Kraukk.com

728 x 90

Tuesday, October 12, 2010

Kota Toea : Jelajah Antjol

Mungkin sebagian besar orang hanya mengetahui Ancol terkenal dengan pantainya atau Dufan serta Gelanggang Samudranya. Namun dibalik tempat wisata ini , Ancol memiliki keunikan dan rahasia tersendiri, yang mungkin belum banyak dari kita yang mengetahuinya.

Stasiun Barang Kampung Bandan, dahulu digunakan utnuk mengantarkan rempah-rempah menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu , bangunan ini dijadikan tempat penyimpanan atau gudang. Stasiun ini masih digunakan sampai sekarang sebagai stasiun barang dengan rute Jakarta – Surabaya.

Tidak jauh dari stasiun , ada sebuah masjid tua yang bersejarah dan merupakan salah satu cagar budaya. Mesjid tersebut bernama Masjid Al Mukaromah atau Masjid Kramat Kampung Bandan. Di sana terdapat tiga buah makam para penyebar Islam di Jakarta yakni makam Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi ( wafat pada 23 Muharram 1118H ) , Habib Ali bin Abdurrahman Ba’Alwi ( wafat 15 Ramadhan 1122 H ) dan pendiri masjid Habib Abdurahman bin Alwi ASy-Syathri ( wafat 18 Muharram 1326 H )

Nama Kampung Bandan awal mulanya dinamakan demikian karena ada tiga versi yang umum di masyarakat sekitarnya. Pertama , merupakan sebuah ikatan orang-orang Bandan atau paguyuban yang berasal dari Maluku – Ambon. Kedua, karena disekitar sana terdapat pohon pandan, jadi orang-orang mendengar kata pandan menjadi Bandan. Dan yang ketiga , karena beberapa orang melihat secara jelas disekitar tempat tersebut para tentara Jepang yang membawa beberapa tawanan. Entahlah dimana diantara ketiga ini yang dipakai untuk menamai tempat tersebut.

Bentuk bangunan masjid ini sayangnya sudah mengalami perubahan dan penambahan ruang, mungkin hanya sebagian saja yang masih telihat bentuk aslinya. Seperti atap masjid yang atapnya masih berbentuk seperti jajaran genjang namun bertingkat tanpa kubah. Hal tersebut sebenarnya mengandung makna yang dalam bahwa menandakan tingkatan langit, kemudian tiang-tiang yang terpasang pada jendela yang berbentuk empat persegi panjang serta pilar-pilar yang ada di dalam masjid, lalu pintu masuk ke dalamnya yang masih lebar. Jika melihat ke halaman masjid juga terdapat makam-makam tua yang tanpa nama dan tidak diketahui. Batu nisannya pun bentuknya bermacam-macam, ada yang berupa gada, atau batu tugu.

Sebuah bangunan sejarah dapat termasuk dalam cagar budaya jika usianya lebih dari 50 tahun. Ada empat hal yang sangat diperhatikan agar sebuah bangunan masih termasuk dalam Cagar budaya antara lain pertama adalahkeaslian bahan misalnya dibuat dari jati , maka pergantiannya juga memakai kayu jati, kemudian yang kedua adalah bentuk bangunan, ketiga keaslian tata letak dan keempat adalah pengerjaannya. Jika nilai empat hal tersebut dari sebuah bagunan bersejarah maka nilai cagar budaya bangunan tersebut sudah tidak ada lagi. Jadi , jika sebuah bangunan bersejarah sudah hilang nilai sejarahnya , plang nama yang menyatakan bahwa bangunan tersebut masuk ke dalam cagar budaya harap ditinjau kembali atau sebaiknya dicabut.

Begitu pun dengan bangunan Klenteng Antjol atau Vihara Bhakti sudah banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Namun , jika ingin mengetahui sejarahnya masih dapat diceritakan. Klenteng Antjol atau Da Bo Gong Ancol, merupakan salah satu tempat peribadatan yang tertua dan bersejarah. Letaknya dekat pinggir laut dan berada dikawasan perumahan elite Pasir Putih. Begitu memasuki gerbang klenteng seperti menyusuri sebuah lorong rumah sakit. Kemudian sampailah di sebuah ruang utama dimana terdapat makam dari suami istri yang bernama Iboe Siti Wati dan Sampo Soei Soe.Di atas makam mereka di dirikan sebuah tempat peribadatan untuk mereka.

