Kraukk.com

728 x 90

Sunday, August 08, 2010

Fun Caving di Buniayu - sukabumi

Jika Anda sedang berlibur ke Sukabumi dan senang berpetualangan cobalah susur goa buniayu yang eksotis dan menakjubkan berada di dalam perut bumi. Berikut petualangan seru saya

Caving atau susur goa ini untuk keduakalinya saya lakukan dan menyenangkan buat saya karena dapat merasakan sensasi yang berbeda ketika berada di dalam perut bumi yang gelap dan pengap. Lokasi awal dimulainya petualangan susur goa ini , saya berjalan kaki menyusuri hutan. Tentunya saya tidak sendiri selain bersama teman-teman juga ditemani guide lokal yang paham benar tentang susur goa yang akan lalui. Menurut guidenya wisata goa buniayu sudah dibuka sejak tahun 1993 dengan menggunakan orang lokal yang paham akan jalur-jalur yang dilalui sebagai guidenya.

Perlengkapan yang dipakai saya untuk susur goa antara lain adalah pakaian terusan atau wearpak , bentukny seperti baju bengkel dengan kantong kecilnya didepan.Fungsinya menlindungi badan dari lumpur dan air ketika berada didalam. Hanya saja bagian celana belakangnya agak robek dan ukurannya rata-rata adalah M. Jadi agak susah bagi yang mempunyai badan ukuran besar seperti saya. Menurut seorang guide ada peserta yang tidak dapat memakai seragam tersebut ketika susur goa.

Perlengkapan lainnya adalah Helmet yang fungsinya melindungi kepala dari stalagtit yang tajam ketika melangkah di dalam goa. Sebenarnya di helmet ini ada alat penerangnya atau disebut headlamp. Tetapi kebanyakan helmet yang ada headlampnya tidak berfungsi sehingga diganti dengan senter atau headlamp peserta sendiri. Karena di dalam goa sangat gelap sehingga senter mempermudah langkah-langkah yang akan dilalui. Ada juga sih penerang dari bahan bakar karbit yang dibawa oleh guidenya tetapi mungkin tidak akan cukup bagi peserta yang ikut apalagi dalam jumlah yang besar. Terakhir perlengkapannya adalah sepatu boot.

Sampai di pintu masuk goa buniayu, ternyata harus turun lagi ke bawah karena memang letaknya sangat terpencil. Mulut goanya tidak besar, untuk masuk ke dalamnya badan saya diikatkan tali dan diturunkan ke dalam dengan tali tambang. Sampai di dasar goa jaraknya sekitar 25 – 30 meter dalamnya. Rasanya menegangkan takut jatuh apalagi harus berpegangan pada tali yang dikendalikan oleh seorang guide. Disarankan ketika diturunkan tidak melihat ke bawah karena takut pusing kepalanya. Namun begitu tali telah melewati mulut goa akan terlihat dinding goa yang luas yang sangat indah sehingga walaupun bergelantungan tidak akan merasa takut oleh sebab pemandangan goa yang menakjubkan.

Dibawah sudah ada guide yang lain melepaskan ikatan tali serta memandu menyusuri goa buniayu selama kurang lebih 3 – 4 jam. Melewati beberapa ruas jalan penuh lumpur yang tebal-tebal dan aliran air. Batu-batuan besar yang harus dilewati bahkan sangat sempit untuk dilalui. Tak jarang saya harus duduk untuk membantu langkah saya sendiri. Mau tak mau seragam yang saya pakai kotor dengan lumpur bahkan tangan saya. Ketika akan melewati aliran sungai , kaki saya meraba ketinggian dan dengan senter yang saya bawa untuk melihat disekelilingnya. Karena bisa saja terantuk batu. Lumayan melelahkan dan pengap sampai bercucuran keringet. Apalagi bau karbit sangat menyengat, tetapi kalau tidak ada karbit guide nya tidak dapat melihat jalan yang akan dilalui.

Semakin dalam perjalanan semakin menyenangkan seperti masuk ke dalam perut ular. Warna-warna batuan stalagtit sangat menarik walaupun dipenuhi lumpur. Ada juga beberapa tempat yang mendebarkan hati saya karena harus melompat dan dibawahnya adalah celah yang dalam. Kemudian melewati jalan yang sempit, berlumpur dan bersandaran pada batuan tebingnya. Saya mulai timbul rasa takut tapi untunglah Pak Kamal , nama guidenya mengarahkan kaki saya yang spertinya sudah hampir kaku karena ketakutan.

