Kraukk.com

728 x 90
Showing posts with label kotatua. Show all posts
Showing posts with label kotatua. Show all posts

Saturday, September 13, 2014

Melaju Ke Kampung Tugu



Masih cerita perjalanan saya menuju Marunda yang berada di kawasan Utara dari Ibukota Jakarta ini, seakan tak lengkap bila tidak melanjutkan untuk singgah di Kampung Tugu.  Hati menjadi penasaran untuk alasan apa sehingga disebut Kampung Tugu dan lestari hingga saat ini.

Asal nama Tugu ternyata beragam versi. Pertama, karena ditemukannya sebuah prasasti tugu peninggalan kerajaan Tarumanegara di wilayah Cilincing ini, maka dinamai tempat penemuan tersebut adalah Tugu. Diduga juga , disekitar wilayah tersebut merupakan kerajaan dari Raja Purnawarman.

Prasasti Tugu dengan lima baris kalimat berhuruf palawa menyingkap pembuatan kanal dari Sungai Candrabagha (Kali Bekasi) dan Kali Gomati (Kali Cakung) sepanjang 11 kilometer. Diperkirakan pembuatan kanal itu memiliki dua tujuan, yaitu meredam banjir dan untuk irigasi pertanian.

Versi lainnya lagi nama Tugu berasal dari kata Por-tugu-ese (Portugis).  Sejak penjajah Belanda masuk Nusantara dan menang dari Portugis, dan tentara Portugis yang menjadi tawanan di tempatkan dalam satu wilayah di daerah Cilincing ini kemudian menjadi satu perkampungan. Sehingga kawasan yang dihuni oleh orang-orang Portugis ini di beri nama Kampung Tugu. Dan sekarang mereka telah membaur dari sejak awal silsilah keturunan mereka.  

Versi lainnya , berarti yang ketiga ya. Nama Tugu berasal dari nama pembatas  wilayah yang waktu itu banyak terdapat di daerah ini.  Nama Tugu sekarang diabadikan untuk nama kelurahan, tetapi dahulu nama Tugu dipergunakan untuk menyebutkan nama tempat, misalnya Kampung Tugu Batu Tumbuh, Kampung Tugu Rengas, Kampung Tugu Tipar, Kampung Tugu Semper, dan Kampung Tugu Kristen.

Dahulu wilayah Tugu ini merupakan tempat yang luas tanahnya yang dipergunakan untuk area persawahan penduduknya. Lama kelamaan semua itu dijual dan berubah menjadi tempat penyimpanan container yang keluar masuk pelabuhan Tanjung Priok. Bahkan akan sangat sulit ditemukan bentuk rumah asli dari penduduk Tugu ini. Hmm.. sangat disayangkan yah, kini hanya tinggal ceritanya saja.

Di Kampung Tugu, ada sebuah peninggalan sejarah yang sampai saat ini di lindungi , yakni sebuah bangunan rumah ibadah yang dikenal dengan nama Gereja Tugu. Sebuah Gereja yang dibangun oleh pemerintahan Kolonial Belanda untuk tawanan Portugis ini. Mereka dahulu memaksa untuk mengubah keyakinan para tawanan dan keturunannya ke Kristen Protestan.  Kemudian selanjutnya pada Tahun 1960 Gereja Tugu yang berlokasi di Jl. Raya Tugu Semper No. 20, RT 010/06, Kel Semper Barat, Jakarta Utara, ditetapkan dan di syahkan masuk menjadi anggota penuh GPIB.

Bentuk bangunan gerejanya mengingatkan saya akan Gereja Sion yang terletak di ujung jalan Pangeran Jayakarta , Kota. Bangunan yang juga merupakan gereja portugis diluar kota. Dan kedua bangunan tersebut memiliki bentuk arsitektur dan tata letak ruangan yang hamper serupa. Bagian dalam ruangan , terdapat barisan tempat duduk yang dahulu di gunakan untuk para kaum bangsawan dan barisan tempat duduk yang menghadap ke mimbar/altar adalah untuk para budak,awam atau orang biasa.

Di belakang gereja juga terdapat satu lokasi tempat pemakaman dan kalau dilihat dari nama-nama yang terdapat pada batu nisan tersebut, mereka yang dimakamkan adalah kaum keluarga dari orang-orang keturunan Portugis dengan nama belakang mereka . Komplek pemakaman ini bukan sembarangan komplek seperti pemakaman umum, Mayarakat tugu sepakat untuk membuat komplek pemakaman ini khusus bagi warga keturunan portugis. Yang dimakamkan disana ada kaitannya dengan pembangunan Gereja pada saat itu. Nenek moyang mereka yang dimakamkan disana lah yang membangun gereja GPIB Gereja Tugu..

Gereja Tugu juga memiliki Lonceng gereja yang terletak sekitar 50 meter dari gedung gereja. Anak lonceng yang tua kini di museumkan dan masih dapat dilihat. Dalam sebuah kotak kaca di teras sebuah rumah yang ada di dalam kompleks gereja tugu.

Uniknya pintu utama gereja tidak menghadap ke jalan raya , seperti saat saya masuk ke dalam komplek gereja. Melainkan menghadap ke sebuah sungai kecil yang tidak jauh dari pekarangan gereja.  Mendengar cerita ternyata sungai kecil yang merupakan aliran dari Sungai Cakung ini merupakan jalur transportasi yang digunakan oleh warga sekitar atau mereka yang akan beribadah.  

Dan hal ini jadi muncul dipikiran saya. Mungkin saja dahulu kala ada halte untuk pemberhentian perahu , sehingga diketika ada penumpang yang turun di gereja tugu , maka petugas yang menjalankan perahu akan menepikan perahunya. Atau bisa saja seperti sekarang transportasi mahal adalah mobil pribadi, mereka pun juga punya perahu pribadi sendiri. Bisa jadi begitu kan, ya?? hehe..