Dikisahkan bahwa Sampo Soei Soe jatuh cinta dengan seorang gadis pribumi yang juga penari ronggeng Sunda bernama Siti Wati. Kemudian mereka menikah dan nama mereka diabadikan dalam Klenteng yang dibangun pada tahun 1650 ini. Di sebelah makam mereka terdapat satu buah makam lagi yang bernama Sam Po Tay Djin. Bangunan ini masih terlihat bentuk aslinya seperti bentuk atapnya tidak berubah. Namun bagian lain diruang bangunan utama ini sudah mengalami penambahan bangunan baru.

Uniknya, di klenteng ini tidak diperbolehkan memakan daging babi atau petai. Klenteng ini satu-satunya klenteng kombinasi, coraknya Taois dengan gaya khusus karena klenteng ini dikaitkan dengan makam seorang Islam yang dianggap keramat dan sekaligus menjadi tempat pemujaan baik bagi orang Tionghoa maupun penduduk pribumi. Selain Klenteng utama , terdapat juga klenteng khusus Dewi Kuan im dan Sang Buddha , kemudian bagian belakang terdapat makam Embah Said Areli Dato Kembang bersama istrinya Ibu Enneng (Pha Poo) yang merupakan Orangtua Iboe Siti Wati , yang mana ayahnya adalah seorang Pejabat kraton sebagai juru catat / sekretaris pada masa Kerajaan Padjajaran.

Tidak jauh dari klenteng , terdapat sisa – sisa peninggalan sebuah benteng yang waktu penjajahan Belanda digunakan untuk menahan serangan musuh. Benteng Ancol yang masih ada , tidak terlihat sebagai benteng karena sudah ada peninggian tanah di sekitar benteng, sehingga sekarang yang terlihat hanya tembok yang memanjang saja. Ketebalan benteng tersebut bisa mencapai 100cm lebih, dipinggirnya masih terdapat lubang-lubang jendela yang dahulu digunakan untuk meletakan senjata atau meriam.

Satu lagi tempat bersejarah yang mungkin belum diketahui orang banyak adalah sebuah taman makam di Ancol. Ereveld merupakan sebuah Taman Makam Kehormatan , dibangun pada tanggal 14 September 1946, oleh yayasan Oorlogsgravenstichting yang berpusat di Belanda. Di tempat ini terdapat sekitar 2.000 jasad dari beberapa makam dan berbeda-beda bentuk nisannya. Sebab, setelah tahun 1960, makam-makam yang tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 22 makam itu kemudian dipindahkan dan dipusatkan di pulau Jawa. Ada tujuh taman makam Everld ini yang masih ada di Pulau Jawa yakni di Jakarta (Menteng Pulo dan Ancol), Bandung (Pandu dan Leuwigajah), Semarang (Kalibanteng dan Candi), dan Surabaya (Kembang Kuning).

Mereka yang dimakamkan di taman makam ini adalah para korban kekejaman tentara Jepang. Para korban itu yang bukan hanya tentara Belanda saja tetapi ada juga rakyat pribumi dan mereka meninggal dengan cara di eksekusi mati atau dibantai dengan senapan / samurai . Lokasi pembantaian tersebut pada sebuah pohon , letaknya tidak jauh dari monument yang berada ujung makam. Sedangkan tempat yang menjadi monument saat ini , dahulunya merupakan tempat dikuburnya para korban pembantaian. Jadi setelah mereka di eksekusi mayat-mayat mereka dikubur dalam satu tempat hingga membentuk gundukan. Diantaranya yang dimakamkan di sini adalah Prof Dr Achmad Mochtar, seorang Indonesia pertama yang menjadi Direktur Lembaga Eijkman. Monumen ini dibangun untuk mengenang mereka yang telah mengorbankan diri mereka dan juga mereka yang tidak disebut namanya di makam di tempat ini.

Oh ya , jika ada yang ingin tahu tentang ramal meramal? Nah, disalah tempat yang dikunjungi ada sebuah ramalan dari sebuah tongkat yakni di Klenteng Ancol. Caranya, kedua tangan direntangkan sejajar tongkat tersebut. Kemudian oleh seorang penjaganya ditandai batas rentangan tangan dan dibawa doa dihadapan makam Embah Said. Setelah itu kembali tangan direntangkan sejajar dengan tongkat , jika batas pertama dilewati oleh jari maka pertanda bagus tetapi jika tidak maka sebaliknya.

