proses pengangkatannya memakan waktu sekitar satu bulan. Team pengangkatan sekitar 20 orang personil arkeolog dan dibantu oleh mahasiswa UGM serta beberapa tenaga kasar. Pimpinan proyek oleh Ir. Suharsojo dan dibiayai oleh Direktorat Kebudayaan Jakarta.

Selain prasasti batu tulis ciaruteun ada lagi prasasti kebon kopi tapak gajah. Ditemukan ketika diadakan penebangan hutan untuk perkebunan kopi. Di atas prasasti tersebut terdapat tapak kaki gajah yang diyakini sebagai tapak kaki gajah tunggangannya raja purnawarman. Dan diatas batu prasasti tersebut terdapat tulisan palawa.

Selanjutnya ada batu dakon. Batu yang berbentuk bulat dan di atasnya terdapat lubang-lubang seperti permainan congklak. Batu dakon dan menhir termasuk peninggalan tradisi budaya megalitik sebagai bukti adanya kehidupan beragama saat itu.

Perjalanan untuk sampai di situs ciaruteun , kami lanjutkan naik ojeg setelah turun dari angkot. Jalan yang di lewati masih rusak. Taripnya Rp 10.000 per orang kalaupun ada angkot itupun sangat jarang ada. Disana juga ada pegunungan kapur. Menurut bapak ojegnya itu , di sana sering digunakan untuk syuting film seperti koboi cilik nya alm adi bing slamet , komando nya barry prima , lalu film klasiknya rhoma irama. Tempatnya memang bagus apalagi tebing-tebingnya. Tetapi karena disini juga ada para penambang gunung kapur yang sedang bekerja, kami hanya sebentar singgah karena mereka akan meledakkan dinamyte di sana.

Terima kasih untuk bapak atma, pemandu yang telah menjelaskan situs-situs bersejarah yang ada di kampung muara – ciaruteun. Bapak-bapak tukang ojeg yang telah mengantar kami berdua pulang pergi dan jadi juru poto kami hehe… ida thanks yaaa waktunya :)

Bogor , minggu, 13 Desember 2009

-veronica setiawati-


foto selengkapnya dapat di lihat di : album prasasti ciaruteun

Tuesday, October 20, 2009

Ciwidey - Bandung selatan - jawa barat

( cimanggu – ranca upas – kawah putih – situ patengan )

Pukul 7 sabtu pagi bis AC eksekutif primajasa bergerak dari terminal bus Kalideres. Melewati Cikokol, Metropolis, Kebon Nanas untuk mencari penumpang dan kemudian masuk ke tol Tangerang – kebon jeruk - tol cipularang sampai menuju Bandung, tepatnya berakhir di terminal bus leuwipanjang. Harga tiket nya Rp 40.000,- per orang dan ada toiletnya . juga ketika bus berada di rest area tidak akan berhenti lama. Perjalanan yang saya tempuh kurang lebih 4 jam lamanya. Karena ada kepadatan kendaraan ketika memasuki pintu gerbang tol cileunyi dan Pasirkoja. Ketika sampai di kota Bandung, saya menunggu kedatangan teman-teman saya , ida dan hanny yang masih dalam perjalanan , di rumah makan Ampera yang letaknya disebrang terminal leuwipanjang.


Sekitar pukul 12.30 siang, kami bertiga bergerak menuju terminal leuwipanjang lagi mencari kendaraan umum yang akan membawa kami menuju ciwidey. Ada dua alternative kendaraannya pertama dengan bus (seperti PPD ) dengan ongkosnya sebesar Rp 5.000 per orang. Kedua, dengan kendaraan ELF atau L300 yang letaknya tidak jauh dari bus , ongkosnya Rp 7.000 ,- per orang. Kami bertiga naik bus menuju terminal ciwidey. Begitu keluar dari terminal bus, melewati jalan terusan kopo yang macet.


Hampir satu setengah jam kami terjebak dalam kemacetan di sini sampai memasuki jalan raya soreang. Ternyata bus yang kami naiki berhenti di pasar soreang untuk mengambil penumpang lagi. Lepas dari pasar soreang tidak ditemukan kemacetan dan akan disuguhi pemandangan bukit serta sawah disepanjang jalan yang berkelok-kelok seperti ke puncak. Perjalanan bus berakhir di terminal ciwidey sekitar pukul 15.30 kurang lebihnya. Dari terminal bus ciwidey kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil angkutan warna kuning sampai di Cimanggu. Tarip yang dikenakan Rp 8.000 per orang.


Di Cimanggu inilah kami mencari penginapan. Diantarnya kami ke rumah salah satu penduduk yang akan disewa rumahnya untuk tempat kami menginap. Harga yang ditawarkan kepada kami sebesar Rp 300.000 untuk satu rumah. Waw.. itu harga yang mahal untuk kami bertiga. Kami inginnya satu kamar saja yang dipakai menginap, ternyata tidak ada. Kami pamitan untuk mencoba mencari tempat penginapan yang lain mungkin ada yang bisa satu kamar untuk kami bermalam. Ternyata sebuah rumah lagi yang ditunjukkan kepada kami. Tetapi lebih bagus tempatnya dari yang pertama. Harganya Rp 250.000 itu pun sudah ditawar oleh ida dari harga Rp 400.000. Karena masih penasaran dengan penginapan satu kamar saja, kami naik angkutan lagi ke penginapan gambyang kearah ciwidey, ternyata harganya RP 275.000.

Olala dari pada kami terus mencari dan hari hampir gelap , akhirnya diputuskan menginap di cimanggu saja. Kamipun memilih rumah yang bercat ungu dengan harga Rp 250.000 per malam. Ada tivi, kamar mandi di dalam, kompor gas, kasur dua buah , bantal guling dan selimut yang tebal, kursi meja, peralatan dapur lengkap yang bisa kami gunakan, lemari ehmm lengkap dan cukuplah buat kami bertiga.


Udara di cimanggu dingin sekali, terus terang begitu menyentuh air yang dingin saya tidak mandi sore itu. Hanya cuci muka itupun saya sudah menggigil, tidak dengan 2 orang temanku mereka mandi walaupun airnya dingin. Sebaiknya jika berkunjung dan menginap di cimanggu membawa jaket atau celana panjang, kaos kaki dan sarung tangan untuk menghangatkan tubuh.


Cuaca saat kami datang cerah sekali. Saat malam datang kami keluar dari rumah berjalan-jalan disekitar cimanggu . Karena penerangan hanya ada disekitar cimanggu dan jalan menuju perkemahan ranca upas gelap maka kami urungkan niat berjalan ke sana .


Kami hanya berpoto di depan pintu masuk taman wisata alam cimanggu yang ada pemandian air panasnya sambil melihat bintang-bintang dilangit yang sangat banyak. Benar-benar luar biasa melihat pemandangan seperti ini senang sekali bisa menyaksikan langit bertaburan bintang. Oh ya , kami menikmati makanan cwangki. Semangkok isinya bakso berkuah dan ada pangsitnya tambahannya ada sambel ijo dan saos. Ehm nikmat sekali disantap saat udara dingin.


Keesokkan harinya, minggu pagi, kami memulai perjalanan . Pertama kali yang kami kunjungi dengan berjalan kaki adalah Ranca Upas. Ranca Upas adalah sebuah tempat / komplek bumi perkemahan dan terdapat penangkaran rusa di dalamnya. Pemandangannya cantik sekali dengan pohon-pohon yang tinggi setelah melewati pintu masuknya sampai menemukan tempat yang sangat luas yang digunakan mereka yang berkemah ditempat itu. Ada sebuah danau kecil yang bersih. Pantulan dari pohon dan bukit yang ada disekitar nya terlihat jelas di permukaan airnya. Tempat yang bagus untuk berfoto. Tidak jauh dari danau kecil itu ada penangkaran rusa. Tidak seperti rusa yang ada di kebon raya bogor, rusanya ini berwarna coklat dan yang ada tanduknya yang besar dan bercabang. Untuk masuk ke ranca upas dikenakan tiket seharga Rp 5.000 per orang dan motor RP 2.000 dan mobil sedan/ jeep Rp 5.000 dan truk Rp 10.000 ( terlihat dari kaca loket ). Ketika kami datang pagi hari, belum ada petugas loket sehingga kami bertiga tidak dikenakan biaya masuk.

Dari Ranca Upas kami berjalan kaki menuju penginapan. Di depan penginapan kami ada kebon strawberry dan ibu yang rumahnya disewakan itu sedang memetik buah strawberry. Menurut suaminya setiap 3 hari sekali buah strawberry ini panen. Wah asiik sekali tidak perlu menunggu berlama-lama. Strawberry rasanya manis saat saya coba apalagi warnanya merah menggoda. Selesai mandi dan makan indomie rebus kami berjalan kaki menuju kawah putih. Kira-kira pukul 8.30 pagi kami bergerak menuju kawah putih.




Kawah putih adalah sebuah danau kawah dari gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 M diatas permukaan laut. Kawahnya berwarna hijau dan ada yang hijau pucat . Tiket masuk seharga Rp 12.000 / orang dengan harga masuk kendaraan motor RP 2.000 dan mobil Rp 3.000. Karena perjalanan sangatlah jauh yang ditempuh sekitar 5 km menurut supir angkutan dari pintu masuk loket menuju kawah putih maka kami bertiga dan dua orang laki-laki ( perkiraan masih sekolah ) berasal dari Bandung mencarter mobil angkot yang ada dipintu masuk untuk diantar ke kawahnya seharga Rp 100.000 dan nanti kami akan dijemput kembali , waktunya sesuai dengan kesepakatan. Kamipun diberikan nomor mobil yang kami carter. Sepanjang jalan menuju dan di area danau kawah putihnya saya tidak mendapat sinyal handphone.. tertulis “No network” di layar HP saya.


Kami lewati tangga – tangga batu untuk masuk ke area kawah putih. Dari jauh sudah tercium bau belerang yang sangat tajam oleh sebab itu disarankan tidak lebih dari 20 menit berada disekitar kawah danau. Walaupun cuaca sangat panas tetapi angin yang bertiup di kawah putih sangat dingin. Di tempat pohon-pohon yang kelihatannya kering hanya ranting-rantingnya saja digunakan beberapa orang untuk poto prewed. Mengesankan sekali tempat kawah putih ini. Semakin siang Pengunjung semakin banyak.



Pukul 11-an siang kami berlima beranjak dari kawah putih dan diantar dengan mobil carteran menuju pintu masuk loket. Kendaraan yang diperkenankan masuk hanya kendaraan pribadi dan motor. Bus besar hanya sampai parkiran pintu masuk dan para pengunjungnya menggunakan angkutan perhutani ataupun angkutan yang telah disiap di sana dan tentunya di kenakan biaya per angkutan Rp 112.000 atau per orangnya sekitar Rp 8.000 tetapi penumpang harus penuh terisi 14 orang untuk satu angkutan. Di depan tempat wisata kawah putih ada sebuah arena wisata yang baru dibuka. Pemiliknya bernama Bp. Haji MT orang ciwidey seperti nama tempatnya.


Kami kembali ke penginapan untuk pakcing dan mandi. Kami meninggalkan penginapan sekitar pukul 1 siang. Tujuan berikutnya adalah situ patengan. Cuaca siang hari sangat cerah dan bagus walaupun terik. Kami menaiki mobil angkutan kuning menuju situ pantengan dengan ongkos seharga Rp 3.000 per orang. Kami tidak melewati pintu masuknya jadi tidak dikenakan biaya tiket masuk kecuali mereka yang menggunakan mobil atau motor akan dikenakan biaya tiket masuk. Sepanjang jalan menuju situ pantengan kami melihat perkebunan teh yang sangat luas. Cantik sekali, tak henti-hentinya saya berdecak kagum dengan apa yang saya lihat.