Salam dari Penjelajah Kota Tua
Veronica  Setiawati
Jkt, 31 Agst 2014

Saturday, September 06, 2014

Marunda, Mencari Rumah Si Pitung.



Marunda saat ini sedang naik daun, karena pemerintah DKI Jakarta tengah memperbaiki tata kota wilayah di utara kota Jakarta ini. Sepanjang perjalanan mungkin terasa gersang. Yahh memang karena wilayah ini sangat dekat dengan laut. Bahkan perluasan pelabuhan tengah dilakukan saat ini.


Karena wilayah Marunda dekat dengan laut maka tentu akan dijumpai kawasan desa nelayan, dimana dapat dilihat penduduk nelayan yang sederhana dengan tempat tinggal yang dari bambu dan kayu, jauh dari kesan mewah.  Bahkan pemandangan para nelayan yang sedang menjala ikanpun dapat dilihat disini.  Tempat makan yang menghidangkan khas makanan laut dengan posisi menghadap ke pesisir pantai pun dapat dijumpai.


Lebih uniknya lagi, pada saat saya berkunjung ke pesisir utara Jakarta ini , ternyata di sekitar Marunda ini terdapat situs sejarah yang terkenal, yakni Rumah Si Pitung. Bagi masyarakat betawi pada masanya tentu nama Si Pitung ini tidaklah asing bagi telinga mereka. Tokoh pembela rakyat kecil yang disebut sebagai pahlawan mereka dari penjajahan Belanda.


Rumah Si Pitung, adalah sebuah rumah panggung terbuat dari kayu dan bentuknya memanjang.  Walaupun sekarang sudah mengalami renovasi pada bagian dasarnya , namun bentuk bagunan inti dari rumah ini tidak lah mengalami perubahan. Beberapa anak tangga  dari kayu yang digunakan sebagai jalan masuk menuju pintu utama masih tetap terjaga.  Dan disarankan bagi para pengunjung yang akan menaiki anak tangga untuk memasuki rumah tersebut dibatasi lima orang saja.


Mungkin banyak orang yang datang melihat Rumah Si Pitung ini akan bertanya, termasuk dengan saya juga, kenapa disebut rumah si Pitung? Apakah benar Si Pitung yang selalu lolos dari incaran penjajah Belanda ini benar tinggal disini? Nah, untuk itulah saya datang “blusukan”.


Dari berbagai sumber di dapat , termasuk ketika mengikuti kegiatan Jelajah Kota Tua bersama Komunitas Jelajah Budaya, dari situlah saya mengetahui bahwa Rumah Si Pitung yang sekarang menjadi situs sejarah ini dahulu sering di datangi oleh Si Pitung.  Dan karena SK Gubernur DKI Bpk  Ali Sadikin yang menjadikan Rumah Si Pitung ini sebagai salah satu tempat cagar budaya. Beruntung  kita punya salah satu pemimpin yang masih perduli dengan situs sejarah dan tidak meruntuhkan pada masa pemerintahannya. Jadi masyarakat Betawi khususnya dapat mengenal bahwa ternyata punya sosok pahlawan.


Di dalam Rumah Si Pitung dapat dibaca kisah dari perjalanannya yang mengalami “broken home” dan menjalani hidupnya sebagai seorang peternak. Uniknya selain membantu mencari nafkah untuk ibunya, Si Pitung ini juga mencuri untuk mencukupi kebutuhan rakyat miskin disekitarnya. Dan terakhir dikisahkan diusianya yang masih muda , sekitar usia 28 tahunan,  ia menghembuskan nafas yang terakhir. Ia di tangkap dan di tembak oleh penjajah Belanda karena penghianatan dari beberapa rekannya. Semoga semangat perjuangannya untuk membantu sesamanya yang kekurangan dapat ditularkan kepada generasi anak bangsa selanjutnya.


Oiaaaa, soal Rumah Si Pitung banyak yang unik loh dari perabotan rumah, ukiran, furniture yang dipasang di dalamnya. Mata seakan dimanjakan dan memory pengunjung seperti saya yang baru pertama kali datang , seakan dibawa ke masanya dahulu. Dinding yang tebuat dari kayu dan beberapa besi tua sebagai penyangga serta  semilir angin laut dapat membuat betah berlama-lama menikmati kesederhanaan rumah yang bercat coklat ini.


Rumah yang bentuk memanjang ini mempunyai beberapa ruang. Beranda atau teras tepat ketika menaiki anak tangga. Kursi , meja, kaca hias tempo dulu yang menempel di dinding dapat dengan jelas dilihat. Kemudian ruang tengah atau ruang tamu. Dan beberapa lukisan serta pigura dari perjalanan riwayat Si Pitung terpajang untuk dibaca. Kemudian ada kamar tidur lengkap dengan meja untuk berdandannya. Lalu bagian ruangan tempat berkumpul untuk makan bersama , lalu ruangan dapur lengkap dengan peralatan dapur yang masih memakai tungku dan terakhir adalah ruang teras belakang.


Rumah tersebut di dalam satu area yang dipagari dengan tembok. Sekarang selain rumah panggung si Pitung , juga dibangun dua buah bangunan yang serupa. Mungkin digunakan sebagai tempat penjualan hasil karya dari desa atau penduduk disekitar Pantai utara Kota Jakarta tersebut. Sehingga situs budaya sejarah yang sudah ada tetap lestari dan setiap orang yang datang dapat memperoleh cinderamata atau karya atau pengetahuan sejarah yang baru mengenai Rumah Si Pitung atau lebih lagi mengenai wilayah Marunda yang dahulu di kenal sebagai Marunda Kelapa.