Selain itu ada juga ramalan Ciam si, mungkin ini ada disetiap klenteng. Cara mengetahuinya adalah pertama, kocok sampai keluar satu batang bambu yang terdapat nomor ramalannya, setelah itu batang bambu yang keluar tersebut diletakan pada sebuah tempat dupa di depan altar sembahyang. Kemudian ada buah batu berbentuk Ying dan Yang di putar-putar di atas tempat dupa setelah itu dilemparkan. Jika hasil lemparannya adalah Kedua benda tersebut terbuka berarti permintaan ditertawakan, jika keduanya tertutup berarti tidak ditolak permintaannya tetapi jika salah satunya terbuka berarti dikabulkan dan melanjutkan untuk mengambil kertas sesuai dengan nomor yang ada pada batang bambu tersebut. Yah hasil dari kertas tersebut boleh dipercaya boleh tidak namanya juga ramalan.. :)


Jakarta - Antjol , 10 Oktober 2010

Thanks to : Komunitas Jelajah Budaya Kota Toea

Veronica Setiawati

http ://g1g1kel1nc1.blogspot.com

mail to : g1g1kel1nc1@yahoo.com.au

Sunday, October 10, 2010

Pulau Onrust, Cipir dan Kelor Dalam Sejarah

Akhirnya saya bisa dapat mengunjungi satu kompleks gugusan kepulauan seribu yang masih menilai sejarah seperti Pulau Kelor, Pulau Onrust dan Pulau Cipir.

Pulau Kelor adalah sebuah pulau yang kecil tidak berpenghuni kecuali beberapa ekor kucing , yang menurut mitosnya kucing tersebut dibawa oleh para tentara VOC dari Belanda. Tetapi di tengah - pulau terpencil ini terdapat sebuah benteng pertahanan yang difungsikan sebagai pengawas serangan musuh yang berasal dari laut Jawa, seperti serangan dari Kerajaan Mataram. Benteng yang sebagian besar bahannya adalah batu bata merah bernama "Benteng/Menara Mortelo". Dari menara Mortelo ini , kemudian tentara VOC mengirimkan sinyal oeringatan ke Pulau Onrust dan pulau terdekatnya jika kedatangan musuh.

Sisa - sisa bangunan menara masih dapat dilihat jelas di pulau Kelor ini, walaupun pernah mengalami keruntuhan sewaktu Gunung Krakatau meletus hebat pada tahun 1883. Bentuk bangunan yang bulat melingkar dengan tinggi sekitar 5 meter lebih. Banyak lubang atau celah yang lebar sebesar jendela didalam bangunan yang digunakan untuk menahan musuh dengan senapan atau meriam yang dipasang disana dari segala arah. Namun senjata ataupun meriam sudah tidak ada lagi di menara tersebut, yang terlihat sekarang adalah puing-puing batu batanya di tepi pantai dan Menara Mortelo yang masih terlihat keasliannya.

Onrust adalah bahasa Belanda , jika dalam bahasa Inggris yakni "un rest". Jadi Pulau Onrust mempunyai arti "Pulau yang tidak pernah istirahat." Pulau Onrust ini memang menjadi tempat transit kapal-kapal yang akan menuju Batavia. Jauh sebelum Pelabuhan Tanjung Priuk dibangun Belanda. Pulau Onrust merupakan tempat galangan kapal yang datang dari atau yang menuju Eropa untuk membawa rempah-rempah ke negaranya , juga sebagai tempat penyediaan akomodasi kapal-kapal yang mendarat termasuk tempat perbaikan jika terdapat kapal yang rusak. Selain itu, Pulau Onrust merupakan front line atau garis pertahanan terdepan dari Pulau Kelor jika ada serangan musuh. Karena sebagai frontline pertahanan, dibangun juga sebuah benteng pertahanan , bentuknya seperti benteng yang dipakai pada permainan papan catur. Namun, sejak Inggris menguasai Pulau Kelor thn 1801 -1811, bangunan tersebut dihancurkan dan hanya bisa dilihat dasarnya saja yang berada tidak jauh dari laut dan menghadap ke arah Pulau Kelor.

Sempat dibangun kembali Pulau Onrust ini oleh Baron Van De Capellen sejak dihancurkan oleh Inggris namun kembali hancur karena letusan besar Gunung Krakatau dan menjadikan pulau ini tidak bernyawa sampai awal abad ke 20. Tepatnya tahun 1905 Pulau Onrust kembali dibangun dan dijadikan tempat karantina para haji yang akan berangkat ataupun kembali dari Mekkah. karena sebelumnya di pulau ini telah dibangun sebuah sanotarium TBC juga kolera oleh pemerintahan Belanda. Masih terlihat sebuah bangunan rumah yang pada waktu itu digunakan sebagai rumah dokter dan sekarang dialihfungsikan sebagai museum.