Setelah itu, angkutan melewati pemukiman dari perkebunan teh kecamatan ranca bali. Rumahnya tidak besar , satu atap terdiri dari dua rumah dan dikelilingi area kebon teh yang luas. Sebelum sampai ke tempat akhir dapat dilihat bukit-bukit teh yang menghijau atau melihat danau dari tepi jalan yang kami lalui , rasanya saya ingin turun sebentar mengabadikan semuanya..


Pengunjungnya ramai sekali. Luas situ pantengan adalah 48 ha dengan luas taman wisata alam 17 ha. Tukan perahu beberapa kali menawarkan saya untuk naik perahunya menuju batu cinta yang ada ditengah-tengah situ pantengan. Menurut cerita batu cinta itu merupakan tempat bertemunya Dewi Rengganis dan Prabu Ki santang ketika mereka saling mencari dan berpisah sekian lama. Dan jika sampai ke batu cinta akan menemukan cinta yang abadi, duuh romantis banget ya..

Situ patengan sendiri berasal dari bahasa sunda yakni pateang – teang yang artinya saling mencari. Dan ketika mereka berdua saling bertemu, Dewi Rengganis meminta dibuatkan sebuah danau dan sebuah perahu layar untuk berlayar bersamanya yang kemudian perahu ini menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati. Selain objek wisata danau, ada permainan flying fox dapat dinikmati langsung oleh para pengujung yang penasaran mencoba permainan ini dengan harga Rp 15.000.- rata –rata anak-anak yang mencobanya. Seru juga melihat keberanian mereka mencoba flying fox , terima saja mereka diikat dengan tali pengaman dan meluncur kebawah.


Pukul tiga sore kami bergerak meninggalkan situ patengan untuk kembali ke terminal ciwidey menuju kota bandung. Karena perkiraan kami akan macet seperti ketika kami datang maka kami memutuskan untuk pulang tidak terlalu malam. Dari Situ patengan ke terminal ciwidey dikenakan tarip Rp 8.000 per orang. Dari terminal bus ciwidey naik mobil elf/ L300 menuju bandung. Ternyata diluar dugaan lebih cepat kami sampai di terminal bus leuwipanjang. Tidak seperti bus , mobil elf L300 ini tidak melewati pasar sorean serta sepanjang jalan terusan kopo sore itu tidak macet. Kecuali mendekati lampu merah yang menuju terminal bus leuwipanjang yang padat merayap.

Setengah lima sore kami tiba di terminal dan mencari makan. Kami makan bubur ayam , duduk lesehan di depan alfamart yang terletak tidak jauh dari terminal bus. Lumayanlah seharga Rp 3.000 per orang sudah cukup mengisi perut yang kosong. Kami berpisah di terminal bus dan saya melanjutkan perjalanan dengan bus AC jurusan kalideres – bandung. Sedangkan mereka berdua melanjutkan naik bus menuju depok.

Benar-benar pengalaman yang seru. Dengan persiapan yang mungkin dibilang dadakan tetapi bisa juga dijalani. Thanks buat ida dan hanny juga catatannya yaa, sedikit banyak membantu saya membuat tulisan ini. Sampai bertemu lagi di trip brikutnya.

Ciwidey, sabtu – minggu , 17-18 Oktober 2009

Veronica setiawati

Tuesday, October 06, 2009

Berkunjung ke pulau tidung

(* Acara ini diadakan oleh travel writer /penulis pengelana )

Pukul 7 pagi hari sabtu yang cerah , kapal berangkat dari pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung yang terletak di sebelah utara pulau jawa ( termasuk dalam kepulauan seribu ). Perjalanan 3 jam untuk sampai ke sana. Angin laut sangat terasa kencang ketika kapal sudah berada di tengah laut membuat saya masuk angin.. Sayangnya saya tidak membawa jacket/sweater.

Pukul sepuluh lebih , kapal yang kami naiki mendarat dengan sukses di dermaga pulau tidung besar. Para penumpang yang ada di atap dan di dalam kapal bergegas turun. Barang-barang bawaan kami selama menginap di pulau tidung dikumpulkan pada dua buah becak yang telah di sewa oleh panitia acara untuk kemudian dibawanya ke tempat penginapan kami yakni di “penginapan lima saudara” , tidak jauh dari dermaga.

Selesai istirahat dan makan siang, perjalanan di mulai mengelilingi pulau tidung dengan memakai sepeda yang telah di siapkan. Sepeda yang saya gunakan cukup menguras tenaga dan membuat pegal ke dua kaki. Karena jalan yang dilalui melewati pasir dan rumput liar,beberapa kali terpaksa saya tuntun. Belum lagi rem sepeda saya tidak berfungsi dengan baik. Cukup lama saya beradaptasi dengan sepeda saya. Uugh mulai terasa pegal..

Pemandangan menarik yang dapat dilihat di Pulau Tidung adalah lautnya yang luas sepanjang mata memandang. Pulau ini dikelilingi laut yang teduh dan tidak bergelombang tinggi. Menurut penduduk di sini, pulau tidung yang merupakan satu kecamatan ini tidak pernah terjadi gelombang tinggi seperti tsunami ataupun gempa. Menyenangkan sekali buat saya yang sudah lama tidak berjalan-jalan memakai sepeda apalagi melewati perkampungan seperti yang ada di pulau tidung . Namun cuaca siang hari kurang mendukung, begitu panas menyengat kulit dan membuat saya juga beberapa teman untuk mampir sejenak membeli minuman es.


Setelah berkelililing, kami bergerak ke arah timur dari pulau tidung dan menemui sebuah jembatan penghubung antara pulau tidung besar dan pulau tidung kecil. Untuk sampai ke jembatan penghubung ini dapat menyewa perahu. Tetapi jika pembangunan jembatan telah selesai dapat dilakukan dengan berjalan kaki saja dari pinggir daratan pulau tidung besar. Sepanjang jembatan penghubung ini dapat dilihat dengan mata telanjang ,isi dari panorama laut yang ada dibawah, seperti melihat aquarium. Air lautnya jernih berwarna hijau dan sangat teduh.

Berlama-lama dijembatan penghubung ini juga tidak akan membosankan karena selain dapat berenang atau menyelam , juga dapat menunggu panorama langit yang sangat indah saat matahari tenggelam serta suasana menjelang malam. Apalagi saat kami datang , dilangit sedang bulan purnama dan agak sedikit mendung. Setelah maghrib , perkampungan di pulau tidung ini sangat sepi, tidak ada yang keluar rumah lagi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat ada diluar dan itupun hanya para bapak. Sepanjang jalan menuju penginapan ada beberapa tempat yang belum diterangi lampu jadi sebaiknya membawa senter ataupun headlamp.

Sewaktu pagi hari karena cuaca kurang begitu bagus, kami tidak mendapat suasana laut saat matahari terbit. Pukul 7.30 pagi , perahu yang akan membawa kami menyebrang ke jembatan penghubung untuk melanjutkan bersepeda menuju pulau tidung kecil sudah datang.

Dari jembatan penghubung mengikuti jalan yang cukup lebar sampai menemukan tempat perkembangbiakan mangrove. Nah dari sini kami naik sepeda melewati jalan setapak yang penuh dengan ilalang dan rumput-rumput yang tajam.Kami sampai di sebuah mushola dan didepannya terdapat makam panglima hitam yang konon sebagai penghuni pertama pulau tidung. Di tempat ini kami parkir sepeda kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak lagi sampai menemukan laut berpasir putih dan sangat sepi. Indah tempatnya.

Dari sini kami berjalan menyusuri pantai pulau tidung kecil, melewati bibir pantai yang dangkal sampai ke ujung pulau ini. Bagi yang ingin berjemur, menyelam atau sekedar berbasah-basahan dapat dinikmatii kenyamanannya tanpa risih dilihat orang yang berlalu lalang. Tetapi jika mencari warung-warung kecil yang menyediakan makanan , disini tidak ada lebih baik membawa makanan atau minuman sendiri. Juga fasilitas WC umum juga belum ada.

Perjalanan pulang dari pulang tidung kapal yang kami naiki singgah sekitar 45 menit pulau payung. Hujan mulai menguyur kapal yang membawa kami pulang menuju pelabuhan muara angke – Jakarta ketika kami masih di tengah laut. Ombak laut yang meninggi , menggucangkan isi kapal ke kiri kanan termasuk isi perut saya, seperti naik perahu kora – kora di Dufan rasanya. Belum lagi atap kapal yang bocor membangunkan saya yang sudah pulas tertidur. Saya merasakan pusing , panas dingin yang luar biasa sampai tak tertahankan sampai akhirnya saya mengeluarkan isi perut dengan sukses. Yaah walaupun saya mabok laut , namun pendaratannya sukses di Jakarta dan syukur kepada Tuhan semua selamat dan itu yang penting.

Thanks to :
*panitia penulis pengelana, jadi pengen juga bercerita tentang Indonesia lewat tulisan dengan lebih baik lagi dan mau doonk sampai menembus media..
*teman-teman seperjalanan pulau tidung..
*semua pihak yang telah terlibat hehe..

veronica setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogspot.com
mail to : g1g1kel1nc1@live.com

Wednesday, September 30, 2009

Lembah karmel – cikanyere cipanas

Minggu 9 Agustus 2009 , perjalanan ke lembah karmel pukul 6 pagi dimulai bersama legio maria paroki trinitas cengkareng ( tahta kebijaksanaan & benteng gading ).

Lembah karmel terletak di ds. Cikanyere – cipanas, masuk dari taman wisata kebun bunga cipanas. Tempat yang sudah lama tidak saya kunjungi. Terakhir bersama teman-teman mudika entah berapa tahun yang lalu. Di tempat ini saya merasa pas dan nyaman sesuai dengan batin dan doa-doa saya. Bahkan sempat terpikir waktu itu jika saya terpanggil hidup membiara, tempat inilah yang menjadi pilihan saya untuk berkarya dan menyerahkan hati , pikiran dan hidup saya buat Tuhan sepenuhnya.

Sampai di lembah karmel pukul Sembilan lewat lima belas menit pagi. Bersama ibu leny ( kalau mama panggilnya ci air – karena beliau jualan air isi ulang dekat rumah) , ibu satu lingkungan yang selama di bus duduk dekat saya, teman mami juga, kami bergegas berjalan kaki menuju gedung gereja santa theresia yang digunakan untuk merayakan misa ekaristi bersama umat yang datang, ataupun yang sedang mengadakan rekoleksi atau retret dan juga bersama para biarawan dan biarawati karmelit yang berjubah coklat serta Romo yohanes indrakusuma yang memimpin misa nya. Untuk sampai keatas lumayan perjalanannya, tetapi bagi pengunjung atau umat yang tidak kuat berjalan jauh atau para orang tua yang renta , yang sakit sampai tidak bisa berjalan ada mobil khusus yang disediakan sampai di gereja.


Setelah menaiki beberapa anak tangga sampailah di pintu gerejanya. Alas kaki dilepaskan dan dimasukkan ke dalam kantong plastic yang sudah disediakan oleh petugasnya. Saya duduk di lantai yang sudah dialasi bantal kecil. Interior di dalam gereja ini sangat menarik dari lukisan kaca yang terdapat di atas altar dan disekeliling nya. Dibagian belakang terdapat bangku yang memanjang seperti yang ada di stadion bola. Tidak perlu pakai AC atau kipas angin karena memang tempatnya sudah dingin. Ada petugas OHP yang duduk paling atas sejajar dengan altar yang bertugas menampilakan tulisan dari lagu-lagu yang kami nyanyikan agar semua umat yang hadir dapat bernyanyi bersama. Sebelah kanan dari tempat saya duduk , di situ ada suster biara yang memimpin lagu pujian di damping koornya. Begitu pukul setengah sepuluh tepat , iring-iringan para imam diiringin lagu Ave Maria memasuki ruangan gereja. Paling terakhir dari iringan tersebut adalah Romo Yohanes Indrakusuma Ocarm yang akan memimpin misa ekaristi dan pada hari tersebut memperingati Bunda Maria diangkat ke surga.