Kan, asyik juga gaul  yah , sudah lahir di Jakarta dan tinggal lama di Ibukota eeh, tidak kuper untuk mengenal sejarahnya,.. Itu baru generasi top..Nantikan oleh-oleh perjalanan saya yang lain dari Marunda  ;d


Veronica Setiawati
Jkt, 31 Agustus 2014

Thursday, March 10, 2011

Benteng Pendem dan Nusakambangan

Benteng peninggalan pada masa penjajahan Belanda menjadi sebuah saksi sejarah di bumi nusantara. Bukti sejarah kokohnya benteng-benteng tersebut masih bisa dilihat dan dikunjungi. Kali ini saya menceritakan ketika jejajahi benteng yang berada di kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Benteng Karang Bolong.

Untuk dapat sampai ke Benteng Karang Bolong digunakan perahu motor nelayan dari pantai Teluk Penyu menuju kawasan Pulau Nusakambangan. Tidak sampai 15 menit sudah tiba di dermaga Nusakambangan bagian timur melewati Selat Segara Anakan. Sepanjang perjalanan menuju dermaga tersebut saya melihat dua buah kapal minyak yang sedang merapat serta hijaunya Nusakambangan.

Ketinggian pulau adalah antara 0 - 50 meter diatas permukaan laut. Di sebelah selatan,barat dan timur berbatasan dengan Samudra Hindia dan sebelah utara berbatasan dengan Selat Segara Anakan, Bengawan Donan, muara sungai Citanduy, dan kota Cilacap. Selain sebagai kawasan cagar alam, Pulau Nusakambangan juga terdapat perkebunan milik warga seperti kelapa.

Nusakambangan tidak berpenduduk kecuali disekitar dermaganya itupun hanya warung-warung makanan dibuka untuk kunjungan wisata atau sebagai tempat singgah penduduk yang akan mengambil panennya. Letak Benteng Karang Bolong berada di bagian timur Nusakambangan.Sedangkan penjara yang ada di Nusakambangan letaknya berada dibagian barat pulau. Dahulu, para napi yang ada diNusakambangan dipekerjakan untuk berkebun disini juga membangun rel kereta api dari Cilacap menuju Jogja.

Perjalanan menuju Benteng Pendem dari dermaga cukup melelahkan karena medannya yang berbukit serta melewati kawasan hutan belukar selain itu ditempuh dengan berjalan kaki. Di dalam kawasan hutan ini, ada sebuah pohon bernama Pohon Gondong. Pohon tersebut memiliki bebijian berwarna hijau, serta berfungsi sebagai penyimpanan air minum dan juga obat-obatan. Karena air disekitar pulau ini rasanya payau sehingga penduduk menggunakan pohon ini sebagai air minum mereka.

Gerbang Benteng Karang Bolong hampir tidak terlihat karena tertutup akar pohon. Sehingga dari jauh mirip sebuah kastil yang angker dan menyeramkan untuk didekati. Bangunanya berbentuk huruf U terbalik , seperti arsitektur pintu yang ada di Museum Bahari. Diantara bata-bata yang tersusun dan sangat tebal ini ada sebuah celah yang sengaja dibuat sebagai ventilasi udara. Luas benteng ini sekitar 6.000M2 dan digunakan oleh tentara Belanda sebagai benteng pertahanan. Menurut pemandunya sih dibangun sekitar tahun 1855.

“Dibawah kaki kita ini adalah benteng juga, tetapi belum digali (dibaca : ekskavasi).” Demikian yang dikatakan oleh pemandunya. Saya pun sungguh heran karena tingginya benteng bahkan sampai menembus ruang bawah tanah. Hanya sayangnya tertutup lumut dan akar pohon. Diperkirakan benteng ini terdiri 4 lantai dengan dua lantai berada di atas permukaan tanah dan dua lantai lagi berada di bawah permukaan tanah . Saya dan teman-teman dituntun oleh pemandunya menuruni anak tangga.

Ruangan yang ada dibawah tanah sangat gelap begitupun ketika menuruni anak tangga yang ada di dalam benteng. Lebih baik membawa senter atau headlamp. Selesai menuruni anak tangga akan menemukan sebuah lorong yang panjang. Lorong itu merupakan jalan dimana terdapat ruangan besar yang ada dikiri dan kanannya. Ada ruang aula, barak prajurit, ruang penjara dan ruang penyiksaan serta terdapat ruang pos jaga. Di luar lorong tersebut terdapat ruang pengintaian. Lubang yang mengarah ke laut digunakan sebagai tempat penembakan jika ada musuh yang datang. Ada juga sebuah meriam yang sangat panjang di dekat pantai. Oleh sebab itu Benteng Karang Bolong juga disebut sebagai benteng alteri sebab segala perlengkapan perang dan ruang-ruang penyimpanan amunisi tersedia di dalam benteng.

Pemandangan lain yang dapat dilihat tidak jauh dari Benteng Karang Bolong adalah pantainya. Pesona pantai laut selatan dengan pasir putih dan karang-karang yang ada ditepi pantai. Menurut pemandunya, konon terdapat lorong bawah tanah yang menghubungkan benteng ini dengan Benteng Pendem dengan melewati dasar laut.

Benteng Pendem

Tidak jauh dari pantai Teluk Penyu terdapat sebuah benteng yang juga merupakan benteng pertahanan tentara Belanda yang menjorok ke laut. Setelah medarat dari Pulau Nusakambangan, perjalanan selanjutnya adalah menjelajahi benteng Pendem.

Benteng Pedem dinamakan demikian karena terpendam dibawah tanah. Dalam bahasa Belanda dinamakan “Usbatterij Op De Lantong Te Tjilatjap”. Benteng Pendem dibangun secara bertahap pada tahun 1861 - 1879. Benteng ini dibangun karena letaknya yang strategis untuk pendaratan dan pantainya terlindung oleh Pulau Nusakambangan.