Sebanyak 35 barak penampungan karantina haji dibangun. Jalan-jalan seperti gang yang merupakan batas tiap bangunan sangat bagus dan rapi sampai saat ini. Sisa - sisa barak tersebut hanya ada dasarnya saja dan bisa dapat dilihat reruntuhannya termasuk bangunan rumah sakit tepat di depan rumah dokter. Dahulu , rumah sakit ini digunakan untuk merawat para calon haji yang sakit ataupun memeriksa kesehatan mereka setelah pulang dari Mekkah. Selain itu , ada sebuah misteri bagi mereka yang tinggal di pulau onrust ini rata-rata memiki umur yang pendek, karena masalah air bersih.

Selain tempat karantina para jemaah haji ataupun mereka yang terkena kolera ataupun TBC, Pulau Onrunt terkenal juga sebagai pulau tahanan. Sejak tahun 1931 - 1940, pulau Onrust beralihfungsi sebagai tempat pembuangan para tahanan pemberontakan kapal. Peristiwa tersebut dikenal dengan Perististiwa Kapal Tujuh yakni pemberontakan para budak yang membawa kapal para tentara belanda ini. Mayat mereka dikuburkan di pulau Onrust yang sekarang letaknya bersebelahan dengan makam yang diduga adalah makam Pimpinan gerakan DI/TII yang dieksekusi di sini.

Pada penjajahan Jepang , pulau Onrust dijadikan penjara. Ada rumah yang masih terlihat bentuk bangunannya yang digunakan sebagai penjara. Ada ruangan yang terbuka ditengah -tengahnya. Dahulu ditempat tersebut digunakan para tentara Jepang untuk mengadu para tahanan seperti adu sumo dinegaranya bahkan sampai salah satu dari mereka mati diarena tersebut. Kemudian pada waktu Indonesia Merdeka , pulau ini beralih fungsi menjadi tempat karantina penyakit menular. Tahun 1960 - 1965 , dijadikan pengasingan para gelandangan dan para pengemis. Pernah juga digunakan sebagai tempat pelatihan militer. Namun sejak tahun 1971 pulai ini terbengkalai dan terjadi pembongkaran material bangunan secara besar-besaran. Dan sampai sekarang pulau onrust ini hanya sebagian besar sisa-sisa bangunannya yang terlihat. Oleh Gubernur DKI pada waktu itu , guna menyelamatkannya maka pulau onrust ini dijadikan kawasan cagar budaya.

Pulau cipir pun tidak jauh dari pulau onrust. Terlihat dari jauh masih ada sisa dari jembatan penyebrangan yang dahulu digunakan mereka yang hendak menyebrang dari pulau Cipir ke pulau Onrust. Namun karena abrasi air laut maka sekarang tidak dapat digunakan lagi. Di pulau cipir juga terdapat reruntuhan bangunan seperti rumah sakit dan barak-barak yang digunakan untuk mereka yang akan naik haji atau yang sakit / karantina disana.

Pulau Seribu, 02 Oktober 2010
Veronica Setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogspot.com

Thanks to : Klub Tempo Doeloe

Thursday, September 23, 2010

Kraton Solo Dan Keunikannya Di Mataku

Tidak menyangka kalau perjalanan saya ke Solo Kota menuntun saya ke sebuah museum dan kraton Surakarta. Awalnya niat saya dan kawan-kawan mencari tahu letak Pasar Klewer. Berkat petunjuk beberapa orang yang saya temui di jalan menunjuk sebuah arah melewati Jalan Kesultanan. Ternyata saya menemui sebuah lapangan yang tak lain adalah Alun Alun Selatan.


Sebelah kanan sebelum memasuki alun-alun ada sebuah kandang kerbau yang kulitnya berwarna putih seperti warna kulit albino. Menurut seorang ibu, penjual es kelapa yang berjualan di sekitar alun-alun , kerbau tersebut hanya dikeluarkan pada saat perayaan tertentu seperti Satu Suroan dan merupakan titisan dari Raden Patah. Entahlah tapi kerbau tersebut , ibu tersebut menyebutkan sangat dihormati dan dianggap keramat.


Alun alun Selatan kota Solo tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jogja, terdapat pohon beringin kembar juga ditengahnya. Tetapi tidak dipakai untuk arena permainan tutup mata seperti yang dilakukan di Jogja. Alun-alun selatan kota solo lebih sepi. Ibu penjual es kelapa juga menuturkan bahwa alun alun selatan ini dahulu digunakan pihak Kraton Solo sebagai gerbang untuk menerima para tamu.