Umat yang hadir tidak begitu banyak, hanya pengunjung seperti kami dan peserta retret. Tetapi mereka khusuk dan khidmat menjalani misa ekaristi pagi itu. Menjelang doa syukur agung entah kenapa hati saya bergetar dan ada kepasrahan yang dalam hingga membuat saya menangis. Ketika romo yohanes mengangkat roti dan anggur ,saya tidak hentinya mengeluarkan air mata hingga berlanjut ke dalam doa bapa kami. Kami bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu tersebut. Dilanjutkan persiapan batin untuk menerima komuni , saya siap untuk apapun yang akan Tuhan katakan melalui para imam atau biarawati ini. Selesai menerima hosti dan kembali ke tempat, saya berdoa dan merasakan aliran panas dibelakang leher saya. DIsitu saya pasrah dan mohon ampun serta membiarkan Dia berbicara. Seperti merasakan kontak batin, Romo Yohanes mengatakan dari atas altar “ Arahkanlah hatimu sungguh kepada Tuhan. Percaya apa yang kamu doakan , kamu sudah mendapatkannya.” Tambah menangislah saya dan tidak henti mengucapkan terima kasih. Setelah itu Romo Yohanes mulai mengatakan bahwa ia merasakan beberapa orang yang mengalami sakit disembuhkan Tuhan.

Setelah itu sakramen mahakudus dijalankan mengelilingi umat yang hadir. Saya tertegun ketika ada seorang imam mengatakan bahwa ada seorang ibu yang mengalami kepahitan terhadap suaminya. Ia diminta untuk memaafkan suaminya dan tekun berdoa untuk suaminya karena Tuhan akan menolongnya memperbaiki rumah tangganya. Kemudian ada seorang bapak yang sudah lama tidak mengikuti misa ekaristi dan terlibat dalam perdukunan. Bapak itu diminta bertobat dan kembali percaya kepada yesus. Ada yang disembuhkan dari pendarahan, ada yang sudah disembuhkan tetapi diingatkan untuk bersyukur karena kesembuhan itu datangnya karena kemurahan hati Allah. Saya hanya berdoa untuk semua keajaiban yang telah terjadi kepada mereka yang menerima rahmat Allah ini.


Begitu misa selesai , saya masih punya waktu untuk melihat tempat lembah karmel ini. Bagunan yang beratap hijau dan di halaman nya terdapat patung dari santa teresia. Lukisan kaca sisi kanan dan kiri adalah kedua belas rasul yang menjadi murid Yesus. Dan dibelakang beberapa lukisan dari kisah-kisah yang ada dialkitab. Kalau sebelum memasuki halaman gereja, ada prasasti besar di sebelah kiri itulah lambang dari ORDO ocarm. Rumah retret di sediakan banyak sekali. Mungkin untuk keluarga yang sedang retret atau pemulihan disediakan tempat disana.
Halamannya luas sekali. Jalan salib dari satu perhentian ke perhentian yang lain letaknya ada di sisi kanan halaman dari pintu masuk atau dari patung Yesus yang berwarna putih. Tidak jauh dari kolam , masih diarea halama gerejanya , tepatnya disebelah kanannya, ada tempat berdoa dan terdapat patung pieta , ibu maria menerima yesus yang diturunkan dari salib dipangkuannya. Kalau gua maria nya letaknya dekat aula lama. Disitu ada pancuran air yang bisa dibuat minum.

Halaman parkir yang disediakan juga cukup luas menampung bus besar atau kendaraan pribadi. Tetapi sewaktu kami datang dari pintu masuk menuju lembah karmel ada pungutan dari tukang ojek yang ada disitu untuk bus yang masuk atau keluar dari area lembah karmel. Saya memang tertarik dengan tempat ini dari awal saya ke sini seperti bertemu soulmate , klop saya di tempat ini. ( untuk kalangan sendiri )

DUFAN-Di Hari terakhir Discount Tiket masuk

Akhirnya tercapai juga keinginan kami untuk berkunjung ke dunia fantasi ( DUFAN ) yang terletak di ancol, di ujung utara kota Jakarta. Janjian sama katrin di halte depan kampus untar jam 10 pagi dan teman-teman yang lain seperti Irma juga Tata bersama dua orang temannya sudah berada di Ancol. Dengan naik motor , saya dan Katrin bergerak menuju Ancol untuk bergabung dengan teman-teman disana. Ternyata…. Penuuhh! Dari awal pintu masuk Ancol saja sudah dipenuhi dengan kendaraan motor, mobil atau taxi yang mengantri masuk. Kami dikenai harga tiket masuk ancol per orang Rp 10.000 dan untuk motor Rp 12.000 ...

Begitu masuk ke parkiran di depan pintu loket dufan sudah penuh parkirnya. Telpon Tata sepanjang jalan untuk pastiin dimana akan ketemuannya , karena dia sudah mengantri di dalam bersama temannya untuk kami berenam. Antriannya di depan loketnya saja sudah memanjang sampai ke jalan depar parkiran. Tidak pengaruh cuaca saat kami datang itu panas tetapi tetap saja pengunjung Dufan terus berdatangan sebab ada potongan harga tiket masuk dufan 50 % dari harga biasanya untuk weekly day yakni seharga Rp. 45.000 per orang dan tgl 18 Sepetember 2009 merupakan hari terakhir untuk masuk dengan potongan harga tersebut. Jadi bisa kebayang seperti apa penuhnya DUFAN …hmmm…

Tiket sudah dibeli tetapi Tata masih menunggu temannya lagi, untuk bersama-sama masuk ke arena DUFAN. Selama menunggu , saya, Irma dan Katrin berfoto ria di depan ucapan “selamat idul fitri” dengan latar dua symbol dari dunia fantasi. Dan akhirnya mereka datang bergabung dengan kami eeh ternyata ada rombongan temannya Tata , bergabunglah berpoto bersama. Selesai itu kami bergerak ke pintu masuk DUFAN untuk mendapat cap ditangan dan masuk dengan ID card yang kami terima setelah pembayaran diloket. Di dalam kami berpisah dengan Tata dan dua orang temannya. Karena mereka hendak makan sedangkan saya, Irma dan katrin mencari wahana yang bisa di masuki. Belum terlalu banyak orang , jadi kami sempat masuk ke Niagara-gara . Di tempat ini juga kami berkumpul dengan Tata dan teman-temannya. Pertama memang yang kami pilih adalah permainan basah.

Oh ya cerita dikit, sewaktu naik perahu di wahana Niagara-gara kan saya duduk paling depan. Kemudian perahu itu jalan mengikuti arus air memasuki lorong-lorong. Kaki saya sudah mulai terasa digenangi air. Begitu akan memasuki tanjakan , ada air mancur membasahi kami yang berada diperahu. Pelan-pelan perahu menaiki tanjakan , deg-deg an bener, yang tadinya saya berpegang pada ujung perahu mendekati puncak tanjakan , saya buru-buru mencari pegangan besi yang ada disisi dalam kiri dan kanan perahu. Begitu perahu meluncur tajam kebawah. Haha.. nyali saya jadi ciut..saya takut beneran.. tutup mata dan teriak sekenceng-kencengnya ..byuurrr… begitu selesai meluncur dan air masuk ke mulut saya. Ada rasa yang mengecil di jantung saya begitu masuk ke perhentian terakhir dan saya terasa lemas begitu keluar dari perahu... ternyata saya penakut hehe….

Selesai dari Niagara-gara, kami bergerak ke arena arung jeram. Antri panjang sekali, tetapi belum terlalu padat. Untuk wahana halilintar waahh sudah seperti ular naga panjangnya.. peminatnya banyak belum lagi Extreme log , semakin siang pengunjung mulai padat. Mendekati jembatan kecil untuk masuk ke arung jeram, saya masukan semua camera, HP dan titipan teman ke dalam tas. Kami berenam ada di dalam satu tempat. Pasang seatbelt dan mulai meluncur mengikuti arus air. Posisi duduk saya paling aman karena tidak sampai basah kuyup seperti teman-teman yang lain. Seneng pingin siih cobain berulang-ulang sampai basah kuyup tetapi antrinya itu uugghhh gak sanggup deh. Selesai dari arung jeram, saya mulai terasa lapar dan perut saya juga berbunyi …

Katrin yang sedang puasa mencari tempat sholat dan kami berlima mencari makan. Duuh senang rasanya diisi makanan dan tenggorokan seger sedikit disiram air es jeruk. Selesai makan kami mencari Katrin, karena Hpnya masih di dalam tas saya sedangkan lokasi makan kami pindah . Tapi untunglah kami dapat menemukannya.

Ketika kami akan berniat untuk ke istana boneka ternyata antrian sudah panjang sekali. Dan arena wahana yang lain juga sudah mulai berjubel dipenuhi antrian. Kami masuk ke dalam rumah kaca. Kiri kanannya penuh kaca dan hati-hati mencari jalan keluarnya. Saya mengikuti saja orang yang ada di depan saya. Karena saya sendiri tidak tau bisa muter-muter di dalam hehe.. Keluar dari situ kami ke rumah miring. Begitu masuk lantainya miring dan perkakas yang ada di dalamnya juga. Dari rumah miring kami menuju balada kera. Theater boneka kera yang di dalamnya di suguhi lagu-lagu. Ada lagu daerah, lagu seriosa, dan lagu santai yang penuh jenaka. Seperti nonton bioskop hanya layarnya dirubah menjadi boneka kera yang besar-besar memegang alat-alat music dan bangku-bangku yang ada di dalamnya bangku kayu yang memanjang dari kiri ke kanan. Ruangannya pun ber AC dan redup cahaya.

Sudah lelah berputar-putar mencari arena permainan mana lagi yang bisa dimasuki dan ternyata penuh dengan antrian. Sempat antri di Extreme log tetapi akhirnya menyerah dari antrian. Waktunya juga sudah sore , Katrin mau buka puasa dan saya juga ada janji lagi bertemu dengan teman saya di cengkareng. Akhirnya kami memutuskan berpisah, saya diantar katrin sampai citraland dan dia melanjutkan perjalanan lagi ke rumahnya.

Jkt, 18 sept 2009
Veronica_setiawati@yahoo.com

Monday, September 14, 2009

Jelajah kota tua –Ngabuburit ke kampoeng arab pekojan

Bersama komunitas jelajah budaya, kali ini tujuannya adalah menjelajah mesjid-mesjid tua yang ada di daerah pekojan. Minggu sore tgl 06 Sept 09 , pukul 15.00 wib kami berkumpul di museum bank mandiri untuk registrasi dan pembagian kelompok. Setelah itu kami yang tergabung dalam kelompok kampung bandan, padahal saya ini seharusnya di kelompok kampung bali , karena bertemu dengan teman-teman dari team garuda saya bergabung dengan mereka, bergerak menuju pasar pagi lama. Di ceritakan di sana ada terdapat dua pintu sebagai akses menuju pasar pagi ini. Pertama pintu besar yang digunakan oleh para pejabat belanda atau orang-orang penting pada waktu itu, kedua adalah pintu kecil yang digunakan oleh rakyat biasa atau kaum menengah ke bawah. Di ceritakan juga dahulu itu ada tram yang melintasi daerah pasar pagi lama ini menuju jatinegara. Mungkin jika digali kembali tanah aspal sepanjang jalan dari pasar pagi sampai jatinegara ada ditemukan lintasan tram tersebut ya hehe..