Langkah saya selanjutnya mulai gontai dan lapar. Ada sebuah rest area , begitu kalau saya mengistilahkan sebuah tempat yang cukup luas dan datar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih menegangkan lagi. Di rest area ini dapat berfoto tetapi disarankan untuk membawa plastick atau drybag yang anti air untuk setiap perlengkapan yang mudah rusak jika terkena air. Jika tidak terlalu penting untuk dokumentasi lebih baik ditinggal dibasecamp karena takutnya akan jatuh ke air atau lumpur ketika menyusuri goa. Maksud hati ingin mengabadikan sebauh moment gara-gara cameranya jatuh jadi menggangu suasana hati. Karena menurut saya ketika berada di dalam goa jika tidak tenang dan menjaga kondisi perasaan akan melelahkan diri sendiri.

Setelah rest area perjalanan susur goa buniayu bukannya semakin santai tetapi semakin berat saja. Rasanya ingin segera menuntaskan perjalanan ini dan kembali ke atas. Keringat mulai membanjiri tubuh saya karena ternyata harus menyebrang lagi dan kali ini kedua tangan harus berpegangan dengan seutas tali yang sudah direkatkan pada dinding goa. Cara menyebaranginya pun punggung badan harus bersenderan pada batu dibelakangnya dan kaki kiri dan kanan mencari pijakan yang kuat untuk melangkah. Kedua tangan tidak boleh melepaskan tali karena kedalaman tempat yang akan disebrangi sekitar 5 meter. Salut saya dengan pak Kamal yang merentangkan kakinya untuk membantu saya menyebrang padahal saya sudah sangat ketakutan.

Setelah bagian yang menegangkan , selanjutnya melewati sungai kecil yang cukup deras tingginya sepaha saya. Pelan-pelan saya melangkah. Ada rasa menyesal dan kapok ikut caving ini tetapi apa ada saya sudah jauh melangkah dan tidak mungkin kembali. Kesabaranlah yang menuntun saya melalui sungai kecil dan masuk ke lokasi selanjutnya yang penuh dengan lumpur. Dan pantas saja kalau pak Kamal menyarankan setelah dari rest area agar camera diselamatkan atau disimpan karena jalur yang dilalui tidak ada celah untuk memotret. Bener banget .. selama susur goa ikuti deh saran dari guidenya kalau mau aman dan selamat.

Benar-benar melelahkan ketika kaki melewati lumpur-lumpur yang mungkin tidak pernah mengering itu. Tebal seperti semen dan bisa membuat sepatu boot terlepas ketika kaki akan melangkah. Belum lagi di atas kepala kami stalagtitnya sangat rendah, setengah menunduk jalannya. Sepatu boot yang sudah licin dan penuh air ketika di tempat tersebut menjadi penuh lumpur. Bunyi – bunyian seperti ngulek cabai terdengar jelas begitu kaki bersentuhan dengan lumpur. Benar-benar sensasi yang luar biasa menguras tenaga.

Masih belum selesai perjuangannya lepas dari lumpur, selanjutnya adalah naik tebing untuk sampai ke atas. Untunglah ada tangga besi kecil yang digunakan untuk sampai ke atas. Pelan-pelan dengan berpijak pada anak tangga yang terbuat dari besi tersebut dan bersender pada dinding tebing akhirnya sampai juga di atas. Lemes , ngantuk , lelah dan lapar mulai menyerang saya. Tetapi perjalanan belum selesai masih harus melewati lumpur dengan batuan stalagtit yang rendah. Sehingga jika ingin menyebranginya harus menunduk atau sambil duduk. Sangat licin karena lumpur yang sudah melekat di baju dan tangan, tetapi untunglah akhirnya bisa juga dilalui dengan mendorong badan dengan bertumpu pada kaki kanan.