Ada sebuah bangunan pendopo yang luas dan gerbang di ujung lokasi alun-alun selatan ini, nah di tempat tersebut para tamu yang akan masuk ke Kraton menunggu ditempat tersebut. Pendopo ini mempunyai dua meriam seperti yang ada di halaman Museum Fatahillah, dan pada zaman dahulu setiap sisi pendopo dijaga oleh para prajurit kraton tetapi sekarang sudah tidak ada. Alun-alun selatan sudah dibuka untuk umum oleh Kraton tetapi bangunan pendopo tersebut masih berdiri dan terdapat beberapa kerbau bule berliaran di halamannya. Beberapa orang member mereka makan. Di bagian sayap kiri dan kanan pendopo , terdapat dua buah kereta. Salah satunya adalah kereta Jenasah sengaja dipajang di sana. Hmm.. Menarik sekali.


Dari pintu gerbang yang sangat besar dekat pendopo nanti akan menemukan jalan yang kecil seperti jalan – jalan di komplek perumahan. Kalau menurut saya, seperti menuju Taman Sari di Jogja. Tembok besar di sebelah kiri jalan membuat saya menebak-nebak apa yang ada didalamnya. Sampai akhirnya jawaban itu muncul ,oohh… ternyata ini sebuah Museum dan Kraton Surakarta. Dari pintu gerbangnya berdiri gagah patung Paku Buwono X , seakan mengucapkan selamat datang bagi para tamu yang hendak masuk ke dalam. Harga tiket masuknya sebesar Rp 10.000 / orang

Bangunan dengan warna sebagian besar adalah biru ini sangat menarik. Para tour guide yang merupakan merupakan Abdi Dalem Museum dan Kraton mulai menjelaskan mengenai sejarah dan seluruh isi bangunan serta Kraton Surakarta kepada para pengunjung. Lorong - lorong yang ada di sepanjang museum begitu luas dan sejuk, karena ditumbuhi beberapa pepohonan yang rindang. Dua buah patung prajurit kraton terdapat dibeberapa pintu masuk dengan model pakaian yang berbeda-beda menambah menarik museum kraton solo ini.


Di dalam museum , terdapat beberapa peninggalan benda-benda seperti : ada dandang yang besar yang digunakan untuk menanak nasi. Ukurannya yang besar membuat saya berfikir ini bisa memberi makan ribuan orang dan bukan hanya para Abdi Dalam Kraton. Kemudian Foto-foto raja dan lambang kesulatanan Surakarta atau sekarang lebih dikenal dengan kota Solo. Ada juga framen bebatuan dari Candi Mendut dan beberapa yang dipajang pada lemari kaca.

Ada berbagai macam bentuk topeng dan kegunaannya pada sebuah acara tarian. Kemudian ada keris, wayang, dan berbagai kesenian lainnya. Ada juga alat tandu yang dipakai raja-raja pada masa kejayaannya. Namun sudah rapuh sehingga tidak dapat dinaikin dan tidak boleh dipegang. Terdapat juga kereta jenasah.

Bagian yang menarik adalah ketika memasuki sebuah ruangan yang terdapat dua buah kereta kencana. Saya terdiam di depan benda tersebut sementara pengunjung lainnya banyak berfoto-foto di luar batas pagar yang ditandai tali warna merah. Menarik pikir saya melihat keindahan dari kereta kencana ini. Apalagi dua buah roda besar yang dipunyainya. Berfikir, ini kereta siapa dan pasti orang yang benar-benar terhormat yang menaiki ini. Dan saya mempunyai keinginan untuk foto di depannya. Dan ternyata , didengarkan oleh seorang Abdi Dalam yang menjaga kedua kereta ini.

Begitu tali merah sebagai pembatas pengunjung dibuka, beliau segera menyembah ke arah kereta kencana tersebut kemudian menuntun saya duduk di dekat roda kereta kemudian disusul empat orang teman saya. Diujung kiri kanan kanan dipasang tali syaler berwarna keemasan dan dipasangkan blankon atau tutup kepala orang jawa. Kemudian setelah menyembah dipotonya kami berempat, begitupun ketika posisi berdiri dekat pintu masuk kencana hal yang sama dilakukan sebelum posisi kami dirubah ataupun sebelum dipoto.


Hmm.. hal ini cukup menakutkan untuk kami berempat sehingga membuat kami mendadak menjadi sangat sopan atau mungkin didalam pikiran kami timbul hal-hal yang menyeramkan sehingga Abdi Dalam tersebut mengatakan untuk tidak takut hehe...