Sejarah Benteng Pendem ini menurut synopsis yang dibagikan. pada waktu tentara Jepang datang ke Indonesia, benteng Pendem dijadikan markas tentara. Selama dua tahun kosong sejak Jepang kalah oleh sekutu dan Benteng Pendem kembali ke tangan tentara Hindia Belanda ( KNIL ) sampai tahun 1950. Baru ditempati kembali pada tahun 1952 sampai akhir 1965 sebagai markas TNI pasukan Banteng Loreng. Pernah juga didipakai sebagai tempat latihan pasukan RPKAD ( Kopassus ).

Sekitar duapuluh satu tahun , benteng ini terbengkalai dan tidak terurus. Sampai suatu saat seorang warga Cilacap bernama Adi Wardoyo memberanikan diri menata dan menggali lingkungan benteng sejak tanggal 26 November 1986. Sebab, disekitar lokasi benteng, telah dibangun dermaga,kantor dan tangki kilang minyak untuk Pertamina dengan sebutan Area 70 dengan memanfaatkan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 ha. Kemudian sejak tanggal 28 April 1987 Benteng Pendem resmi dibuka untuk umum hingga saat ini.

Saat ini benteng pendem sudah banyak dikunjungi dengan beberapa fasilitas tempat rekreasi untuk anak-anak dan keluarga. Seorang bapak yang memandu saya dan teman-teman dari Komunitas Jelajah Budaya, mengatakan bahwa sungai besar yang pernah mengaliri tempat ini yang berasal dari laut telah dibuat menjadi kolam buatan. Lokasi Benteng ada dibagian belakang tempat rekreasi ini. Bagian awal dari lokasi Benteng Pendem adalah bangungan yang memiliki barak yang menjadi tempat tinggal para prajurit Belanda. Satu kamar terdiri dari 40 - 50 orang dan tepat di depan bangunan barak ada tempat mandi para tentara.

Bagian tengah dari lokasi benteng, ada sebuah taman yang cukup luas. Ada beberapa ekor rusa hidup disana. Selain itu terdapat ruang-ruang yang besar. Seperti ruang klinik, sebuah bangunan yang terbagi dua ruang. Ruang yang kecil pernah digunakan sebagai tempat operasi dan ruang yang besar untuk perawatan dari tentara Belanda yang terluka. Selain itu ada ruang amunisi, ruang akomodasi, gudang peluru, ruang penjara yang terdapat sebuah ruang baca untuk para narapidana yang menerima surat dengan penerangannya memakai obor.

Dibagian lain dari lokasi benteng ada sebuah terowongan yang panjangnya sekitar 100 meter. Terowongan ini sangat gelap dan berisi air setinggi mata kaki. Tinggi terowongan sekitar 160 meter. Tempat yang lembab membuat terowongan ini penuh dengan lumut. Keluar dari terowongan ada sebuah goa jepang yang letaknya dibawah permukaan tanah. Selain goa, ada sebuah tempat penyiksaan para tawanan dengan dicelupkan ke dalam sebuah kubangan air sedalam 1 meter.

Dekat kolam buatan, ada juga sebuah benteng yang memanjang dipakai sebagai pertahanan karena letaknya menghadap laut. Cinderamata terbuat dari kerang banyak dijual ketika menuju pintu keluar benteng. Tepat di muka benteng, terdapat sebuah menara pantai yang digunakan untuk memantau kondisi pantai Cilacap.

Kuliner dan oleh-olehdari Cilacap.

Kuliner yang ditawarkan di dekat Benteng pendem adalah makanan laut tentunya. Jika ingin mencicipi aneka seafood seperti udang goreng tepung, ikan bakar, cumi asem manis dan lainnya atau sekedar menikmati segarnya air kelapa semua dapat dinikmati di tempat makan yang ada disepanjang pantai. Bahkan sambil menyantap makanan pun masih dapat menkmati indahnya pantai. Selain makanan, tidak lengkap tanpa membawa oleh-oleh ikan asin, terasi atau ikan-ikan basah dapat diperoleh dengan harga yang cukup terjangkau di kios-kios kecil depan restoran/rumah makan.

Kalau malam hari, disekitar alun-alun terdapat sebuah lokasi makanan yang sangat ramai dikunjungi. Tinggal pilih mau pesan makanan sesuai selera. Alun-alun sangat ramai dan jika ada yang ingin menikmati jajanan kecil dapat juga membeli disini. “Setiap hari selalu ramai, tidak tergantung malam minggu atau tidak. Tapi kalau hujan ya bubar ,Mba.” ucap seorang pedagang ronde yang menjelaskan mengenai keramaian di alun-alun ini.

Cilacap, 05 Maret 2011

Veronica Setiawati

Menjelajahi Kegelapan Goa Di Pangandaran.

Pangandaran! Siapa yang tidak kenal dengan tempat yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya ini dan tempat dimana pernah hancur akibat terjadinya Tsunami. Saya pun teringat untuk pertama kalinya datang ke Pangandaran sekitar tahun 2010 yang lalu. Saya berada di tepi pantai timur melihat munculnya kemegahan matahari pagi yang sungguh eksotis dan menawan dari balik bukit. Tak bisa pernah lupa keindahannya!

Perjalanan kali ini bukan hanya melihat keindahan pantai Pangandaran saja, melainkan berkunjung ke sebuah cagar alam. Mungkin bagi sebagian orang yang pernah berlibur ke Pangandaran, pernah mendengar ataupun mengetahui ada sebuah cagar alam disini. Nah, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Jelajah Budaya ingin melihat , merasakan dan menjelajahi suasana seperti apa sih ketika berada di cagar alam yang memang masih hutan.

Ketika dipintu masuk gerbang utama cagar alam, seorang pemandu menceritakan sedikit mengenai adanya beberapa ekor kera yang akan kami temui di dalam hutan. Beberapa saran yang diberitahukan kepada kami ketika berhadapan dengan kera-kera tersebut. Seperti :

“Mengangkat kedua tangan ketika ada kera yang datang menghampiri. Mereka akan mengerti kalau pengunjung tidak membawa makanan.”.