Setelah perjuangan melewati semua itu terakhir adalah melewati tangga untuk sampai akhir susur goa. Menyenangkan sekali begitu melihat cahaya matahari akhirnya perjalanan susur goa sudah selesai. Saya langsung tergeletak di ladang milik penduduk setempat. Tidak menyangka akhirnya selesai juga perjalanannya. Setelah minum sedikit , perjalanan dilanjutkan ke kawasan air terjun. Disana membereskan diri karena baju wearpak yang dipakai sudah penuh dengan lumpur.

Agak jauh untuk sampai ke air terjun tetapi semua letih akan terbayar begitu badan terkena derasnya air yang mengalir. Kemudian mencuci baju juga sepatu boot yang sudah penuh dengan lumpur setelah itu kembali ke basecamp untuk mengembalikan semua perlengkapannya.

Ada rasa puas dan bersyukur setelah selesai caving / susur goa buniayu.Apalagi ke goa buniayu pertama kalinya saya ke tempat ini. Memang terasa berat perjuangannya ketika berada di dalam goa. Buat saya setelah ikuti caving ini adalah sebuah petualangan yang agak menyerempet nyawa , mungkin lebih baik memperhatikan keamanan perlengkapan dan bukan tempatnya untuk ajang main-main. Terpenting juga ikuti petunjuk guidenya karena mereka yang lebih kenal medannya seperti apa. Memang menyenangkan karena mencoba hal yang baru dan menantang tetapi keselamatan diri sendiri lebih penting.

note :

*ongkos kl.deres - sukabumi : Rp 20.000

*patungan sewa mobil ke buniayu @Rp 17.000 x 9

*Htm goa : Rp 80.000/orang termasuk perlengkapan + guide

*alternatif mobil ke bogor @Rp 13.000

*bogor - kl deres : Rp 10.000,-

buniayu, sukabumi, 01 Agustus 2010

http://g1g1kel1nc1.blogspot.com
rek BCA 647 0100 085
veronica setiawati

Friday, July 09, 2010

Indahnya matahari pagi di Pangandaran

Saya belum pernah menyaksikan keindahan matahari pagi dari pantai. Tetapi di pantai timur Pangandaran saya dapat melihat keajaiban matahari pagi muncul dari balik air laut.

Pukul 6 pagi saat mata masih ngantuk dan badan masih ingin menyatu dengan selimut yang tebal, tetapi karena keinginan yang besar melihat sunrise membuat saya segera bangun. Padahal semalam hujan , saya agak tidak yakin kalau akan mendapat matahari pagi. Tetapi begitu melihat cahaya terang dari balik jendela kamar hotel terlihat tanda pagi yang cerah, segera saya melarikan diri dari kamar.

Letak pantai timurnya tidak begitu jauh. Ada akses sebuah jalan di sebelah hotel Pantai Jaya, tempat saya dan teman-teman ziarek menginap. Saya mengetahuinya juga ketika tiba malam hari di Pangandaran, saya dan teman-teman beramai-ramai melewati jalan ini menuju tempat makan seafood berjejer di pinggir pantai untuk makan malam.

Saat pagi itu , saya berjalan kaki sampai dipinggiran batu-batuan pantai Pangandaran. Ternyata tepi pantai sudah ramai, namun terlihat genangan air bekas hujan semalam. Langit memang terlihat mendung. Angin terasa sangat sejuk dan deburan ombak terdengar sangat kencang. Saya memandang laut didepan saya tanpa batas dan halangan.

Di kejauhan sana sebuah perahu nelayan bergerak perlahan menuju tengah lautan . Dibelakangnya tampak juga sebuah gunung berasap nun jauh disana.

Saya masih berharap melihat matahari terbit. Langit disebelah timur juga belum masih belum menampakan sinar matahari karena tertutup awan kelabu dan sebagian warnanya kebiruan. Sedangkan sudah banyak orang berjejer dipinggiran pantai menunggu matahari pagi atau sekedar menikmati pagi hari di pantai yang pernah terjadi tsunami ini. Tetapi penantian saya dan mereka semua tidak sia-sia, sedikit demi sedikit cahaya emas itu mulai menampakan diri dari balik bukit didekat laut itu. Cantik sekali..