Tempat yang tak kalah menariknya adalah Kratonnya. Bagi yang memakai sendal diharapkan untuk melepaskannya sebelum memasuki kawasan Kraton. Karena ada beberapa hal yang sangat dijaga kesopanan berpakaian untuk memasuki kawasan Kraton. Tetapi bagi yang memakai sepatu tidak usah dilepas. Kraton mempunyai halaman yang luas dan alasnya adalah pasir yang sangat lembut dan tidak kasar ditelapak kaki. Namun ada beberapa batasan bagi para pengunjung untuk memasuki Kraton.


Di dalam kawasan kraton ada tiga buah bangunan pendopo yang luas dan sebuah menara yang tinggi berwarna biru dan putih. Jendelanya panjang ada dua buah. Dahulu digunakan untuk mengintai musuh namun ketika saya bertanya kepada salah satu Abdi Dalam Museum menara tersebut juga digunakan untuk bertapa raja. Jika diperhatikan , di ujung menara tersebut lambang yang pakai adalah seekor ular.

Menurut beliau, lambang ular dipakai melambangkan keseimbangan antara kraton dan laut kidul serta puncak lawu entahlah apa maksudnya saya kurang paham. Buat saya mengujungi museum dan kraton Surakarta sangat menarik buat saya. Belum lagi di depan bangunan banyak berjejer patung-patung pada zaman romawi kuno seperti yang ada di kuburan belanda atau gereja kuno, ada alat-alat musik dan sebuah ruangan yang luas tapi pengunjung tidak diperkenankan untuk naik ke atasnya.

Tidak jauh dari Museum dan Kraton , terdapat sebuah pasar batik namanya adalah Pasar Klewer. Tepatnya di depan alun-alun utara. Sperti pasar pada umumnya di Jakarta ramai dan padat. Namun disini terdapat berbagai jenis batik Solo yang ditawarkan. Di depan pasar , terdapat sebuah Masjid besar yang dahulu digunakan Kerajaan Surakarta yakni Masjid Agung Surakarta. Bangunannya unik dari pintu masuknya. Sperti memasuki kota yang ada di Timur Tengah. Tapi begitu sampai di halaman masjid terlihat ornamen khas jawa dan melayunya. Bentuk memanjang dan ruangannya terbuka. Tiang-tiang berwarna coklat berdiri kokoh pada sudut lantai. Atap-atapnya terbuat dari kayu berwarna hijau dan terdapat baling-baling kipas angin. Lantainya dari marmer sehingga membuat suasana di dalamnya terasa sejuk.

Kota Solo mungkin belum banyak yang saya ketahui , tetapi perjalanan ini telah membawa saya melihat keunikan lain dari kota Solo yang belum pernah saya lihat. Ini adalah pertama dan menyenangkan bagi saya. Mungkin suatu saat saya akan kembali lagi.

SOlO Kota , 17 September 2010

veronica setiawati

http://g1g1kel1nc1.blogspot.com




Wednesday, September 22, 2010

Mudik,Liburan dan Silaturahim

Merasakan kembali pulang kampung merupakan hal yang menyenangkan. Karena sudah cukup lama saya tidak melakukannya. Dan beruntunglah sewaktu liburan Lebaran tahun 2010 , saya menyempatkan diri untuk Mudik atau pulang kampung. Tujuan mudik atau pulang kampung kali ini adalah Solo. Tempat yang asing dan membayangkan seperti apa juga tidak ada di dalam benak saya. Namun , karena sudah mempersiapkan perjalanan ini jauh-jauh hari tetaplah saya berangkat.

Wonogiri , ternyata itulah nama tempat yang akan didatangi. Perjalanannya cukup jauh sekitar hampir 2 jam lebih, itupun menggunakan bus umum. Namun semua kepenatan dan bosan selama perjalanan dapat di bayar dengan keindahan pemandangan sepanjang jalan. Seperti ada sebuah laut yang pada awalnya saya kira, ternyata itu adalah sebuah Waduk, tepatnya Waduk Gajah Mungkur . Banyak sekali warung-warung makanan yang menjual hasil tangkapannya dari

waduk tersebut. Ada yang berupa ikan, udang, kerang dan lainnya. Apalagi aroma ikan yang dibakarpun menusuk hidung saya ketika melewati beberapa rumah makan dan itu sungguh mengguggah selera makan saya. Tidak jauh dari waduk , terdapat sebuah jalan yang menuju tempat untuk bermain gantole atau terbang layang. Selain itu, Wonogiri mempunyai sebuah tugu atau monumen ADIPURA, sebuah penghargaan dari pemerintah. Letaknya persis di depan gerbang waduk.