Berdasarkan contekan dari synopsis yang dibagikan sewaktu registrasi neh , nama Pekojan berasal dari kata khoja yang berasal dari suatu nama daerah di India yang sebagian masyarakatnya bermatapencarian pedagang atau saudagar dan beragama Islam. Di situ dijelaskan juga bahwa sebelum di huni oleh etnis Arab dari Hadramaut , Pekojan telah lebih dulu menjadi kediaman orang-orang Bengali/Koja dari India. Karena waktu jaman VOC berkuasa di Batavia diberlakukan pengelompokan wilayah berdasarkan etnis masing-masing, makanya di Batavia pada waktu itu dan mungkin sampai sekarang ada di tempat namanya kampung Melayu, Banda, Jawa, dan lain-lain. Nama-nama kampung tersebutlah yang dipakai oleh Komunitas Jelajah Budaya ini untuk mengelompokkan pesertanya.. hmm oo gitu ya… jadi ngerti deh :))

Perjalanan diawali menuju mesjid Al Anshor yang ada di salah satu gang atau jalan pengukiran III dan juga merupakan salah satu cagar budaya yang harus dilindungi. Sewaktu datang ke sana mesjid ini sedang di renovasi tetapi struktur bangunan aslinya masih nampak terlihat di dalam mesjidnya. Menurut cerita Mesid ini dulunya adalah sebuah surau dibangun pada tahun 1648M. DIbelakang mesjid terdapat tiga makam orang India yang kemungkinan pendiri mesjid tersebut. Di mesjid ini banyak para peserta yang melaksanakan sholat azhar sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan dilanjutkan kembali melewati jalan perumahan yang sedang diperbaiki, ,menuju tempat berdiarinya Jami’atul Khair atau biasa di sebut mesjid Ar-Raudah letaknya ada di jalan pekojan II. Bagunannya unik dan sederhana terbalut warna putih dan hijau muda. Menurut synopsis, pada awal abad ke-20 atau sekitar tahun 1901, di Pekojan berdiri sebuah madrasah Jamiatul Khair ( perkumpulan kebaikan ) yang dibentuk oleh Ali dan Idrus, keduanya dari keluarga Shahab. Pada tahun 1903 mengajukan permohonan untuk diakui sebagai organisasi, namun pada tahun 1905 baru dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan dari tempat ini , diperkirakan timbul ide para pemuda islam untuk membentuk organisasi lainnya seperti organisasi budi utomo yang berdiri tahun 1908.

TIdak jauh dari Mesjid Ar-Raudah terdapat mesjid yang besar dan luas, bisa sejenak beristirahat kalau menurut saya, adalah mesjid An-Nawier letaknya di jalan pekojan raya no. 71 . Mesjid ini punya menara yang cukup tinggi mencapai 17 meter, merupakan tempat persembunyian para pejuang pada waktu perang kemerdekaan. Kemudian pada bagian belakang mesjid terdapat makam Syarifah Fatmah binti Husein Alaydrus yang mendapat julukan “Jide” ( nenek kecil ). Di bagian dalam mesjidnya terdapat 33 pilar yang berdiri kokoh di ruangan sholat dan tempat mimbar / syiar nya juga unik, dijelaskan tempat mimbar ini merupakan hadiah dari Sultan Pontianak.

Ada hal yang menarik lagi yaitu jembatan kambing, menurut warga Pekojan kambing-kambing yang akan dibawa ke tempat pejagalan untuk dipotong terlebih dahulu melewati jembatan yang terletak di kali Angke itu untuk dibawa ke tempat pejagalan. Hingga kini nama Pejagalan masih menjadi nama jalan di dekat Pekojan.

Dekat ujung jalan , atau tepatnya di jalan pekojan raya no 17 ada sebuah Mesjid Langgar Tinggi. Dibangun pada tahun 1829, berlantai dua dan merupakan salah satu cagar budaya yang harus dilindungi juga.Perjalanan berakhir di mesjid ini, dan kami kembali menuju museum bank mandiri untuk bersama-sama berbuka puasa. Melewati jalan layang melihat pemandangan jalan dari pasar pagi dibawahnya. Ternyata dari jalan layang ini , bisa dilihat atap-atap rumah yang ada di sisi jalan pasar pagi lama itu masih merupakan banguna tua.

Begitulah perjalanan jelajah kota tua kali ini… di museum bank mandiri, berbuka puasa dan sebelum pulang pastinya bernarsis ria hehe..

Salam budaya untuk indonesia,
Veronica Setiawati
Jkt, 13 sept 09
“Selamat Hari Raya Idul Fitri - Mohon maaf lahir dan batin”

Saturday, July 25, 2009

Bermalam di Purwakarta

Sabtu siang dari daerah Balaraja dengan bus jemputan karyawan yang akan menuju Bandung, aku ikut bersama mereka menuju purwakarta. Ada acara pernikahan salah satu rekan kerja. Perjalanan panjang dengan bus AC membuatku mengantuk apalagi perjalanan cukup lama melewati tol dalam kota menuju cipularang dan keluar di tol jatiluhur. Sampai di tempat kurang lebih pkl 5 sore. Pemandangan menuju rumah kediamannya sangat indah… teman-teman yang lain asik bicara kalau aku asik dengan pemandangan diluar mobil angkot yang membawa kami ke rumah temanku yang akan menikah esok harinya.

Aku senang ketika sampai ditempat. Bertemu dengan teman yang akan menikah beserta saudara-saudaranya. Aku senang dengan kolam ikan yang ada dipelataran rumahnya, kedalamannya kurang lebih sedada orang dewasa. Ada macam-macam ikan yang ada di situ ada gurame juga ikan mas. Kolamnya airnya agak keruh karena belum dikuras. Hehe.. untungnya aku tidak jadi nyebur ... angin sore menambah sejuk tempat yang aku dan teman-teman kantor duduk – duduk sambil mencoba untuk memancing. Sayang , tidak ada umpan yang bagus untuk dipakai , masa’ pisang yang jadi umpan, mana ikannya mau hehehe…

Setelah kami disuguhi makanan , aku ditemani Asep , nama temanku yang akan menikah ini ke rumah yang dibawah untuk numpang mandi. Hehehe… kaget begitu masuk kamar mandi dibelakang mendengar suara musuh bebuyutan aku, yakni soang hehehe… suara cemprengnya itu loh hapal banget. Selesai mandi tanya asep ternyata benar ada piaraan soang dibelakang. Ya ampun udah lama menghilang darinya eehhh ketemuan lagi.. dasar jodoh… setelah itu saya kembali lagi ke rumah dimana teman-teman berkumpul.. hmmm… aku perempuan sendiri yang hadir karena tiba-tiba yang lain mengundurkan diri begitu akan berangkat. Tetapi aku nikmatin aja karena memang sudah siap dengan peralatan mau pergi menyepi ke purwakarta menghadiri pernikahan teman kantor.

Menjelang isya atau sekitar pkl 7 malam, karena begitu banyak bapak-bapak yang datang untuk sholat di mesjid di depan kolam letaknya. Teman-teman yang ikut serta dari balaraja pamit untuk pulang ke bandung. Yaahh aku ditinggal di tempat Asep neh.. tapi gak sendirian sih masih ada beberapa teman yang lain tetapi mereka menginapnya cukup jauh dan akhirnya aku tidur dirumah dimana aku numpang mandi tadi sore.. hehe.. lumayan tidur malem nyenyak juga walaupun dirumah orang. Tetapi tetap harus bangun pagi untuk acara akad nikah temanku yang jadwalnya jam 7 pagi menuju pasawahan tempat berlangsungnya acara… lelah hari sabtu akhirnya dapat diistirahatkan malam itu…

Paginya mandi dan sempatin diri jalan-jalan disekitar rumah, foto-foto cahaya pagi dengan sinar keemasannya yang indah yang muncul dari balik bukit dan menyinari area sawah.. duuh benar-benar enak tempatnya jadi inget masa kecil di kampung mbah. Eeehh ketemulah dengan musuhku.. uuuhhh dasar aku mau siap untuk poto itu kepala malah menunduk napsu amat pengen nyosor aku… sebel… Dan aku juga masih tetap takut … aaahhh kapan ya bisa hilang neh trauma.. sebel padahal udah berhadapan dengannya harusnya bisa disembuhkan… akhirnya dapat juga potonya tapi mungkin posenya kurang bagus.. itu aja udah cukup deh daripada akhirnya tuh soang nekat ngejar-ngejar aku malah bikin repot yang punya rumah hehe…
Jam 7 aku bertemu dengan keluarga Asep yang sudah siap dengan segala macam keperluannya.. Ada beberapa macam seserahan yang akan dibawa sperti tas, alat-alat make up, sepatu, selimut yang dibungkus dalam bentuk angsa, pakaian dalam, waah macem-macem deh..iseng-iseng aku poto aja hihihi… trus liat Asep udah pakai kemeja putih , celana hitam trus pasang dasi terakhir pakai jas hitam waaahhh keren banget beda deh dengan dikantor …tapi agak tegang siihh... Padahal semalam bilang ma aku dia sudah hapalin ijab kabulnya hehe… Setengah delapan kami bergerak dengan konvoi motor dan beberapa mobil menuju tempat akad nikahnya.

Perjalanan cukup setengah jam melewati jalan raya dari kabupaten purwakarta ini. Melewati pasar rebo, rel kereta dan sampailah dibalai desa pasawahan. Disana sudah ramai dengan orang-orang yang akan melihat acara akad nikah ini. Aku tidak ikut masuk karena orang sudah penuh di dalam, tetapi untunglah ada teman yang mau mengabadikannya lewat kameraku acara akad nikah ini. Prosesinya panjang. Sambutan dalam bahasa sunda lama sekali. Setelah itu baru dimulai akadnya. Aku juga tau inikan acara yang sacral wajarlah kalau Asep tegang sampai ijab kabulnya dua kali dibacakan hehe… tetapi untunglah akhirnya SAH menurut Negara dan agama Islam.. amiinnn … resmilah mereka menjadi pasangan suami istri… Pada acara itu ada pak agus, senior dari team marketing dalam menghadiri. Mulailah kami masuk ke dalam untuk menyantap hidangan. Tapi aku berbelok ke tempat dimana Asep dan istrinya hehe.. pengen poto dengan mereka soalanya biar ketularan cepet nikah juga hehehe… akhirnya dapat poto juga tetapi pendampingku malah pak agus hehehe…

Kemudian setelah makan, ada acara apa ya seperti wejangan untuk pengantin barangkali ya dengan bahasa sunda yang dinyanyikan gitu oleh seorang ibu. Dan temanku ini duduk satu sofa dengan istrinya dihadapannya. Cukup lama acaranya itu dan ditutup dengan sawer uang receh beserta beras mungkin ya warnanya kuning , yang kemudian orang-orang yang ada disekitarnya , ibu-ibu atau anak-anak itu berebutan mengambil uang recehan yang di lemparkan… seru banget. Setelah itu temanku dan istrinya kembali dipajang di dalam aula balai desa untuk menerima para tamu. Dan … acara selanjutnya adalah organ tunggal dengan 3 orang penyanyi yang siap disawer dengan lagu-lagu yang mereka bawakan atau atas permintaan para penonton. Heran , aku seperti terhipnotis melihat pertunjukan hiburan seperti ini hehe..

Menjelang siang datanglah dua orang teman dari team marketing lainnya. Waahhh senang banget akhirnya mereka datang karena aku bisa pulang bareng dengan mereka naik mobil.. kalau tadinya mereka tidak datang.. aduuh aku bisa ikut pak tikno sampai kampung rambutan naik bis huhuhu… pukul 2 siang kami pamit pulang menuju Jakarta dengan Asep yang sudah berganti pakaian adat sunda berwarna merah lengkap hehe..

Aku juga harus berterima kasih neh untuk teman-teman yang mau memenuhi keinginan ku ke jatiluhur. Padahal aku pikir ya udahlah pulang aja tetapi mereka mau mengabulkannya melihat aku sudah siap bawa kamera dan pengen liat jatiluhur, daripada aku jadi bengong dikantor karena belum terpenuhi melihat jatiluhur hehehe…. Makasih… makasih…. Akhirnya aku bisa lihat jatiluhur… Sampai Jakarta sekitar pkl 16.30 ketika aku turun di grogol dan melanjutkan naik kopaja untuk sampai ke cengkareng… weekend yang menyenangkan. Pengalaman yang seru dan baru…

Di tempat yang sunyi itu aku bisa merasakan betapa indahnya bersatu dengan alam… dan tau gak malam dipurwakarta gak ada nyamuk hehehehe….