Mendung yang menyelimuti pagi perlahan sirna seiring cahaya matahati pagi meninggi. Entahlah saat melihat matahari terbit hati saya melonjak kegirangan. Mungkin karena indahnya atau karena memang sedang terpesona. Terselip ucapan syukur dihati saya karena masih dapat melihat matahari terbit dengan sempurna seperti ini.

Setelah selesai menyaksikan pesona matahari terbit di pantai Pangandaran saya kembali ke penginapan. Di warung-warung , tempat semalam kami makam malam, sudah mulai bebenah. Pantai timur Pangandaran memang untuk nelayan yang mencari hasil laut. Bau – bauan dari hasil laut pun terasa kuat. Saya bergegas untuk kembali untuk mempersiapkan perlengkapan menuju tujuan berikutnya.

Pantai Pangandaran, 30 May 2010

Veronica Setiawati

Sunday, July 04, 2010

Akhir Ziarek Di Gua Maria Kaliori - Banyumas

Siang hari yang terik sampailah di Gua Maria Kaliori. Inilah pertama kalinya saya mengunjunginya. Di halaman parkir kendaraan ada sebuah pendopo yang cukup besar. Sebelah kanan pendopo terdapat area pemakaman. Batu nisannya dibuat besar-besar . Ada yang setengah melingkar, ada yang seperti atap gereja , tetapi ada juga yang belum terpasang batu nisan. Bentuknya menarik sekali karena di sana terpasang juga patung malaikat – malaikat. Lalu uniknya lagi tulisan-tulisan yang ada di

batu nisan, selain nama yang meninggal juga tercantum nama keluarga yang ditinggalkan serta beberapa kalimat diambil dari alkitab tertulis juga disana.

Di ujung anaktangga yang paling atas dimana anak tangga ini membelah lokasi pemakaman ini terdapat patung bunda Maria, berwarna putih yang merentangkan kedua tangannya. Mungkin sebagai symbol bahwa sang bunda menerima roh mereka yang telah meninggal. Jika dari pintu masuk gerbang ada juga patung Yesus yang merentangkan kedua tanganya sebagai symbol Ia menerima setiap orang yang datang.

Untuk sampai ke gua maria, jalannya cukup mendaki. Diakhir akan menemui sebuah tempat penjualan souvernir atau benda-benda rohani. Dan ada juga sebuah patung Pieta dengan ukuran yang cukup besar seperti yang ada di Gereja Kathedral Jakarta. Patung Pieta ini menceritakan derita seorang ibu yakni Bunda Maria yang menerima tubuh Putranya Yesus Kristus yang telah wafat, setelah diturunkan dari kayu salib, dalam pangkuannya. Patung pieta ini diberkati oleh Mgr Leopoldo Girelli seorang dubes Vatikan untuk Indonesia pada tanggal 21 September 2008.

Di lokasi gua maria kaliori ada juga sebuah gereja namanya Gereja Ratu Surga Kaliori yang melayani misa kudus

hanya pada hari Minggu setiap pukul 09.00 pagi. Saya dan teman-teman ziarek KKMK KAJ datang hari sabtu siang. Namun karena para panitia sudah janji lebih dahulu, kami pu

n dapat merayakan misa syukur di kaliori sebagai rangkaian akhir dari perjalanan ziarah dan doa. . Gereja Kaliori yang masuk ke dalam keuskupan

Purwokerto ini di layani oleh para pastor OMI ( Oblat Maria Immakulata ).


Di dalam gereja yang berwarna putih, nampak sederhana sekali isinya. Hanya beberapa baris bangku umat, altar dan tempat duduk yang terbuat dari kayu untuk para pastor dan misdinar. Lukisan kaca yang besar di atas kayu salib. Lukisan kaca tersebut menceritakan tentang sosok Maria ketika menerima kabar dari malaikat , kemudian kisah natal dan ketika ia naik ke surga digelari ratu surgawi.

Tidak jauh dari gereja terdapat lokasi Gua Maria dengan halamannya yang sangat luas. Dikelilingi dinding batu dan pohon-pohon besar yang rindang. Menariknya di gua maria kaliori sebuah taman Rosario hidup dekat lokasi jalan salib, kemudian ada tujuh gua maria yang kecil dimana setiap gua maria memilki pancuran air masing-masing. Menariknya lagi adalah patung maria yang ada di gua yang paling besar diberkati langsung oleh Alm. Bapa Suci Yohanes Paulus II sewaktu beliau berkunjung ke Indonesia.