“Tidak menenteng plastik berisi makanan yang dapat terlihat oleh kera , lebih baik disembunyikan di dalam kantong/saku. Karena kera-kera tersebut akan mengambilnya”

“Jika kera tersebut menggigit , maka digigit balik?”

Saran yang terakhir aneh ya? Tapi itulah cara mereka mendekatkan diri dengan kami. Saran lelucon yang diberikan oleh pemandunya supaya kami bisa lebih santai hehe.. Tahu tidak, ternyata kera-kera tersebut tidak suka air aqua l1299993512262036419oh. Mereka lebih memilih minuman yang berwarna dan bersoda. Luar biasa deh!

Sesampainya disebuah tempat yang terdapat papan informasi tentang cagar alam ini, mulai deh si pemandu memberitahukan isi cagar alam. Ternyata di dalam cagar alam terdapat beberapa goa yang masih alami ,lalu ada air terjun dan bunga Rafflesia juga ada di sini Bahkan petualangan yang lebih ekstrim juga ada! Karena waktu yang terbatas karena harus melewati trekking yang panjang dan melelahkan , maka cukuplah kami menjelajahi goa-goa yang terdapat di cagar alam ini. Oh ya, karena ketika menjelajahi goa , tempatnya pasti gelap dan membutuhkan cahaya sebagai penerang jalan.Bagi yang tidak membawa senter, bisa menyewa dengan harga RP 5.000 per senter. Kalau mau gratis lebih baik bawa sendiri.

Saat berjalan menuju lokasi goa, sepanjang kiri dan kanan jalan masih banyak pepohonan yang tinggi dan besar. Jalan yang dilaluipun sudah bagus dan tertata seperti trotoar. Goa-goa yang dijelajahi adalah, Goa Jepang, Goa Panggung dan Goa Pahat. Masing-masing goa tentunya memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Setiap goa juga memiliki informasinya sendiri yang dipasang di depan pintu masuk goa sehingga pengunjung dapat membaca apa yang ingin disampaikan mengenai goa tersebut.

Berjalan cukup lama akhirnya sampai juga dilokasi sebuah goa. Goa Jepang adalah goa pertama yang kami datangi. Pintu masuknya sangat tersembunyi dibalik akar pohon dan tertutup. Tingginya tidak lebih dari 1,5 meter, bagi yang mempunyai tinggi badan lebih dari itu akan menunduk untuk menyusuri sepanjang lorong goa. Satu persatu antri masuk ke dalamnya sehingga membentuk bak rangakain kereta. Karena tempatnya yang gelap, kami berjalan sambil meraba pada dinding goa. Goa Jepang ini adalah goa buatan. Bahkan dindingnya tidak terbuat dari tanah melainkan dari batu karang yang dipahat. Jika diraba akan terasa licin seperti menyentuh marmer, diatas Goa Jepang terdapat pohon-pohon yang besar dengan akar-akarnya yang merambat.

Ada yang unik lainnya, yakni ketika sampai sampai dimulut goa yang terakhir yang merupakan pintu keluarnya. Ada sebuah tangga yang terbuat dari akar-akar pohon yang merambat. Satu persatu kami menaiki tangga tersebut lalu keluar melalui sebuah celah yang kecil diantara akar pohon. Lebar celah itu cukup dilalui satu orang saja. Waah, baru goa pertama saja sudah seperti ini apalagi selanjutnya, serasa caving kembali!

Dari Goa Jepang, kami diajak ke sebuah tempat yang berada didalam hutan. Pemandunya memperkenalkan kami terdapat sebuah pohon yang besar dengan akar pohon berbentuk seperti roket. Sampai-sampai di papan keterangan dekat pohon tersebut tertulis “Menurut Anda , apakah struktur roket terinspirasi oleh akar pohon Manir?” Karena kalau dilihat lebih teliti memang strukturnya akarnya sangat mirip.

Tidak jauh dari pohon tersebut, dikenalkan juga sebuah situs peninggalan Kerajaan Pangandaran. Ada sebuah batu yang berbentuk seperti anak sapi yang sedang duduk. Batu itu dinamakan Batu Kalde. Dihadapannya ada juga sepasang batu yang lain yang dinamakan Linggayoni. Lingga untuk sebutan laki-laki dan Yoni untuk sebutan wanita. Disebelah batu kalde yang dipagari oleh kayu ini , terdapat sebuah makam bernisan batu. Dugaan pemandunya makam tersebut hanya makam simbol dari penguasa Kerajaan Pangandaran yang beragama Hindu yang telah masuk Islam. Diketahuinya dari cara orang tersebut dikubur di dalam tanah.

Ketika perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri hutan mahoni , disambut dengan bunyi yang bersahutan seperti bunyi jangkrik. Agak menyeramkan sih. Uuh seandainya berjalan sendirian tanpa ada yang memandu bisa tersesat atau mungkin diam ditempat saja. Makanya, ketika beberapa orang dibelakang jauh tertinggal, mereka yang sudah didepan harus menunggu. Memang sengaja pemandunya melewati hutan ini sebagai jalan pintas karena untuk mempersingkat waktu saja Seru banget, bener-bener jadi “bolang”!

Akhirnya saya dan teman-teman tiba juga disebuah bibir pantai setelah keluar dari hutan. Untunglah, cuaca sangat cerah dan langit berwarna biru sehingga pemandangan pantai terlihat sangat cantik dengan perahu-perahu nelayan yang sedang menepi. Di depan pantai tersebut juga ada sebuah goa yang masih alami yang bernama Goa Panggung. Ketika tiba di depan mulut goa, sekilas saya teringat ada kemiripan dengan Gua Maria Tritis yang ada di Jogja. Bentuk goa sangat terbuka dengan batuan stalagtitnya yang tajam sehingga cahaya matahari dapat masuk kedalamnya. Dari Gua Panggung bisa melihat langsung ke laut Selatan. Sebuah legenda mengatakan bahwa goa ini dulunya adalah tempatnya Mbah Jaga Lautan, anak angkat dari Nyi Roro Kidul yang ditugaskan untuk menjaga lautan di bagian Jawa Barat.