Purwakarta, 11-12 Juli 2009
Veronica Setiawati

Monday, June 08, 2009

Jelajah kota toea - passer baru 1820

Foto-foto bisa dilihat di :http://g1g1kel1nc1.multiply.com/photos/album/82
-----------
Jalan bersama komunitas jelajah budaya lagi. Pertama sewaktu acara cap go meh in china town , kedua waktu acara jelajah gudang panggung dan inilah yang ke tiga ke passer baru..



Pukul 08.30 tiba di pelataran pintu utama museum bank mandiri, ternyata sudah bersiap untuk meninggalkan museum bank mandiri menuju stasiun kota. Untunglah Ida dan temannya rani masih di sana jadi saya masih sempat bertemu mereka bergabung dalam kelompok Pasar Tanabang. Setelah poto bersama, kami menuju lorong bawah tanah yang ada di depan museum untuk menuju stasiun kota tuk naik kereta ekonomi menuju stasiun juanda. Bersama pemandunya yang bernama Intan ( kalau tidak salah neh hehe,,) kami menuju gerbong kereta yang paling depan, berkumpul bersama dengan para peserta yang lain. Menurut data terakhir neh ada 200 orang yang sudah mendaftar. Pantes lumayan penuh hehe..



Di stasiun juanda kami berkumpul bersama kelompok kami masing-masing yang terdiri dari nama-nama pasar yang ada dijakarta menarik sekali seperti pasar minggu, pasar senen, pasar rebo dll. Dari stasiun ini kami berjalan menuju jalan pintu air besar. Namanya diambil dari pintu air yang ada diseberang jalan yang dekat masjid istiqal itu. Di sepanjang jalan menuju jalan antara ada bangunan tua yang menarik . Kemudian kami melewati jalan antara dan menyebrang jalan menuju kantor pos lama yang ada di pasar baru atau yang disebut Kantor Pos dan Filateli Jakarta. Di jaman sms dan internet ternyata kantor pos ini masih berdiri untuk melayani masyarakat dalam surat menyurat. Atau mungkin sekedar mengoleksi benda-benda pos lainnya seperti prangko masih terdapat disini, luar biasa. Mungkin budaya tulis menulis surat bisa dihidupkan lagi yaa atau kirim-kirim surat di kartu ucapan duuhhh kapan ya ada lagi seperti itu…



Dari sini perjalanan dilanjutkan menuju Gedung Kesenian Jakarta ( GKJ). Bangunan dengan pilar-pilar yang tinggi ini benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai sebuah gedung kesenian dan budaya. Dulunya sebelum GKJ ini semegah ini ternyata terbuat dari dinding kayu dan bambu dengan atap dari rumbia. Pernah juga dipakai sebagai tempat siding anggota KNIP (Komunitas Nasional Indonesia Pusat). Bahkan tahun 1951 juga dipakai untuk kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum UI. Kemudian oleh gubernur DKI R. Soeprapto diresmikan menjadi Gedung Kesenian Jakarta. Saya pernah sekali masuk kedalam untuk menonton pertunjukan teater . Di dalam ber-AC yang pasti , kemudian panggung pertunjukkannya luas dan dekat dengan kursi penonton. Kamudian ada balkon di sayap kanan , kiri dan tengah , yang dipakai juga untuk menonton pertunjukkan. Jauh beda dengan nonton bioskop karena suara dan tata panggung , dialog para pemain dapat dirasakan langsung mereka yang nonton.. Hanya sayangnya kami tidak dapat memasuki gedung kesenian ini pada acara ini. Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali menuju pasar baru. Menyebrang melewati pasar lukisan disepanjang jalan menuju jembatan penyebrangan. Melihat lukian rasanya pengen wajahku dilukis hehehe…



Sampai di depan gerbang pasar baru, kami menuju jalan antara. Disitu ada sebuah gedung yang dulunya pernah digunakan sebagai tempat untuk menyiarkan Text proklamasi melalui radio. Begitu kaki memasuki gedung ini disajikan beberapa hasil karya fotografi anak bangsa yang mengagumkan saya. Keren deh .. jadi seneng berlama-lama disini. Naik ke atas kami juga melihat beberapa peninggalan tempo dulu yang pernah digunakan para jurnalistik kantor antara untuk mengembangkan dunia jurnalistik yang juga dipakai untuk perjuangan merebut kemerdekaan. Beberapa koleksi foto dan barang-barang tempo dulu yang sangat menarik dan masih terawat.Tidak bisa berlama-lama disini , perjalanan dilanjutkan memasuki pasar baru. Kami menuju sebuah bangunan kuno diantara toko-toko yang ada di pasar baru. Namanya toko kompak. Selama ke pasar baru saya tidak pernah menyangka bahwa disini ada bangunan bersejarah juga. Bangunan yang masih asli ini merupakan tempat kediaman Major China bernama Tio Tek Ho. Selain sebagai tempat tinggal dan berjualan , rumah ini sangat berarti karena yang tinggal disini adalah seorang pemimpin bagi etnis Tionghoa. Hanya kami tidak dapat masuk kedalam, karena toko ini tutup kalau hari minggu. Menurut tour guide dari kelompok yang lain, dia mengatakan bahwa rumah tersebut cukup luas dan seperti ruangan auditourium…



Mungkin diantara kita yang pernah berkunjung ke pasar baru tidak pernah mengetahui bahwa di antara bangunan to dipasar baru, ada sebuah gang yang kecil bernama gang kelinci, dan mungkin nama bakmi gang kelinci itu muncul pertama dari tempat ini yaaa hehehe… juga lagu tempo dulu jaman orang tua yang judulnya Gang Kelinci yang dibawakan oleh ibu lilis suryani. Kami menyusuri gang kelinci ini dan sampailah di sebuah wihara namanya Sin Tek Bio, yang dulunya digunakan sejak tahun 1698 oleh petani-petani tionghoa disekitar pasar baru dan mempunyai halaman yang cukup luas. Sayang sejak perkembangan bangunan pasar baru, kelenteng/wihara ini letaknya semakin dipedalaman padat penduduk.



Dari gang kelinci menyusuri jalan raya menuju tempat akhir perjalanan jelajah kota tua yakni Gereja Ayam atau nama bekennya Haantjes Kerk atau namanya GPiB Pniel ( Gereja Prostestan di Indonesia bagian barat). Bangunan gereja ini unik sekali. DI pucuk atap paling tinggi diantara pilarnya ada penunjuk arah mata angin yang memakai symbol ayam. Begitu juga jika kita memasuki ruangan di dalam gereja, ada lukisan kaca bergambar ayam disana. Didepannya ada tangga kecil menuju mimbar dan didepan mimbar ada altar kecil dan kotak persembahan. Disini perjalanan kami berakhir, bersama para peserta kami berkumpul dihalaman gereja yang mengadakan acara kuis dari perjalanan yang telah dilalui.



Jelajah kota tua-passer baroe 7 juni 2009, sampai berjumpa lagi di acara jelajah kota tua berikutnya…



Agenda th. 2009 jelajah komunitas budaya :

Minggu, 21 Juni 2009 The big Five Museum

Minggu , 5 Juli 2009 Rumah si Pitung & Kampoeng Toegoe

Minggu, 2 Agustus 2009 Niew Gondangdia – Menteng

Minggu, 6 September 2009 Ngabuburit ke Kampoeng Arab

Sabtu , 10 Oktober 2009 Nighttime journey at Museum

Minggu, 1 Nopember 2009 Molenvliet

Minggu , 6 Desember 2009 Kampoeng Angke



Time : pkl 07.00 wib starting point museum bank mandiri

Kecuali hari sabtu Sabtu , 10 Oktober 2009 pkl 18.30



* Keterangan lebih lanjut hub : Komunitas Jelajah Budaya

Telp 021 – 99700131 / 08179940173

Milist : jelajahkotatua@yahoogroups.com

Website : http://jelajahbudaya.blogspot.com/

Monday, May 25, 2009

Akhirnya beliau pergi………… ( my lovely dad )

Song : Pulang ke hatimu-Shera (ost 9naga)
Telah letih langkahku dan terasa berat
Cukup banyak kesalahan ku buat
Dimimpiku kudengar bunyi suaramu yang memanggilku pulang ke dalam hatimu
Karena hanyalah hatimu rumah terindah
Ku kan pulang tunggu aku di depan pintumu
Cintamu padaku tuntun jalanku
Telah letih jalanku dan terasa berat ku kan pulang ke hatimu rumah terindah…
Ku pulang ke hatimu rumah terindah…

Album Foto :
http://g1g1kel1nc1.multiply.com/photos/album/34/My_Father_in_memoriam..._Rest_In_Peace

Kampung halaman bapak , di timor adalah hal yang mustahil untuk saya kunjungi. Sedari kecil saya hanya tau kampung halaman mama di Kediri jawa timur sana. Tetapi berita dari timor memaksa saya dan adek saya , luan, terbang ke sana. Dengan memakai Batavia air yang waktu itu Oktober 2004 masih sekitar 700 rb per orang ke kupang. Berangkatlah saya ke Bandara Eltari dengan transit sebelumnya di Surabaya.

Selama bapak, mama dan adek saya , maria, berada di pulau komodo tersebut, saya tidak pernah mendapat kabar apapun. Sepertinya telekomunikasi sulit sekali terjangkau disana. Terakhir dapat kabar dari maria kalau mereka sudah sampai di kupang dan sedang menginap di hotel sasando. Sudah itu hilang lenyap tidak ada kabar. Saya kan jadi gelisah pengen tau kabarnya dan ceritanya bagaimana. Tiba-tiba saya dapat kabar dari rumah sakit halilulik bapak saya masuk rumah sakit. Ya ampun Tuhan… koq bisa … saya sedih sekali mana mau hubungi ke sana susahnya minta ampun, harus nunggu mama atau maria telp ke rumah kasih kabar selanjutnya lewat telp rumah sakit yang menggunakan satelit.

Shubuh terima kabar lagi. Bapak koma. Dan mama meminta saya membawa jas yang dipakai sewaktu saya wisuda lengkap beserta dasi dan celana panjangnya. Waduuh , saya jadi curiga ada yang ngga beres neh. Trus mama mau bicara dengan kakak alo. Saudara dari bapak yang menginap di rumah bersama istrinya selama mereka pergi ke timor. Saya menurut aja, mama bilang bapak baik-baik aja begitu juga maria, tetapi hati saya menangkap yang lain perasaan tidak enak dan apalagi melihat kakak alo menangis di telp. Dan bicara pakai bahasa teun yang tidak saya mengerti. Ada apa pikir saya? Bapak kenapa?