Sepanjang perjalanan setelah memasuki gerbang selamat datang di Wonogiri , jalan yang dilalui berkelok-kelok , kalau tidak biasa bisa membuat perut mual. Selain waduk , terdapat juga beberapa tebing batu kapur yang sudah dijadikan tempat penambangan. Beberapa bagian tebing sudah terkikis oleh para pekerja yang mengambil batu-batu kapur. Terlihat juga aliran air dalam sebuah pipa-pipa yang panjang ke rumah-rumah. Masih terdapat ladang, pohon-pohon besar dipinggir jalan , bukit-bukit dan aliran sungai. Namun penerangan jalan raya belum ada , jika malam hari melewati sepanjang jalan tersebut agar berhati-hati.


Rumah-rumah yang ada di sekitar Wonogiri , beratap dari genting merah dan atapnya berbentuk garis lurus. Di tengah-tengah atap ada bentuk dua buah menyerupai sirip ikan berujung lancip. Bahkan ada diantaranya dipasang lambang Negara yakni burung Garuda. Tiang-tiang penyangganya pun masih terbuat dari kayu termasuk pada pintu dan jendela. Jika berada di dalam rumah tidak terasa pengap atau gerah. Cahaya Matahari pun sedikit menembus dari atap genting yang belum terpasang plafon. Namun tidak mengalami kebocoran jika hujan. Tetapi untuk kamar mandi berada di luar rumah.


Untuk dapurnya, benar-benar masih tradisional dan sederhana. Tidak memakai gas ataupun minyak tanah untuk memasak, melainkan memakai kayu bakar atau serbuk kayu hasil gergaji untuk menyalakan api ditungku. Memang sih asap mengepul di dalam namun cepat hilang diantara celah-celah genting. Tiang-tiang penyangga dari kayu pasang dan sebagian tiangnya digunakan untuk membuat rak tempat penyimpanan alat-alat masak. Tempat rak piring pun masih terbuat dari kayu. Tidak jauh dari rak piring, ada sebuah tempat untuk cuci piring. Terdapat beberapa gentong berisi air untuk membilas piring,gelas atau alat-alat masak lainnya. Dari memasak di tungku dan membilas cucian piring dilakukan secara jongkok atau menggunakan bangku kecil. Pegel deh.. :D

Halaman rumah sangat luas terdiri halaman belakang dan depan. Ada kandang sapi. Pohon-pohon bunga ditanam sebagai pagar halaman. Pembatas tanah menggunakan batu. Namun tetangga satu dengan yang lainnya saling mengenal dan akrab seperti saudara, bahkan yang tinggalnya sangat berjauhan dari rumahpun saling kenal. Saya senang suasana seperti itu dan juga suasana ketika malam yang sangat sepi. Hiburannya mungkin hanya televisi, jika yang mempunyai motor bisa keluar untuk keperluan.Karena kendaraan yang umum dirumah adalah motor supaya praktis ke mana-mana dan cepat. Untuk listrik sudah ada hanya saja kalau di jalan depan rumah atau menuju jalan raya masih kurang lampu penerangan jalan , satu hal lagi nyamuknya masih banyak. :D

Kalau udaranya tidak dingin seperti kalau naik gunung, kecuali hujan waktu malamnya. Tidak jauh, dibelakang rumah ada sebuah aliran sungai yang berasal dari Waduk Gajah Mungkur. Disekitar aliran sungai, ditumbuhi tanaman kacang-kacangan ataupun daun bawang. Sungainya pun dimanfaatkan penduduk sekitar untuk mencari ikan.

Masih banyak hal yang belum diceritakan dari tempat ini. Namun , dari pengalaman pertama menginjakan kaki dan mempunyai keluarga baru semuanya membuat hati ingin kembali lagi dan menceritakannya kembali. semoga

Wonogiri, 15 September 2010

Veronica Setiawati

http://g1g1kel1nc1.blogspot.com

Tuesday, August 17, 2010

Sanghyang Resort Dalam Keakraban Kami

Sudah lama lingkungan kami tidak mengadakan acara keakraban. Setelah sekian lama dirapatkan akhirnya diadakanlah acara rekreasi dan keakraban khusus keluarga yang ada dilingkungan kami. Acara tersebut diadakan di Sanghyang Resort di pantai Anyer Serang Banten.


Sekitar pukul 12.30wib kami tiba di lokasi. Pintu gerbang resort dibentuk dengan ukiran pintu gerbang sebuah pura umat Hindu di Bali. Beberapa meter dari pintu gerbang, ada lapangan tennis , kolam renang , front office dan juga sejuknya tempat ini karena rimbunnya pohon-pohon yang tinggi menutupi teriknya matahari. Di kejauhan sudah dapat dilihat hamparan laut yang disiap dijenguk.