Di dalam gua ada sebuah tempat yang agak tinggi seperti panggung, sehingga tempat ini diberi nama Gua Panggung. Tangganya pun terbuat dari batuan karang dan ada pengangan ketika menaiki/menuruni anak tangga tersebut. Cukup licin karena pasir yang sudah mengendap sebagai dasarnya. Di sana juga ada sebuah makam yang disimbolkan sebagai makam dari Mbah Jaga Lautan. Agak pengap kalau saya rasakan karena bagian panggung dekat makam tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Deburan ombak terdengar jelas dari atas panggung ini. Keindahan karang-karang yang menjaga goa ini dari ombak laut serta batu-batuan stalagtit akan menakjubkan bagi siapapun yang melihat. Pemandu kami juga memberitahukan ada sebuah batu yang jika terkena cahaya berkilauan seperti berlian menempel pada langit-langit goa. Sungguh Menarik!

Gua yang terakhir dijelajahi adalah Gua Parat / Keramat. Waah apa yang menyebabkan gua ini menjadi keramat ya? Ternyata ada sebuah legenda setelah melalui pertapaan di dalam goa inilah akhirnya dapat menemukan anaknya hilang. Ada yang unik dan sangat berbeda dengan goa-goa yang sebelumnya. Selain tempatnya yang lebih gelap , pintu masuk goanya sangat pendek. Untuk dapat masuk ke dalamnya , kami harus membungkukan badan dan kepala agar tidak terkena batuan goa diatas punggung. Setelah sampai di dalam goa, ternyata tempatnya sangat luas dan langit-langit goanya pun sangat tinggi sehingga tidak perlu lagi menunduk dan membungkukan badan.

Keunikan yang pertama yang dilihat dari Gua Parat ketika sudah berada di dalam adalah sebuah batu yang berbentuk unta yang sedang duduk dan dibelakangnya terdapat batuan seperti yang ada di gua panggung akan berkilauan ketika diberi cahaya. Namun sayang , hanya sebagia saja yang mengkilap karena sudah tersentuh telapak tangan para pengunjung, sehingga memudarkan kilauan cahayanya. Keunikan kedua adalah sebuah batu yang membentuk lubang yang besar. Lubang yang sebesar pot bunga tersebut terbentuk karena terlalu sering ditetesi air dari masuk kedalam goa. Sekian lama akhirnya membentuk cekungan yang lebar seperti itu.

Pemandunya mengatakan itu adalah Kaca Benggalanya Mak Lampir sewaktu sembunyi di dalam goa. Ia adalah sebuah tokoh legenda yang menakutkan seperti nenek sihir menurut sebuah cerita persilatan di radio. Keunikan yang ketiga yang dikatakanan oleh pemandunya adalah sebuah batuan yang menggantung menyerupai alat kelamin laki-laki dan perempuan sehingga disebut Batu Kelamin. Ada mitos yang dikatakan oleh pemandunya pada batu kelamin ini yakni bagi siapapun yang belum mempunyai jodoh silakan memegang batu kelamin lawan jenisnya tersebut supaya nanti segera dapat jodoh.

Keunikan yang keempat masih di dalam Gua Pahat ini yakni sebuah batuan yang menggantung menyerupai sebuah pangkal paha ayam dan keunikan yang kelima adalah sebuah batu yang dapat mengeluarkan bunyi gong ketika dipukul sehingga disebut Batu Gamelan. Selain bebatuan yang unik di dalam goa, juga masih terdapat keluarga hewan landak yang tinggal dibawah celah batuan goa dan puluhan ekor kelelawar yang bergantungan di langit-langit goa. Ketika cahaya senter saya arahkan keatas, banyak sekali kelelawar hitam bergantungan memenuhi langit goa. Saya sungguh terpana dengan keunikan dari isi Goa Parat ini. Siapa saja yang melihat pasti sungguh tertarik!

Penjelajahan Goa Parat ini berakhir di tepi pantai. Tiba-tiba kami didatangi beberapa ekor kera. Spontan saja kami segera mengangkat tangan layaknya seorang tawanan yang menyerah. Sebab kami teringat akan perkataan pemandunya, angkat tangan sebagai tanda kepada kera tersebut bahwa kami tidak memiliki makanan. Padahal pemandunya sendiripun berusaha juga mengusir kera-kera tersebut agar tidak mendekati kami tetapi masih saja mereka menghadang jalan.

Sayup terdengar pemandunya mengatakan “Kera yang betina itu yang memiliki brewok dimukanya sedangkan yang jantan tidak ada.” Namun karena sudah takut didekati oleh kera-kera tersebut, penjelasannya tidak jadi dilanjutkan. Menyenangkan dan ada lucunya ketika sampai dibus hal ini malah jadi bahan tertawaan karena tingkah kami saat mengangkat tangan mengikuti apa yang dikatakan oleh pemandu tersebut.

Sebenarnya masih banyak yang ingin dijelajahi dari semua yang ditawarkan oleh cagar alam Pangandaran , namun belum dapat kami lakukan. Setidaknya ada kenangan yang dapat dibawa setelah menyusuri , melihat dan mengenal setiap kegelapan dan isi goa dan situs peninggalan Kerajaan Pangadaran. Mungkin di lain hari ada cerita lain dari tanah Pangandaran.

Pangandaran, 06 Maret 2011

Veronica Setiawati

Tuesday, January 18, 2011

Kota Toea : Mengenal Kampoeng Pecah Kulit

Kampung Pecah Kulit? Nama itu terkesan aneh bagi saya. Rasa penasaran karena nama tersebut , membuat saya ikut serta dalam Jelajah Kota Tua bersama Komunitas Jelajah Budaya supaya dapat mengenal lebih dekat tentang Kampung Pecah Kulit ini sekaligus juga menjawab rasa penasaran saya.