Selama perjalanan entah kenapa mata saya menangis. Baju ganti bawa seadanya. Ijin lewat kantor mau ke timor karena orangtua sakit parah. Bersama Luan dibandara seperti dua orang anak hilang. Karena kami belum pernah melakukan perjalanan yang jauh naik pesawat pula. Was-was siapa yang akan menjemput kami di tempat yang belum kami kenal sama sekali. Tetapi kakak alo udah hubungi kerabat keluarganya disana untuk menjemput kami dibandara eltari , sekali lagi kami hanya jalani aja perjalanan ini karena kamipun juga tidak kenal dengan orang yang akan menjemput kami…

Sampai di kupang pkl 7 malam wit. Dari luar sudah ada orang yang melambai-lambaikan tangannya. Berteriak nama saya hehe.. setelah urusan tas selesai saya dan luan menghampiri orang itu dan benar ternyata dialah yang menjemput saya, namanya pak Timo bersama anaknya laki-laki. Setelah menghubungi rumah memberitahukan kakak alo bahwa kami sudah sampai , perjalanan malam itu dilanjutkan ke terminal bis Oebobo. Tetapi perjalanan ke terminal dari bandara itu naik mobil tentara hehehe…maklum deh penjemput kami itu seorang tentara hehehe…

Bis yang akan kami naiki yang pertama menuju atambua sudah jalan, dan menanti selanjutnya tetapi masih menunggu penumpang yang lain dari pelabuhan katanya. Dan itu jam 11 malam baru berangkat. Sambil menunggu , saya dan adek saya mencari makanan. Satu persatu, penumpang dari pelabuhan datang dengan barang-barangnya besar. Entah dari mana mereka saya tidak tau. Akhirnya perjalanan dimulai. Jalannya menanjak, kuat ya neh bus melewati jalan yang menanjak hehehe…

Sepanjang perjalanan melihat suasana timor menyenangkan banget. Gak nyangka bisa juga sampai di kampung halaman bapak. Turun disitu saya pikir sudah sampai. Pagi hari sampailah di halilulik. Ternyata masih naik ojeg lagi kedalam ke perikanan kalau menuju ke rumah pakde atau bapak besar atau Ama Bot dalam bahasa timornya. Ternyata kami dibawa ke rumah sakit halilulik. Sebuah komplek gereja juga ada rumah sakit kecil dan biara. Turun dari ojeg saya langsung berlari ke tiap kamar mencari bapak saya. Berharap saya masih bertemu dengan beliau atau keluarga saya. Tetapi hanya suster yang keluar dan dia tidak berani menatap saya begitu saya tanya dimana bapak saya, apalagi begitu tau saya dan adek saya jauh-jauh dari Jakarta . Suster itu hanya menjawab sudah dibawa pulang. Saya pikir itu adalah jawaban sembuh untuk bapak saya. Trus saya tanya keadaannya bagaimana? Suster itu hanya menjawab , bisa dilihat nanti di rumah. Bener-bener mencurigakan , aneh..

Kemudian, dari rumah sakit halilulik kami berjalan lagi. Bertemu dengan kak Dora istri alm. Kak Yakob yang dulu pernah ke Jakarta. Seneng aja bisa ketemuan lagi bersama keluarganya. Kemudian ketika akan naik ojeg untuk kerumah pakde, ada keluarga dari pak camat yang memanggil dan meminta kami singgah. Saya kesel , bertele-tele banget sih , gak tau apa saya datang jauh-jauh mau ketemu bapak. Saya pingin ketemu bapak bukan singgah gak jelas macam beginian. Saya gak tahan saya beranikan diri aja untuk bicara dan akhirnya mereka pun bersedia mengantar saya pakai mobilnya ke rumah pakde.

Hati saya seneng akan bertemu bapak dan banyak yang akan saya ceritakan nanti kalau ketemu. Begitu mobil berhenti didepan perikanan rumah pakde, banyak orang berkumpul disana. Aaah.. saya pikir karena saya mau datang jadi rame hehe... Saya lihat maria berlari kea rah saya dan memeluk saya sambil menangis. Looh ada apa neh.. trus mama juga, saya masih berpikiran beginilah kalau orang kangen hehe.. dan saya masih senyum – senyum aja. Palagi mama bilang, lihat bapak didalam. Tapi saya merasa aneh, biasanya kalau saya datang , bapak pasti berdiri di depan pintu tungguin saya. Tetapi ini gak keluar dan saya berpikir beliau menunggu saya didalam bikin kejutan kedatangan saya. Karena beliau selalu begitu. Saya berlari masuk ke dalam dan ternyata yang saya lihat adalah peti mati lalu di dalamnya ?? bapak ?? koq bisa? Saya tidak bisa bicara , diam sampai semua orang datang mengelilingi saya.

Saya sudah tidak melihat siapa-siapa saudara, mereka memandangi saya lekat-lekat. Mungkin heran kenapa saya tidak menangis. Atau mereka kangen karena selama ini hanya bicara lewat sebuah tulisan yang sangat panjang seperti kertas Koran. Disitu saya baru tau satu persatu wajah-wajah saudara bapak saya. Mereka saudara tiri dan hanya dari bapak sajalah yang mempunyai keturunan. Adek tiri bapak yang perempuan tidak menikah, kakak tirinya menikah tapi tidak memiliki anak. Tidak lama mulai berdatangan satu persatu orang yang entah dari mana. Menangisi bapak saya, bersenandung kemudian mememegang petinya entah berdoa atau bicara apa, sambil kunyah sirih.

Ketika sore, ada rombongan perempuan entah dari mana, mungkin dari sekolahan. Mereka membawa bunga yang terbuat dari kertas kemudian ada tulisan puisi untuk bapak , “kenapa bapak tinggalkan saya? “ Aduuuhhh… baca itu saya langsung menangis. Berdoa bersama mereka sambil menangis gak berhenti, untung aja disertai hujan lebat jadi suaraku tidak kedengaran. Saya merasa sedih. Di timor mungkin saya belum merasakannya , tetapi ketika saya tiba dijakarta saya pasti merasa kosong. Malamnya saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Banyak orang bergadang di rumah pakde. Dan saya hanya duduk terdiam di depan peti. Hanya diam…

Besok pagi, saya didandani dengan kain timor, maria dan luan juga. Ternyata ada misa requem, atau misa untuk melepas jenasah. Aku tidak bisa mengikuti dengan khusuk, entah kenapa aku sangat tidak tertarik dengan semua hal ini. Selesai misa, mereka semua mempersiapkan penguburannya di desa kelahiran bapak dan musti naik ke atas gunung. Dengan naik truk untuk membawa peti jenasah , saya mengikuti sampai ke atas ke desa bekatoruik. Cantik desanya dan alamnya. Masih asri dan belum ada penerangan. Rumahnyapun masih alami dan memang ada beberapa yang sudah di tembok. Tapi di rumah tante vic, adek tirinya bapak semuanya masih alami. Tante ini sangat mirip mukanya dengan luan hehe.. mungkin orang menyangka luan ini adalah anaknya tante hehe…

Disana, orang sudah penuh. Tenda juga sudah terpasang. Dihalaman rumah digelar tiker untuk orang-orang disana yang datang. Perempuan-perempuan tua menangisi peti jenasah bapak yang sudah tertutup. Serasa bapak itu sudah jadi milik mereka. Mereka menangisi sepuasnya sambil bersenandung. Beberapa orang sibuk mencari perhelatan untuk acara pelepasan sebelum penguburan. Riwayat hidup bapak disiapakan untuk dibacakan. Sekali lagi, sangat bertele-tele dan terlalu banyak omongan. Heran mereka terlalu banyak bicara padahal hari sudah semakin sore. Akhirnya acaranya dimulai juga pkl 3 sore. Dibacakan semua riwayat bapak oleh salah seorang guru disana. Kami sekeluarga (mama. Saya. Maria dan luan) ditemani oleh istrinya pakde berjejer di depan peti jenasah.

Entah berapa orang membawa peti jenasah bapak sampai ke tempat pemakaman. Jalannya berbatu. Menurut cerita, letak makam bapak itu persis ditempat bapak berdiri sewaktu nyekar ke makam ibunya. Ibadat singkat di tempat makam. Saya tidak bisa bicara sedikitpun, ada rasa marah didalam hati. Saya benci dengan semua ini. Rasanya saya tidak bisa terima melihat peti diturunkan. Entah kenapa saya merasa sangat kehilangan. Saya tidak menyangka kalau perjalanan jauh saya hanya membawa saya untuk kehilangan seorang ayah yang tidak bisa saya lihat lagi selamanya!!

Saya hanya semalam dirumah tante. Tidak ada lampu kecuali pakai lampu petromax. Disini juga sulit air, kalau mau mandi jauh jalannya. Ada kamar mandi, tetapi kalau air tidak ada bagaimana. Pikiran saya ingin pulang ke Jakarta. Berunding dengan mama dan adek-adek untuk pulang kejakarta. Akhirnya maria memutuskan yang membelikan tiket pulang naik pesawat dan mereka pulang naik kapal laut. Besoknya kami sekeluarga masih mengunjungi betun. Sebab ada penutupan bulan maria di gua maria betun. Betun perbatasan antara timor leste dan Indonesia. Tidak jauh dari gua maria ada pasukan biru-biru menjaga perbatasan. Sepanjang perjalanan ke betun, saya juga melihat rumah-rumah yang digunakan para pengungsi timor-timur sewaktu referendum. Kasian ngeliatnya. Cukup jauh perjalanan ke betun. Pengunjung misa penutupan ini juga sangat banyak. Gua marianya besar dengan patung bunda maria yang tinggi putih. Tarian timor membuka misa penutupan bulan oktober dengan meriah. Selesai acara untunglah kami mendapat mobil angkot karena biasanya mereka yang dari betun belum tentu akan mendapatkan kendaraan , bisa-bisa menginap disana. Huh untung aja kalau tidak tiket pesawat saya bisa hangus hehe.. thanks God.

Esok malam, setelah berdoa bersama saya berangkat menuju kota kupang ditemani anaknya pak camat dan maria juga ponakannya pakde, naik mobil jemputan tentara. Di kefa kami berhenti. Disitu sinyal masuk. Selama di tempat pakde dan diatas gunung tidak ada sama sekali sinyal. Dari situ ada sms dan telp dari orang-orang kantor dan temen-temen tanya kabar. Saya cerita kepada mereka hal yang sebenarnya terjadi dan minta maaf karena tidak bisa mengabari terutama yang dari kantor. Setelah itu perjalanan lanjut menuju rumah salah satu keluarga pak camat di kupang. Menginap sampai besok pagi untuk melanjutkan perjalanan ke bandara.

Berangkat kalau gak salah jam 8 pagi naik Bouraq transit Surabaya. Saya pamitan dengan maria dan mereka yang mengantar saya. Bercampur aduk saya meninggalkan bandara menuju Jakarta. Heran, kenapa hanya selang beberapa bulan kematian beruntun memasuki keluarga kami. Di mulai dari bulan februari kematian mbah kung – bapak dari mama, kemudian bulan oktober bapak meyusul.

Inilah perjalanan kesedihan , pertama kali datang ke tempat yang jauh dan tidak terpikirkan sebelumnya oleh saya. Tetapi itu terjadi kepada saya… praise the lord

To my lovely father
5 April 1945 - 27 oktober 2004

Thursday, May 07, 2009

Perjalanan Ziarek Gua Maria Ambarawa dan ke Gn. Lawu

Pada tahun 2004 , saya berkenalan dengan seorang teman dari milis SK ( single katolik ) . Ia bernama Agus dan berjenis laki-laki tentunya hehe… Karena sering bicara dan beremail ria tanpa bertemu muka sebelumnya, kemudia dia mengajak saya untuk ikut serta di acaranya Kaum Mudanya Yohanes Penginjil Blok B JakSel. Acaranya ziarek ke gua maria kerep ambarawa dan mendaki gunung lawu atau jalan-jalan disekitar ambarawa. Tapi si Agus ini ngajaknya pendakian ke lawu.

Begitu ajakan saya ajukan ke bapak , yang waktu itu masih hidup, beliau langsung mengatakan “TIDAK” untuk acara pendakian. Padahal udah bayar dan waktunya sebentar lagi. Hari jum’at malam berangkatnya dari halaman aula gereja blok b. Aduuh binun. Cari akal supaya diizinkan, saya bilang aja ikut jalan-jalan hehe… padahal isi tas dah siap untuk ke lawu sesuai petunjuk brifing pada hari minggunya di aula plus registrasi dan tentunya kopdar dengan yang namanya Agus.