Tidak banyak memang yang bisa diceritakan dari gereja kaliori. Tetapi rangkaian akhir perjalanan ziarah dan doa penutup yang harus saya aminkan. Apapun jawaban dari ziarah dan doa saya tetap percaya bahwa Tuhan sang pencipta itu tak pernah tutup mata. Jika Ia mau membuka keduatangannya bagi siapapun yang datang pasti demikian juga Ia terbuka terhadap permohonan dan doa-doa yang benar-benar dipanjatkan dengan kesungguhan hati..



Kaliori , 29 Mei 2010

Veronica Setiawati

Nb : makasih buat Alif yang telah menyempatkan diri menemui saya di sini. ;D

Monday, June 21, 2010

Wisata Alam Yang Menarik Di Baturraden

Siapa yang akan menyangkal keindahan alam Baturraden? Begitu kaki berada di tengah-tengah kawasan wisata alam di daerah Baturraden pasti akan berdecak kagum. Seperti ketika saya mengunjungi sebuah tempat wisata alam telaga sunyi dan curug gede dengan hutan alamnya.

Begitu melihat pintu gerbang telaga sunyi yang terletak ditengah-tengah pohon pinus, hati saya sedikit meragu apa iya ini tempatnya. Dengan membayar tiket masuk saya menyelidiki wisata alam seperti apa yang ditawarkan dari tempat ini. Ternyata sebuah telaga. Entah mengapa dinamakan telaga sunyi , mungkin karena letaknya yang tersembunyi jauh dari keramaian dan memang sunyi.


Tempatnya memang sangat cantik dan menarik. Ditumbuhi pohon-pohon besar dan lebat. Licin dan berlumut jadi harus berhati-hati apalagi kalau hujan besar , pengunjung segera meninggalkan tempat ini karena keadaan sekitarnya yang memang membahayakan keselamatan. Sebelum sampai ke telaga terdapat aliran sungai jernih sekali tetapi batu-batuanya sangat besar dan tajam. Oleh sebab itu disepanjang jalan menuju telaganya dibatasi dengan pagar kayu.


Agak ketengah warna air hijau tua. Cukup dalam kelihatannya dan tenang. Saya mencoba menyebranginya dan berdiam di bebatuan di sana. Beberapa rombongan ibu-ibu mulai berdatangan. Mereka berpoto dan ingin menyebrang namun karena takut jatuh mereka mengurungkan niatnya dan berdiri dekat telaganya.

Telaga sunyi memang sangat lembab dan dipenuhi tumbuhan pakis dan lumut. Di telaganya juga terdapat air terjun yang kecil. Dinding-dinding sekitar telaga juga begitu menarik dan terkesan angker. Kedalamannya sekitar 7 meter. Dari air terjun ini mengalir sampai ke sungai yang penuh dengan batu-batuan bercadas tersebut. Tetapi jika untuk menikmati keindahan alamnya saya senang sekali disini karena kesunyiannya.


Lain halnya dengan kawasan lain di sekitar baturraden juga yakni curug gede. Awalnya hanya untuk mencari desa ketenger yang dijadikan desa wisata. Tetapi kenyataannya saya masuk ke dalam sebuah kawasan yang tersambung dengan aliran pipa yang berasal dari sebuah PLTA yang ada di sana ( Kolam Tando Harian ) . Kemudian saya melewati sebuah jembatan yang terbuat dari besi. Sudah rusak dan harus dilewati satu orang bergantian.


Dibawah jembatan besi tersebut mengalir air yang sangat deras. Waahh saya pusing harus berjalan diatas jembatan besi ini terpaksa saya jalan perlahan-lahan sambil memegang tali besi yang ada disepanjang jembatan. Ngeri sekali tetapi untunglah selamat walaupun kaki saya gemetaran.


Menyenangkan sekali setelah dari jembatan besi ini masuk menyusuri hutan. Kehujanan pula. Untunglah saya mengenakan raincoat. Tetapi banyak binatang kecil seperti cacing menghisap darah dikaki saya. Hutannya sangat lembab dan penuh tanaman berdurinya.