Selain itu di kiri dan kanannya berjejer cottage yang siap dihuni oleh mereka yang menginap di Sahnyang Resort. Tiap kawasan cottage ada penamaannya sendiri , seperti Anyer, Baduy atau Villa Banten. Tentunya harganya berbeda-beda. Soal harga dapat ditanyakan kepada staf yang ada di Front Office. Kami di di kawasan Baduy dan menghadap ke pantai.


Cottagenya terdiri dari dua rumah dalam satu atap. Ada dua kamar dengan tiga tempat tidur. Masing-masing kamar ber AC. Ada lemari pakaian dan gantungan baju, serta meja hias. Kamar mandi satu lengkap dengan air panas dan dingin, sabun, dan perlengkapan mandi. Selain itu ruang tamu dan ruang makan hanya terpisahkan lemari ruang tamu yang kecil dan televisi. Ada dapur, kulkas, dan kompor gas. Namun kalau malam hari lebih baik membawa lotion anti nyamuk.


Sanghyang resort juga menyediakan sewa sepeda, ATM BCA dan toko souvernir. Kami pun memanfaatkan fasilitas yang diberikan yakni kolam renang. Ada dua buah kolam renang, yang pertama untuk anak-anak dengan dua ekor patung lumba-lumba yang mengeluarkan air dari mulut mereka dan yang kedua untuk umum. Kedalamannya ada yang mencapai tiga meter. Sebaiknya menanyakan terlebih dahulu kedalaman kolam renang kepada petugasnya untuk menghindari hal-hal yang membahayakan diri sendiri. Warna kolam renangnya sendiri adalah biru. Sangat sejuk dan terlihat bagus jika dilihat dari atas kolam. Tidak jauh dari kolam renang ada tempat bermain anak-anak playgroup.


Jika berjalan kearah sebelah barat , maka akan menemukan sebuah tempat istirahat menghadap ke laut. Tidak jauh di depannya adalah sebuah dermaga. Ada beberapa kapal yang diparkir di dermaga ini. Ada jet ski dan banana boat. Semua fasilitas ini dapat digunakan pengujung dan dapat memberitahukannya kepada pihak manajemen resort selain itu juga harus memperhatikan keadaan cuaca serta safetynya jika hendak memakai fasilitas tersebut.


Moment yang paling mengesankan ketika dipantai adalah menikmati senja. Menyaksikan matahari yang pulang keperaduannya seakan menghipnotis suasana sebelum akhirnya malam datang. Suara deburan ombak yang memecah pinggir pantai juga irama yang tidak kalah menariknya. Luasnya laut di depan mata serta menatap beberapa perahu yang akan merapat.

Dipinggir pantai , diantara batu-batuan terdapat beberapa ranjungan yang memunculkan diri ketika ombak yang semakin tinggi menerpa batuan tempat mereka bersembunyi.


Ketika malam, acara keakraban itu dimulai. Dimulai dengan sambutan, doa bersama, games dan quiz , kemudian nyanyi bersama dalam heningnya malam. Diantara orangtua yang masih bersemangat dengan ulah mereka rasanya malam keakraban itu tidak menjadi hening melainkan ramai. Ketika mereka berebutan menyanyi kemudian membawakan lagu dengan suara yang all out membuat saya tersenyum. Benar kata seorang teman yang pernah membawa rombongan opa oma dalam sebuah ziarah. Kalau trip bersama mereka penuh semangat dan mereka , para opa oma selalu penuh inisiatif untuk memulai sesuatu dan bersemangat melebihi orang muda. Dan sayapun merasakan itu.


Banyak kesan dan pesan yang mereka berikan ketika akan pulang kembali ke Jakarta. Selain para orangtua ini butuh liburan mereka juga senang bisa dilibatkan dalam acara keakraban ini. Semoga tahun depan dapat diadakan kembali dengan perencanaan yang lebih matang tentunya.



Pantai Anyer , 14 – 15 Agustus 2010

Veronica Setiawati

mail to : g1g1kel1nc1@yahoo.com.au

Thanks to : para keluarga lingk. St, Anna Maria

place : Sanghyang Indah Spa Resort

Jl. Raya Sirih KM 128 Anyer Serang Propinsi Banten

Phone : 0254 600 888 website : wwwsanghyang.com

Email : marketing@sanghyang.com

Jakarta Sales Office

Jl. Majapahit No. 26 MN Komplek Golden Centrum ph. 021 385 7888