Hari keberangkatan tiba, saya telah berkumpul di aula gereja dan bertemu dengan teman-teman peserta yang lainnya. Ketemu dengan mba Ismi untuk registrasi ulang pendaftaran serta diberikan slayer untuk peserta yang ikut pendakian lawu. Dan sudah ditentukan juga saya, agus , ira dan angga naik di bis yang ke-dua. Waktu sudah pukul delapan malam. Kami belum berangkat juga dari aula, ternyata teman-teman panitia menunggu teman-teman dari pasar minggu yang masih di perjalanan. Setengah jam kemudian mereka datang , empat orang laki-laki turun dari taksi membawa perlengkapannya masing-masing dengan tas mereka yang besar-besar kemudian mendaftar ulang ke panitia acara. Ternyata mereka satu bis dengan saya.


Setelah berdoa bersama, berangkatlah kami dari aula gereja blok b menuju tujuan kami Gua Maria Ambarawa. Saya duduk bersama Ira dan didepan saya Agus serta Angga. Di tengah perjalanan ada sebuah permainan dari panitia. Masing-masing peserta dibagikan kertas , ada 5 kertas dan wajib diisikan data dirinya. Peserta yang ditunjuk memperkenalkan diri selanjutnya juga menunjuk siapa saja peserta lainnya yang belum memperkenalkan diri untuk maju, jangan lupa tukeran kertas yang telah diisikan data diri dengan orang yang ditunjuknya. Demikian selanjutnya. Seru juga cara perkenalannya hehe…

Subuh , kami tiba dirumah makan. Tempatnya di tepi jalan raya yang tidak terlalu ramai kendaraan dan banyak persawahan di sekitarnya. Kenyang dengan makanan perjalanan kami lanjutkan kembali. Sampailah di pelataran gua maria ambarawa. Segala persiapan jalan salib digelar. Tetapi ditengah perjalanan itu hujan turun tiba-tiba. Berhentilah acaranya dan kami berlarian mencari tempat berteduh. Sewaktu saya berada disana, tempat ini sedang direnovasi. Karena hujan sepertinya tidak kunjung berhenti , acara dialihkan berdoa Rosario bersama disebuah aula di sekitar gua maria. Udara dingin dan badan basah kuyup , membuat saya keram kaki. Berkali-kali saya oleskan balsam untuk kaki saya yang keram agar saya bisa berjalan . Sedikit memaksa saya berjalan pakir bus untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju tempat penginapan di sebuah biara. Bus ac membuat saya menggigil. Aduuh sakit neh pikirku.


Menjelang malam , kami tiba dipenginapan. Kami turun dari bus dan menuju kamar masing-masing yang sudah diberi nama pada daun pintunya. Bagi peserta yang ikut pendakian membereskan perlengkapannya karena setelah makan malam , pendakian ke lawu dimulai. Mandi, beres-beres , juga ganti baju saya lakukan. Kemudian bersama ira menuju ruang besar untuk santap malam bersama-sama peserta yang lain. Disitu, kami dibagi kelompok pendakian. Saya dikelompok 3 bersama Agus dan 2 orang temannya , namanya Ira dan Angga , ternyata mereka berdua adek kakak dan punya pengalaman mendaki gunung. Duuhh mengecil dah nyaliku, mikir apa bisa ya nanti , mana belum punya pengalaman apa-apa.. Bener-bener merasa minder deh.

Kemudian kami berkumpul dihalaman biara dan satu persatu kelompok naik mobil kap yang sudah disediakan panitia pendakian menuju cemoro kandang awal pendakian ke lawu. Tanah masih basah dan udara dingin malam itu. Berkumpul di warung dekat pintu gerbang. Membiarkan kelompok yang lain melanjutkan perjalanannya. Tibalah kelompok kami entah ada berapa orang tetapi sepertinya banyak. Atau mungkin karena ada teman di kelompok 3 ini seperti contohnya teman-teman dari pasar minggu ini.

Sepanjang perjalanan saya beberapa kali berhenti, karena tidak kuat. Apalagi jalan yang harus dilewati batunya besar-besar, duuh pengen copot rasanya neh dengkul. Tapi untunglah ius membantu saya selama perjalanan hehe… dan kemudian tas saya masuk ke dalam tas kerilnya bowo , tambah enak sih.. tapi tetap aja cape.. Pas di pos berapa saya lupa, kaki saya keram hehehe.. lagi-lagi teman-teman saya ini yang bantu ngurut. Gila deh ngerepotin banget. Akhirnya saya cerita mungkin ini kualat kali ya bohong sama bokap katanya gak naik gunung hehe… tetapi menyenangkan sekali bergabung dengan mereka.

Ketika kami istirahat di satu tempat yang datar. Saya, Ira, Angga , Agus , bowo, ius , andri dan wid serta dua orang peserta dari kelompok lain yang saya lupa namanya bergabung bersama dan merebus mie. Udaranya dingin banget. Mie yang udah direbus cepet banget jadi dinginnya. Tapi langitnya penuh dengan bintang. Bannyyyaaakk banget bintangnya dan ada bintang jatuhnya.. keren… Hebat Tuhan itu baru kali ini lihat langit malam penuh bintang , penuh tiada tersisa tempat hehe..

Setelah makan perjalanan dilanjutkan lagi. Tetapi Agus tidak ikut, karena dia merasa tidak kuat lagi berjalan. Menurut ira mungkin asmanya kambuh. Waduuuhh … gimana neh. Setelah berunding akhirnya dia ditemani ma Angga padahal dia maunya ditemenin saya, tapi saya sendiri masih ingin meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka berdua menunggu di tempat itu sampai ada panitia datang menjemput mereka peserta yang tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Yah sesuai dengan petunjuk sebelum pendakian dimulai.

Semakin naik , semakin saya sesak napas. Beberapa kali saya merasa kehabisan napas dan batuk. Saya sepertinya sudah tidak sanggup meneruskan perjalanan. Walaupun bowo meminjamkan jaketnya kepada saya tetapi rasanya badan saya udah lemes dan gak sanggup meneruskan perjalanan meskipun dia berusaha menyemangati.

Hehehehe.. tau gak perbekalan mereka terbawa dengan Andri dan ius yang sudah meluncur duluan. Mau bikin makanan jadi tidak bisa , hanya bisa bakar kompor hehehe… Akhirnya kami memutuskan untuk turun gunung. Sampai di tempat kami membuat mie , kami bertemu teman-teman yang sudah mulai turun gunung. Dan juga Andri dan Ius. Langsung deh buka peralatan masak dan membuat makanan.

Oh ya waktu turun gunung menuju pos awal setalah kami selesai dengan acara makan , saya merasa melihat area parkir sudah dekat . Astaga , padahal masih sangat jauuuh. Mungkin saya sudah benar lelah jadi pikiran saya jadi kacau begini. Di pos akhir , saya menukarkan sepatu yang saya pakai dengan sandal jepit. Itu juga dibeliin sama bowo atau wid *thanks to them.

Saya berjalan santai melewati jalan setapak bersama teman-teman. Di depan pintu gerbang ada dua orang peserta diperiksa oleh petugas disana. Mungkin tidak menemukan apa yang dicari, mereka dilepaskan. Di warung saya mulai bisa melepaskan lelah. Di sana sudah ada Agus dan Angga yang sudah menunggu bersama teman-teman yang lain. Tidak lama kemudian datanglah sebuah truk. Ternyata itu untuk membawa peserta kembali kepenginapan. Tetapi saya , ira dan empat orang teman pasar minggu ini naik mobil kap.

Sampai di penginapan kami segera mandi dan berganti pakaian. Badan jadi lemes setelah dari lawu. Duduk –duduk bersama beberapa teman yang juga baru sampai dari acara jalan-jalan. Rencana mau jalan-jalan disekitar penginapan mencari makanan, ternyata cukup jauh. Menunggulah kami untuk jam makan malam setelah misa. Misa dimulai pukul 6 sore. Teman-teman sudah menunggu di aula untuk persiapan misa. Dan saya hanya melihat ius. Tiga orang temannya tidak ikut karena istirahat. Duduk lesehan , ngantuk dan jahil bercanda dengan ius sampai misa selesai dan dilanjutkan makan malam.

Ada acara lagi yang diadakan panitia setelah makan malam, tetapi saya sudah mengantuk dan lelah sekali badan saya. Dengan berat hati saya memutuskan untuk istirahat di kamar. Karena besok paginya kami akan berangkat pulang ke Jakarta. Setelah makan pagi , kami bersiap dan melakukan poto bersama. Setelah itu kami bergerak menuju ibukota Jakarta. Sesampainya dijakarta tengah malam kumpul kembali di aula gereja blok b. Dan langsung telp bapak yang dulu kerja di hotel melawai minta dijemput di ujung jalan melawai hehehe…. Pulang deh dengan selamat naik taxi silver dibayarin bokap hahaha…

Uuhh pengalaman pertama yang aneh buat saya yang belum pernah naik gunung dan membohongi orangtua hehe.. tapi thank s banget bisa punya pengalaman naik lawu dan bertemu , berkenalan dengan mereka.

ZIAREK AMBARAWA DAN GUNUNG LAWU
BERSAMA KAUM MUDA ST. YOH. PENGINJIL BLOK B JAKSEL
30 APRIL – 3 MEI 2004
=VERO=

Tuesday, May 05, 2009

Menuju kuningan jawa barat

(hari II)
Tujuan : Gereja Cigugur, Waduk Darma, Paseban dan Cirebon

Minggu Pagi buta 01 JUni 08 ,pukul setengah lima saya bangun dan segera mandi. Siang dikit sudah penuh orang yang mengantri untuk mandi. Setelah itu saya jalan-jalan pagi sendirian melihat – lihat daerah sekitar tempat kami menginap . Ternyata sudah banyak orang yang lari-lari pagi. Berjalan ke arah sebelah kiri penginapan menuju sebuah pertigaan jalan, ada yang unik , ada sebuah bangunan cagar budaya namanya Paseban Tripanca Tunggal. Seperti orang aneh saya duduk di depannya.

Tidak lama saya mendengar bunyi lonceng, saya pikir saya salah dengar ehh ternyata benar. Saya ikuti sumber suara tersebut sampaiah di gereja kristus raja cigugur. Oohh pemberitahuan mau ada misa pagi tooh yang jam 6 . Saya ikuti aja misa paginya hehe,, pakai bahasa sunda saya tidak mengerti. Umat yang datangpun kebanyakan nenek./kakek memakai kebaya dan berpakaian sangat sopan sperti orang mau kondangan.

Saya aja salah kostum banget diantara mereka dan jadi perhatian dah pasti ditebak dari jakarta hehe… *kasih contoh yang gak bener ya..* Oh ya mereka sangat sopan dan taat.Mau loh jalan kaki jauh-jauh dari tempat tinggal mereka untuk ibadah pagi. Bener-bener pemandangan yang mungkin jarang saya lihat di Jakarta.

Selesai misa saya lari ke penginapan karena tadi saya pergi gak pamit sama mama. Dan bener di jalan ketemu dengan ibu-ibu lingkungan yang mau ikuti misa kedua yang jam 7.30,

mereka berteriak
“vero.. dicari mamanya tuh. Gak bawa hp ya? Di telp gak nyambung.”
Saya bilang “ ikut misa tadi tante. Baru selesai neh.
Maaf hpnya batreynya habis gak bawa charge.”
Sambil cengar cengir ala diriku.

“Makanya bilang dulu ke mama kalau mau pergi , dah sana temui mamamu dulu.”


Selesai bicara , langsung ngacir ke tempat penginapan yang gak terlalu jauh dan lihat mama sedang sarapan pagi bersama siska temen saya. Langsung tanpa ditanya duduk didepannya dan bicara tadi abis kemana aja biar gak diomelin hehe… setelah itu ambil makan pagi isi perut yang kosong.