Jalan pulang melewati sungai yang cukup besar.huufff senang rasanya bisa minum dari air sungai yang bersih ini karena saya haus dan cukup panjang perjalanannya. Dari sungai ini melewati persawahan milik penduduk dan sampailah di desa tetapi harus menyebrangi sungai lagi, rasanya sudah lelah untuk berjalan.


Ketika perjalanan pulang, ada sebuah tempat yang bagus namanya curug gede. Dekat penginapan. Curugnya tidak tinggi tetapi debit air yang dicurahkannya besar jatuh ke atas ceruknya. Kedalamannya sekitar 5 meteran. Beberapa orang memanfaatkan untuk mandi. Ada yang menggunakan ban untuk berenang ke tengah. Untuk sampai mendekati curug , saya berjalan kaki menyusuri sungai yang berbatu. Dan saya merasakan hempasan air dari curug yang dingin. Tidak akan pernah membosankan berjalan-jalan menikmati wisata alam yang disuguhkan dari sebuah tempat yang bernama Baturraden, Banyumas. Begitu banyak potensi alam yang dapat dinikmati tanpa harus merusak yang sudah ada.

Baturraden , 27 Februari 2010

Veronica Setiawati

Thanks to Oim sebagai tour guidenya

Gua Maria Tritis yang sunyi dan misterius


Saya menyukai Gua Maria Tritis karena letaknya yang benar-benar di dalam goa yang alami. Langit-langitnya adalah batuan stalaktit yang meneteskan air. Oleh sebab itu gua maria ini dinamakan Tritis yang dalam bahasa Jawa berarti ‘tetesan air’. Air yang menetes tersebut ditampung dan dapat digunakan sebagai obat atau untuk dibawa oleh mereka yang datang ke gua maria ini.

Letak gua maria tritis ini memang jauh dari pemukiman penduduk tetapi tidak jauh juga dari pantai selatan. Karena lokasinya yang memang gunung kapur sehingga akses masuk kendaraan menuju tempat ini terbilang sangat susah. Dari tempat parkir ke arah lokasi untuk jalan salib saja sekitar 400meter dan bersiaplah menanjak dengan berjalan kaki.


Gambar-gambar setiap perhentian jalan salib diletakan pada sebuah dinding batu yang cadas. Lengkap dengan tempat menaruh lilin. Jika tidak membawa lilin , penduduk sekitarpun ada juga yang menawarkan lilin bagi peziarah yang membutuhkannya. Lokasi dari perhentian jalan salibnya bener-bener sunyi karena sebagian besar itu hutan dan belum terlihat lampu penerangan jalan. Tetapi jalan setapak yang dilewati tiap perhentian sudah ditata.


Ketika perjalanan jalan salib mendekati gua , bisa dilihat dengan jelas dinding-dinding batunya ada tetesan air dan ditumbuhi pohon pakis. Untuk signal sepertinya tidak terjangkau. Dari kejauhan terlihat gua yang besar nah disitulah gua marianya. Saya jadi teringat saat mengikuti susur goa cereme di jogja beberapa tahun yang lalu, seperti itulah pintu mulut goanya. Besar dan pemandangan batuan stalagmite dan stalagtitnya sudah menyapa saya dan teman-teman terlebih dahulu. Rasanya ingin segera menuntaskan rangkaian jalan salib dan masuk ke dalam goa tetapi rombongan yang didepan kami belum selesai beribadat.


Begitu saya memasuki ke dalam gua, pesona gua maria tritis membius saya. Indahnya patung bunda maria berdiri diujung sana berwarna putih di tutupi batu-batuan yang seperti bertempelan. Namun saat itu ada kelompok peziarah lain yang sedang mengadakan misa kudus jadi saya hanya bisa memandangi dari kejauhan saja. Melihat beberapa teman mendekati patung maria , saya pun ikut menuju ke sana untuk menaruh lilin dan berdoa disana letaknya persis di hadapan patung bunda maria. Saya juga tak henti-hentinya menengadah melihat batu-batuan yang ada di atas kepala saya karena begitu menarik dan alami. Saya senang berada didalam gua yang sunyi seperti ini.