Perjalanan mengenal sejarah ini, saya lakukan dengan berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Pangeran Jayakarta – Mangga Dua. Menurut historisnya Jalan Jayakarta ini bernama Jacatraweg . Letaknya sudah diluar kota Batavia atau diluar benteng kota Batavia, dengan perbatasannya adalah Jembatan Jassen yang sampai sekarang ini masih terlihat ditepi jalan menuju stasiun Jakartakota dari arah manggadua. Selain itu, Jacatraweg dahulunya merupakan sebuah tempat perkebunan dan hutan belantara, dimana masih terdapat banyak binatang buas di dalamnya.

Di luar kota Batavia ini, terdapat sebuah perkampungan yang diberi nama Kampung Pecah Kulit. Nama “Pecah Kulit” menurut versi yang pertama konon berasal dari sebuah profesi ayah dari Peter Erbervelt yang seorang Penyamak Kulit .Ia diangkat sebagai anggota Heemraad untuk mengurusi kepemilikan tanah di daerah Ancol, ia menjadi tuan tanah. Kekayaan ini diwariskan kepada anaknya.

Lalu siapa itu Peter Erbervelt sehingga ia dan keluarganya begitu terkenal? Dari sebuah catatan sejarah, Peter ini adalah seorang Indo keturunan Jerman - Siam yang bekerja di Batavia menjadi seorang pedagang dan tuan tanah yang cukup terkenal warisan dari ayahnya. Nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarganya berasal dari Elberfeld, yang sekarang menjadi bagian dari kota Wuppertal,NRW, Jerman. Kematiannya sangat mengenaskan. Peter , dihukum mati pada tanggal 22 April 1722 dengan masing-masing kaki dan tangannya ditarik oleh empat ekor kuda, hingga tubuhnya terpotong dan kulitnya terpecah. Inilah versi kedua , mengapa kampung tersebut dinamakan “Kampung Pecah Kulit.”

Peter dieksekusi diluar benteng Batavia bukan di halaman balai kota , yang sekarang ini menjadi Museum Fatahillah ( Museum Sejarah ). Alasannya pemerintah VOC takut jika ada pengikutnya yang melakukan perlawanan dan demi alasan keamanan. Tubuh Peter yang hancur dimakamkan dan kepalanya di penggal dan ditancapkan pada sebuah tombak. Hal itu menjadi peringatan buat semua orang agar tidak lagi melakukan perlawanan terhadap pemerintah VOC.

Lokasi dari monumen tengkorak Peter , sekarang ini sudah menjadi sebuah gedung showroom mobil yang besar, letaknya tidak jauh dari Gereja Sion- Jakarta. Dahulunya tempat itu adalah rumah peninggalan Peter Everbelt dan juga merupakan tempat dibangunnya sebuah tugu peringatan dengan tengkorak kepala Peter yang telah ditancapkan sebuah tombak dan ada sebuah prasasti dibawahnya. Namun, ketika Jepang datang ke Indonesia, Tugu tersebut dihancurkan namun prasastinya masih dapat diselamatkan. Tubuhnya dimakamkan di Museum Fatahillah dan replika dari tugu peringatannya tempatnya di pindahkan ke Museum Prasasti , Tanah Abang Jakarta.

Ada yang jadi pertanyaan saya , kenapa sampai Peter Ebervelt ini dihukum mati dengan cara yang sadis seperti itu? Beberapa catatan VOC menyebutkan Peter dianggap memimpin konspirasi dan sejumlah kekacauan yang bertujuan menentang kekuasaaan. Terlebih lagi, Peter merasa sakit hati terhadap Kolonial Belanda , terutama Gubernur Jendral waktu itu Johan Van Hoorn dimana telah menghancurkan hidupnya dengan menyita tanah dan rumahnya , dengan alasan supaya Peter mau menjual tanahnya kepada Gubernur Jendral tersebut.

Bersama sahabatnya yang orang pribumi yakni Raden Ateng, membuat rencana pembuhunan terhadap orang-orang Belanda. Namun sayang, rencana mereka gagal , akhirnya mereka dihukum mati bersama beberapa orang yang menjadi pengikut mereka. Ada juga yang mengatakan kematian Peter Ebervelt merupakan masalah politis karena terdapat banyak kejanggalan akan tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Raden Ateng Kartadriya pun dimakamkan tidak jauh dari Kampung Pecah Kulit. Di sebuah tempat pemakaman yang padat penduduk dan gang yang kecil di tepi jalan Jayakarta. Ia diyakini oleh warga sekitar sebagai Pangeran Jayakarta, walaupun catatan sejarah mengenainya tidak secara pasti dijelaskan. Namun, makamnya sangat ramai dikunjungi orang yang berziarah dan berdoa.

Selain makam Raden Ateng, ada juga seorang kapitan yang sangat terkenal dan yang pertama di Batavia bagi warga Cina yakni Kapitan Souw Bing Kong. Kematiannya pun sama karena dihukum mati oleh pemerintahan VOC dengan kata lain ia adalah salah satu korban eksekusi seperti Peter Ebervelt. Ia diberi gelar Kapitan , yakni sebuah jabatan yang diberikan oleh VOC untuk membantu pemerintah dalam menangani segala perkara sipil seperti memungut pajak dan menyediakan tenaga kerja untuk pembangunan Batavia.

Karena Souw Bing Kong atau Bencon , berasal dari etnis Tionghoa , maka dia dipercaya untuk menjadi Kapitan Cina untuk etnisnya. Begitupun untuk golongan etnis lain di Batavia , dipercayakan satu orang untuk menjadi pemimpin atau seorang Kapitan untuk membantu VOC. Ia pun merupakan sahabat dekat dari Gubernur Jendral VOC J.P Coen yang pernah membumihanguskan Jayakarta pada tahun 1619. Makamnya terdapat ditengah pemukiman penduduk yang sangat padat dan berada dalam Yayasan Souw Bing Kong jadi situsnya masih dapat diselamatkan dan dipelihara sehingga setiap peziarah dapat melihat makamnya.