Selesai sarapan saya, mama , siska dan beberapa peserta yang tidak ke gereja berjalan-jalan di sekitar tempat kami menginap. Dan tentunya ke paseban itu lagi , saya penasaran dengan isi di dalam paseban tetapi waktunya gak mencukupi untuk saya melihat-lihat ke dalam karena kami harus kembali menunggu peserta lain pulang misa untuk melanjutkan perjalanan lagi menuju waduk darma. Dan rencana ke air terjun dibatalkan.

Pukul 11.00 kami bergerak menuju waduk darma. Setengah jam kemudian kami sampai di waduk darma. Luas sekali waduk ini dan letaknya di pinggir jalan raya. Biaya masuk perorang sekitar 5.000 rupiah. Diarea waduk darma ini kami mengadakan beberapa games untuk bapak-bapak, ibu-ibu bahkan anak-anak. Lombanya macem-macem ada lomba giring bola plastik pakai terong yang diikat tali, joget jeruk , lomba kelereng, makan kerupuk.

Pukul satu siang acara selesai kami menuju tempat kami menginap untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk perjalanan pulang. Karena waktunya diperkirakan tidak cukup untuk singgah lagi di linggar jati, maka diputuskan melanjutkan perjalanan ke Cirebon untuk belanja batik. Putar-putar kota Cirebon akhirnya ketemu deh tempatnya. Saya juga beli satu baju batik dan langsung di pakai.

Meninggalkan kota Cirebon sudah sore dan jalur pantura sudah mulai padat terutama dengan kendaraan terutama truk-truk besar. Saya pun hanya tidur di dalam bus. Lelah , pegel, ngantuk dan gerah menjadi satu di badah saya. Bus istirahat sebentar di rumah makan masih sekitar jalan pantura dan kami beristirahat sebentar melepaskan kepenatan di dalam bus dan kami melanjutkan perjalanan menuju tol cikampek menuju Jakarta.

· Vero di catatan kuningan jabar, 01 juni 2008 Link Foto juga bisa di lihat di Kuningan Hari Kedua

Friday, May 01, 2009

Menuju Kuningan Jawa Barat

(Hari I )
Tujuan : Gua Maria Cisantana


Sekitar satu tahun yang lalu , hari sabtu, tepat nya akhir bulan Mei 2008 saya dan lingkungan st. anna maria berziarah ke gua maria cisantana kuningan jawa barat. Perjalanan yang seharusnya berangkat pagi jam 7 menjadi molor berangkatnya jam 10 pagi dari cengkareng. Kami peserta kurang lebih 60 orang terdiri dari beberapa keluarga (ibu , bpk dan anak-anak) dan peserta diluar lingk. St. anna maria. Semua peserta yang ikut serta memakai kaos seragam yang diberikan panitia acara. Sebab acara pertama setelah tiba di kuningan adalah jalan salib menuju gua maria cisantana kuningan.


Perjalanan lumayan jauh. Lewati jalur pantura yang sepi kendaraan. Tengah hari kami sampai dikaranganyar dan beristirahat sejenak di salah satu restoran yang ada di sekitar karanganyar. Perjalanan masih harus melewati kota cirebon dan tol kuningan. Pemandangan selama perjalanan sangatlah bagus apalagi di tambah dengan cuaca yang cerah dan panorama gunung ceremai yang terlihat jelas.


Bus yang kami tumpangi sempat nyasar jalan ketika sudah sampai di kuningan menuju cisantana. Tanya dengan berberapa penduduk tidak ada yang mengetahui jelas letaknya gua marianya. Sampai akhirnya tanpa disengaja seorang penjual asongan masuk ke dalam bus dan menuntun kami menuju tempat ziarah gua maria cisantana.


Tiba di pelataran parkir gereja dekat jalan kecil menuju area jalan salib gua maria sawer rahmat cisantana , sudah pukul 5 sore. Kami melewati jalan kecil , rumah penduduk dan kuburan di sisi kanan dan kiri menuju pintu masuk gua maria. Udara dingin sudah mulai terasa ketika kaki saya melangkah menyusuri jalan – jalan ini. Bukit-bukit dan persawahan juga pemandangan yang indah sepanjang jalan membuat saya bersemangat untuk sampai ke tujuan bersama keluarga yang lain dibelakang saya dan teman-teman kecil saya.


Sampailah kami di persimpangan , tepatnya di sebuah pasar kecil yang merupakan tempat pertemuan tiga arah. Dari tempat parkir bus kami , letaknya masih ke atas lagi sekitar 500 mtr dan akan tiba ditempat parkirnya gua maria cisantana yang lebih luas. Kalaupun dari arah jalan kecil tempat us kami parkir pun juga bisa. Tetapi akan melewati makam, tetap saja di pasar kecil ini sebagai titik temunya.Kemudian ke arah ke gua maria dengan menuruni anak tangga dan di kanan kirinya banyak kandang sapi. Sampai menemukan pintu masuk gua maria , atau disebutnya taman Getsemani. Awal ibadat jalan salib dimulai dari sini. . Ditempat ini ada lukisan Yesus ketika Ia sedang berdoa sebelum kematian menjemputNya. Tempatnya cukup luas.

Selesai masing-masing kami berdoa kami membagi tugas untuk membacakan renungan tiap-tiap perhentian ibadat jalan salib. Waktu sudah pukul 17.30 ketika kami memulai ibadat jalan salib dan udara dingin mulai bergerak turun menyelimuti tempat dimana kami akan menuju perhentian I. Kami menaiki anak tangga yang tebuat dari batu-batu menuju perhentian I. Kabut sudah mulai turun dan gelap sebentar lagi akan menutup sore ini .


Perjalanan ibadat salib ini begitu melelahkan karena perjalanannya mendaki menuju tiap perhentian sampai selesai di gua maria. Ada beberapa anak-anak kecil sekitar yang turut serta dengan kami , menuntun kami melewati anak tangga.


Penerangan agak kurang jelas jadi kami harus berhati-hati melangkah menapaki tangga. Pun juga extra hati-hati dengan barang atau tas – tas yang kami bawa agar tidak kehilangan. Perjalanan dari perhentian satu ke perhentian yang lain diisi dengan doa salam maria.
Ketika saya , siska dan mama mendapat tugas membaca di perhentian XIV , saya benar-benar kelelahan. Saya sudah tidak tahu apakah suara saya kedengaran atau tidak dengan yang lain. Namun berakhirnya jalan salib ini di depan gua maria.


Bentuk gua marianya cantik dan dipenuhi dengan asap lilin serta orang-orang yang berdoa. Area gua marianya juga luas, kalau datangnya siang pasti terlihat jelas kecantikan kota kuningan dapat kelihatan dari tempat ini. Malam hari sajapun, lampu-lampu kota terlihat sangat indah dari tempat ini.


Kalau melihat ke bawah dari tempat gua maria berjejer beberapa tempat duduk yang biasa digunakan untuk acara doa atau pertemuan atau tempat berkumpul, dan di depannya ada tempat istirahat balai. Di sisi kiri gua maria ada pancuran air yang bisa di bawa pulang ataupun dibuat minum dan cuci muka. Dingin airnya. Di sebelah kanan gua maria ada kapel kecil yakni kapel Hati Kudus Yesus. Setelah berdoa , saya mendatangi kapel tersebut. Ternyata akan dimulai misa ekaristi penutupan bulan maria.


Umat sudah penuh di dalam kapel yang hanya beralaskan tiker. Saya dan siska hanya duduk di pelataran luar kapel . sendal kami masing-masing sebagai alas duduk. Misa dimulai pkl. 7 malam. Bahasa yang digunakan tidak pakai bahasa sunda mungkin kebanyakan umat yang hadir adalah banyak dari sekitar kuningan , cirebon atau pengunjung dari jakarta seperti rombongan kami.
Duduk lesehan selama hampir satu jam setengah membuat kaki saya keram apalagi saya tidak kuat udara dingin. Ucapan romo yang memimpin misa waktu itu telah merubah pandangan saya, maklumlah waktu saya pergi sedang punya masalah tentang percintaan saya hehe,..pacar saya pergi meninggalkan saya dan menikah dengan orang lain.. tragis banget yaaa hehe.. tapi untuk apapun yang terjadi saya tetap ucapkan terima kasih.


Sepeninggal dia banyak hal yang berubah dalam diri saya yang lebih baik tentunya, saya bisa bepergian kemana saja. Melihat daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi hehehehe.. Akhir dari perjalanan gua maria ini kami berpoto bersama bersama semua peserta.


Perjalanan pulang, mungkin karena lelah beberapa orang memutuskan untuk naik ojeg melewati jalan yang kami lalui. Saya jalan kaki bersama mama dan siska. Tapi siska takut saat lewat kuburan setengah merem, tangannya kenceng banget menggaet lengan saya. Tiba di bus, kami menuju tempat penginapan bukan hotel tetapi di sebuah asrama perawat rumah sakit dan rumah seorang saudara dari salah satu ibu di lingkungan kami. Setelah makan malam , kami membagi kamar untuk tiap peserta dan keluarganya dan tidurlah kami.


**Vero di Catatan kuningan jabar, 31 mei 2008 , Atau bisa di click di Album Kuningan hari I

Monday, April 27, 2009

Paseban Tripanca Tunggal Cigugur Jawa Barat

Sewaktu menginap di cigugur kuningan jawa barat, tidak jauh dari situ ada bangunan cagar budaya yang menarik perhatian saya. Bangunannya unik, sebuah rumah yang di ruang atasnya itu dindingnya transparan terbuat dari kaca, pintu-pintunya masih motif tempo dulu dan memanjang bangunannya. Letaknya dipinggir jalan raya cigugur. Namanya paseban Tripanca Tunggal.





Di depan paseban ini ada sebuah tugu. Tugu ini di apit oleh dua buah patung kera yang tangannya memegang dagu menghadap ke arah bagunan paseban ini.. Di tengah-tengah patung kera, ada rupa patung menyerupai mahluk lain seperti raksasa yang menyeramkan berdiri di pintu menghadap ke paseban.


Apa artinya dari tugu ini dan patung-patung pahatan yang ada ditugu inipun saya tidak tau. Mungkin suatu hari kalau saya berkunjung ke sana lagi saya akan tau :) Karena menurut saya paseban ini pasti tempat raja atau kasepuhan.

Diseberang gang rumah paseban ini persis ada sebuah bangunan seperti pura. Menjulang terbagi 3 bagian atapnya. Atapnya terbuat dari ijuk berwarna hitam. Waktu saya mengambil foto ini , bangunan ini terkunci.


Tetapi dari luar saya melihat ada kembang-kembang yang sepertinya pernah digunakan sebagai tempat sesajian. Agak menyeramkan dan sedikit kotor. Di depan Bagunan ini ad sebuah tugu juga tetapi bentuknya memanjang dengan ujungnya berbentuk lancip.

Berwarna merah dan ada tiga lapisan yang berwarna putih. Apa ya artiinya ?? jadi tambah penasaran negh :)

Di sebrang jalan paseban atau di balik punggung patung kera ini , ada bangunan lain lagi yang tidak kalah menariknya. Bagunan lain yang sedang direnovasi. Atap rumahnya ini seperti kubah mesjid. Atap rumahnya dari genterng merah dan bercat putih. Gaya arsiteknya bagus. Masih tempo dulu. Jendela rumah dan pintu-pintunya pun masih terlihat natural. Tidak jauh dari rumah ini ada sebuah saung yang saya kira cukup luas untuk menampung banyak orang. Atau mungkin tempat untuk mendiskusikan sesuatu di sini juga cukup tempatnya dengan orang-orang sekitarnya. Atap saung atau bale - bale kali ya enak disebut, terbuat dari bambu dan kayu. Ukiran-ukiran dipinggirnya yang berwarna coklat juga membuat tempat ini semakin menarik dan nyaman.


** Catatan perjalanan vero waktu ke kuningan jawa barat 31 Mei - 01 juni 2008

bersama lingk st. anna maria sehari setelah dari Gua maria Cisantana - Kuningan