Setelah misa yang diadakan kelompok peziarah yang lain telah selesai. Kami pun duduk beralaskan karpet berkumpul berdoa bersama tetapi ada sebagian karpet yang basah karena tetesan air dari batuan stalatit tersebut. Namun harus hati-hati karena karpet tersebut ada yang licin dan penuh tanah.


Keindahan goa maria Tritis memang tidak diragukan. Tidak jauh dari altar ada salib besar, kalau mendekatinya ya harus berusaha sedikit menanjaki batuan. Beberapa penduduk sekitar memanfaatkan tetesan air untuk diberikan kepada para pengunjung dan dari air tersebut mereka mendapatkan penghasilan. Kesunyian gua maria tritis juga membuat saya bersatu dengan alam dan Tuhan. Pesonanya tidak akan pernah habis walau jarak yang harus ditempuh sangat susah , bertandus karena melalui gunung kapur.

Inilah yang menarik sebuah perjalanan tentang peziarahan dan hidup manusia untuk mencari sang pencipta yang maha cinta. Walau berat , susah dan jalannya tandus berliku bahkan sangat jarang orang yang mengunjungi tetapi demi cinta kepada sang Ilahi pasti akan sampai juga karena ada niat tulus untuk bertemu denganNya.

Gua Maria Tritis, 28 Mei 2010

Veronica Setiawati

Ganjuran yang Tradisional.

Ketika kaki memasuki halaman parkir Gereja Ganjuran , saya dan teman-teman ziarek disambut oleh dua orang bapak yang memang sebagai penerima tamu. Mereka memakai pakaian jawa lengkap dengan blankon ( penutup kepala ) , baju beskap atau pakaian yang dikenakan kartun doyok dan kain panjang. Dari pintu luar halaman gereja pun sudah terlihat bentuk bangunan gereja yang menyerupai rumah joglo , rumah adat Jawa Tengah.


Saya berdiri di tengah halaman tengah kompleks gereja. Berdecak kagum melihat bangunan unik yang ada dihadapan saya. Namun karena kami hendak berdoa bersama-sama dahulu maka saya dan teman-teman mencari tempat berkumpul di sebuah tempat dekat candi hati kudus Yesus. Ooh yaa Candi Hati Kudus Yesus inilah yang membuat menarik dari Ganjuran.

Setelah selesai berdoa bersama, diberi kesempatan untuk waktu pribadi dan saya pergi ke dalam gerejanya. Tidak ada pintu, semua terbuka dari segala sisi. Tiang-tiang penyangganya dominan berwarna hijau. Di bagian tengah gereja terdapat empat pilar besar berdiri menahan langit-langit gereja yang terbagi empat bagian. Ukiran yang terdapat di setiap tiang penyangga sangat menarik karena berwarna hijau, kuning emas serta dipadupadankan dengan kursi kayu yang memanjang lengkap dengan tempat berlututnya. Menambah sejuk ketika berada ditengah-tengah atau duduk didalam gereja.


Pada bagian altar didominasi warna keemasan. Di belakang altar terdapat replika dua orang malaikat bersayap yang bersembah sujud menghadap sebuah tabernakel. Dibagian atas ada lukisan lidah api dan burung merpati yang merupakah symbol dari Roh yang berasal dari Allah. Sebelah kiri dan kanan altar terdapat replika dari Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus. Dan sebelah kanan gereja, ada sebuah ruangan agak diluar terdapat alat-alat musik tradisional jawa. Disebelahnya persis terdapat bangunan yang dipakai sebagai pastoran dan sekretariat gereja ganjuran . Bangunan ini diresmikan oleh Bupati bantul Drs. H.M Idwam Samawi pada tanggal 23 Agustus 2009.

Diseberang gereja ada dua buah pendopo yang cukup besar. Dapat digunakan pengunjung atau para pengantar untuk beristirahat. Jika diperhatikan dibagian atas luar pendopo terdapat lukisan kaca yang menggambarkan dua orang malaikat sedang menyembah seorang raja di tengah mereka. Selain yang ada di atas bangunan pendopo , terdapat gambar dan replika tokoh-tokoh Yesus dan Maria , para malaikat. Semua gambar yang ada di lokasi gereja Ganjuran juga sangat tradisional pakaiannya seperti pakaian yang ada dalam wayang orang atau seperti yang ada pada candi Prambanan. Gaya arsitektur dan tradisi jawa sangat-sangat kental terasa jika berada di gereja Ganjuran. Begitupun yang terdapat pada tempat-tempat perhentian setiap jalan salib.