Perjalanan terakhir bersama Komunitas Jelajah Budaya untuk mengenal Kampung Pecah Kulit, berakhir di sebuah mesjid Keramat Mangga Dua. Bangunan masjid ini sudah terlihat modern walaupun termasuk dalam masjid tua. Namun karena yang masih terlihat sebagai masjid tua adalah atapnya dan bentuk jendela, sudah tidak bisa dikategorikan cagar budaya karena sudah banyak bangunan aslinya yang sudah diganti marmer. Di dalam pun masih terdapat makam seorang ningrat yakni Raden Tumenggung Anggakoesoemah Dalem Gadjah.

Jakarta, 16 Januari 2011
Veronica Setiawati
http ://g1g1kel1nc1.blogspot.com
*thanks to : Komunitas Jelajah Budaya*
Foto-foto kegiatan Jelajah Kota Tua : Kampung Pecah Kulit

Sunday, April 12, 2009

Jelajah kota tua - Gudang Panggung di Batavia

Sabtu 11 April 2009 , Komunitas Jelajah Budaya mengadakan acara jelajah kota tua. Kali ini temanya adalah "Gudang Panggung di Batavia". Starting point di mulai dari Museum Bank Mandiri Jl. Lapangan Stasiun No1 Jakarta kota , yang sebelumnya dilakukan registrasi ulang bagi tiap peserta yang ikut dan diberikan juga roti buaya isi coklat , air mineral, kartu tanda peserta dan voucher sepeda onthel yang nantinya diberikan kepada ojeg sepeda onthel yang akan membawa saya dan teman-teman touring ini berkeliling kota tua. Tour Guide kelompok saya adalah Mas Kartum ( kepala adat komunitas ini ) , saya ada di kelompok Lada bersama 2 orang teman Nana dan Dhyan Savitri. Kelompok lada ini kelompok yang terakhir keberangkatannya alias penutupnya.


Kami mulai diajak jalan berkeliling museum bank mandiri. Ke ruangan meeting besar, melihat lukisan kaca , mata uang jaman dulu dan tiap detail ruangan-ruangan yang ada di museum ini. Sampai akhirnya berada di sisi kanan museum ini , di pelataran parkir museum mandiri. Di situ ada sekelompok tukang ojek sepedaa onthel yang siap membawa kami para peserta keliling kta tua mengitari jalan pintu kecil, kampung tiang bendera, perjalanan menuju gudang hong dan gudang panggung, ke menara syahbandar, menuju jembatan kota intan, dan terakhir berkumpul di taman fatahillah dan berjalan kaki menuju museum bank mandiri untuk santap malam yang sudah disediakan oleh panitia sesuai jadwal acara yang telah ditetapkan.


Agak canggung begitu naik ke atas sepeda ini. Tetapi semuanya begitu menyenangkan ketika sepeda onthel mulai bergerak meninggalkan museum bank mandiri. Menyenangkan , sempatin diri mengabadikan bangunan-bangunan yang menarik sepanjang perjalanan naik onthel ini. Menyusuri jalan pintu kecil bersama lalu lalangnya kendaraan sepeda onthel rombongan ini akhirnya berhenti di jalan Tiang Bendera di depan sebuah rumah. Disini pun masih ada terlihat peninggalan bangunan etnis Tionghoa. Dan tidak jauh dari tempat kami berdiri terdapat bangunan PT. Sinar Antjol yang pada jaman dahulu sangat terkenal dengan produk sabun coleknya merk B29.


Melewati jalan roa malaka melewati lorong jalan tol dan kampung warga menuju sebuah bangunan lain yakni Gedung Hong yang dulunya adalah sebuah pabrik textil. Sekarang kurang jelas bangunan ini dipergunakan untuk apa. Tapi sisa-sisa dari bangunan ini masih jelas terlihat. kemudian, perjalanan sore naik sepeda onthel ini memuju gudang panggung yang terbuat dari kayu.
Bangunan ini dulunya digunakan sebagai gudang penyimpanan rempah - rempah ( seperti pala,lada,cengkeh,dll ) sementara sebelum diangkut ke kapal untuk dijual ke Eropa. Katanya juga gudang ini beralih fungsi sebagai penyimpanan senjata dan amunisi dan perbekalan rumah sakit militer. Juga pernah sebagai asrama polisi. Tetapi kondisinya sekarang tidak terawat dengan baik bahkan disekitar bangunan inipun digunakan sebagai rumah tempat tinggal beberapa orang.


Setelah puas dengan pemandangan yang ada di sekitar gudang panggung ini perjalanan kami lanjutkan ke menara syahbandar. Katanya tour guide kami sebelum ke menara pisa yang ada di itali mampir lah dulu ke sini, karena menara syahbandar inipun juga memiliki kemiringan juga walaupun tidak seperti menara pisa. hehe.. Saya mencoba naik keatas. Memang tidak semua orang harus dibatasi 15 orang. Lumayan juga naik tangganya cape hehe.. tapi menyenangkan.
Hari sudah semakin gelap kami meneruskan perjalanan menuju jembatan kota intan dari sini pemandangan malam semakin cantik dengan lampu-lampu jalanan yang menyala dan tidak jauh dari situpun pesona hotel batavia semakin mempermanis suasana malem. Serasa di negeri lain.

Tetapi perjalanan akan segera berakhir. Kami mulai bergerak menuju taman fatahilah dan di sinilah selesai perjalanan kami bersama para ojeg sepeda onthel ini. Dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju museum bank mandiri untuk santap malam.
Jelajah kota tua memang banyak sekali cerita yang perlu diketahui.