Menurut sejarahnya Gereja Ganjuran ini dibangun atas dasar sebuah ucapan syukur karena berkat yang melimpah. Bangunan gereja Ganjuran yang luasnya sekitar 2,5 ha ini dibangun oleh keluarga Schumutzuer pada tanggal 16 April 1924 dan mempunyai sebuah candi yang letaknya dipojok kompleks gereja. Mereka sekeluarga bersyukur bisa terlepas dari krisis kepanjangan serta memberi kemakmuran bagi para karyawan pabrik Gula nya juga masyarakat sekitarnya. Sehingga sampai sekarang gereja dan candi hati kudus yesus dijadikan tempat perziarahan dan ucapan syukur serta permohonan umat katolik.


Pelataran candi cukup luas dapat dipakai umat yang datang untuk berdoa, meletakkan lilin doa. Air suci yang diambil di sisi kanan candi dari sumber air juga terdapat di sebelah kanan candi dekat dengan toko souvernir. Untuk memasuki pintu masuk candi pun hanya disarankan dua orang saja karena memang pintunya sangat kecil hanya cukup dua orang. Ketika sampai di dalam pun pendoa hanya bisa bersila atau duduk dengan memakai lutut dihadapan replika Yesus yang menunjuk hati-Nya. Dari gambar inilah maka sehingga candi ini dinamakan Candi Hati Kudus Yesus. Kemudian jika hendak masuk ke dalam candi diwajibkan berjalan sungkem atau menggunakan lutut bila menaiki anak tangganya. Begitupun jika turun tidak boleh membelakanginya melainkan berjalan mundur sampai dipelataran candi. Mereka yang datang biasanya mempunyai ujud dan permohonan doa.


Seperti yang tadi saya sebutkan, di sebelah kanan candi terdapat pancuran air yang digunakan untuk mencuci muka. Jika ingin membawa pulang dapat ditampung pada sebuah tempat/jerigen kecil untuk di doakan dengan diletakkan pada pelataran candi. Bila ingin membeli tempat untuk jerigen air dapat dibeli di kedai yang tidak jauh dari candi. Harganya juga sangat terjangkau. Selain itupun terdapat juga benda-benda rohani, kaos, lukisan, dan lainnya.


Gereja dan candi hati kudus Yesus ganjuran ini pun telah diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono XI dan terdapat prasastinya di dalam gereja. Sewaktu gempa melanda Jogjakarta, bangunan gereja mengalami kerusakan dan baru selesai direnovasi. Tetapi bangunan candi tidak mengalami kerusakan apapun. Selain itu terdapat juga prasasti ucapan syukur yang diperbarui oleh Mgr Yustinus Kardinal Darmoyuwono. Disebelah kiri candi terdapat sebuah bangunan lain yang berisi alat-alat musik tradisional jawa, mungkin digunakan jika ada acara-acara tertentu.

Di dekat lokasi gereja ada tempat untuk mandi. Ada sebuah ketentuan tidak tertulis setempat jika mandi di air pancuran tersebut disarankan untuk tidak memakai sabun mandi ataupun menggunakan handuk. Karena air pancuran tersebut akan kering dengan sendirinya dibadan. Kebetulan pikir saya, sebab cukup lumayan badan saya sudah lengket semalaman perjalanan dibus ya akhirnya saya mandi.

Bersyukur sekali saya dapat menginjakan kaki ditempat ini. Gereja dan candi yang sangat sarat dengan tata cara tradisional jawa dan baru kali ini saya kunjungi.

Tempat yang unik dan menarik dimana masih tersimpan budaya jawa yang cukup kental. Bahkan ketika saya melihat di jadwal misa terdapat beberapa hari yang di tentukan masih memakai bahasa jawa. Dan setiap akhir bulan Juni ada prosesi atau perarakan Sakramen Mahakudus di pelataran candi serta menggunakan tradisi Jawa.

Gereja dan Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran , 28 Mei 2010

Veronica Setiawati