Kraukk.com

728 x 90

Monday, February 14, 2011

JELAJAH KOTA TOEA: PECINAN-GLODOK

Dalam rangka menyambut Cap Go Meh, kembali saya menyusuri kota toea Pecinan bersama teman-teman dari Komunitas Jelajah Budaya. Cap Go Meh jatuhnya 15 hari setelah perayaan IMLEK pada tradisi Tionghoa. Beberapa tradisi kuliner dan mitos yang ada dari perayaan IMLEK hingga Cap Go Meh , banyak saya dengarkan ketika mengikuti perjalanan menyusuri kawasan pecinan dengan berjalan kaki.

IMLEK adalah perayaan menyambut datangnya musim semi dengan tumbuhnya pohon MenHwa yang ditandai berkembangnya bunga-bunga dari pohon tersebut yang berwarna merah muda. Kemudian adanya jeruk yang dipercaya mendatangkan rejeki dan kemakmuran, ikan bandeng yang besar serta kue keranjang. Sebuah kepercayaan dikalangan warga Tionghoa yang merayakan IMLEK , jika dimalam tahun baru tersebut datang hujan maka akan mendatangkan rejeki serta kemakmuran yang berlimpah.

Bentuk rumah-rumah warga Tionghoa yang masih ada serta bisa dilihat di kawasan Pecinan pun tergolong unik. Mereka menutup rapat-rapat dan membuat teralis besi pada rumahnya dimaksudkan agar rejeki itu tidak kemana-mana atau tidak sampai keluar rumah. Selain itu jika diperhatikan, disetiap rumah warga , terdapat satu tempat doa lengkap dengan dupa dan sesajinya yang dibuat menempel pada dinding di dalam rumah ataupun dihalaman rumah. Tujuannya dibangun, sebagai tempat penghormatan kepada para leluhur ataupun para dewa sesuai keyakinan pemilik rumah tersebut.

Ada lagi yang menarik jika diperhatikan, yakni disetiap pintu masuk rumah terdapat benda-benda untuk menolak bala atau sesuatu yang mendatangkan sial masuk ke dalam rumah. Bentuknya macam-macam , ada yang bergambar sebuah mahluk yang seram bertaring ataupun sebuah kaca segilima dan bertulisan huruf china. Nah, bila ada sebuah rumah terletak posisi tusuk sate , seperti yang ada pada salah satu rumah warga Tionghoa ketika saya melihatnya , diatap rumah tersebut dipasangkan sebuah kendi . Dimana mulut kendi tersebut menghadap jalan didepan rumah. Tujuannya seperti halnya benda-benda yang dipasangkan pada pintu rumah , yakni untuk menghindari hal-hal yang tidak baik dan mungkin juga akan berpengaruh kepada rejeki dari sang penghuni rumah.

Pecinan juga indentik dengan rumah ibadahnya dimana mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan. Di sebuah Klenteng atau Wihara dari Yayasan Bhudi Dharma , saya melihat beberapa lampion yang tergantung tetapi berjuntai kertas yang sebuah nama dari masing-masing lampion. “ Kertas itu bukan berisi nama-nama orang yang sudah tiada. Melainkan nama-nama dari mereka yang memberikan lampion ke tempat ini.” Jawab seorang bapak yang saya mintai keterangannya. “ Lampion ini sebagai tanda penerangan. Biasanya dipasang untuk dua hal, pertama untuk ulang tahun dan perayaan IMLEK.”

Selain wihara Budhi Dharma ada juga terdapat wihara Ariya Marga atau Lamceng Tee Bio . Letaknya disebuah gang kecil dan banyak terdapat tempat makan warteg di pintu masuk gang. Ada dua buah relief yang terdapat di pintu masuk wihara Tee Bio. Pertama sebuah relief seorang raja yang mengendarai kuda. Dimana replika dari kuda tersebut ada di dalam wihara. Dan relief yang kedua adalah gambara dari cerita tiga orang raja yang merupakan kakak beradik yang sedang bersengketa tetapi akhirnya dapat didamaikan oleh sang kakak. Mereka memperebutkan kedudukan dari sebuah pohon , dimana yang menjadi tempat terhormat bukanlah pada pucuk pohon tersebut melain pada akar dari pohonnya. Kurang lebih begitulah ceritanya.

Perjalanan selanjutnya adalah mengunjungi sebuah klenteng yang cukup tua yakni Klenteng Tang Seng Ong. Sewaktu saya mengikuti kegiatan yang sama sekitar tahun 2009, tempat ini masih dalam renovasi tetapi saat dikunjungi kembali menjadi sebuah klenteng yang sangat bagus. Bagian depan terdapat ruangan untuk berdoa di bagian belakang terdapat sebuah kolam ikan dan replika bunga teratai. Patung yang dipajang diatas sebuah altar doa, dekat kolam ini adalah tiga tokoh penting yakni Sang Budha yang diapit oleh Dewi Kuam In dan Biksu Tong dalam cerita Kera sakti.

Relief tiga lelaki yang ada di depan kolam pun mempunyai arti umur panjang symbol dari lelaki tua berjanggut putih, lelaki yang ditengah menjadi symbol sandang pangan dan lelaki yang menggendong bayi adalah mempunyai anak dan cucu. Tak kalah menariknya sebuah relief dari atap klenteng yang berupa sepasang naga. Naga menurut kepercayaan mereka adalah seekor hewan yang sangat sakti dan pelindung.

Sebelum menuju Klenteng Tang Seng Ong, terdapat sebuah sekolah, di lihat dari depan pintu gerbangnya masih merupakan bangunan lama. Di sekolah ini dahulu digunakan sebagai sebuah organisasi modern di Batavia bernama Tiong Hoa Hwee Koan ( Perkumpulan Tiongoa ) yang merupakan reaksi masyarakat Tionghoa terhadap kebijakan pemerintah Belanda yang tidak memberikan pendidikan bagi anak-anak keturunan Tionghoa. Akibat pesatnya perkembangan dari sekolah ini maka pemerintah kolonial Belanda menjadikan bangunan sekolah ini sebagai sekolah berbahasa Belanda ( HCS ). Namun setelah pemerintahan Orde Baru bangunan diambil alih dan dirubah namanya menjadi SMU 19.

Selain sekolah juga ada sebuah rumah yang sudah menjadi cagar budaya karena fisik bangunannya yang sudah lama. Atap bangunannya menyerupai ekor walet yang menandakan status sosial yang cukup berada di Batavia bagi kaum Tionghoa sedangkan bagi kebanyakan atap rumah warga Tionghoa berbentuk pelana kuda. Walaupun mungkin di negeri asalnya tidak ada perbedaan bentuk bangunan untuk mereka yang berbeda status sosialnya.

Kawasan pecinan Glodok yang terkenal adalah Petak Sembilan. Dari sebuah kawasan yang dahulu merupakan kawasan perdagangan dengan sembilan petak dikenalah dengan nama Petak sembilan. Klenteng yang terkenal dan cukup tua adalah Jin De Yuan dan Toasebio bahkan sampai sekarang banyak dikunjungi untuk berdoa ataupun sebagai tempat wisata. Ada juga sebuah gereja bergaya Tionghoa bernama “Gereja St. Maria de Fatima”. Pada tahun 1949 China jatuh ke tangan komunis sehingga ditinggalkannya tempat dataran China, banyak dari orang-orang China sendiri yang pergi dari negaranya termasuk juga para Jesuit yang ada disana kemudian masuk ke Batavia.

Dari sebuah buku mengenai sejarah 50 tahun Gereja St. Maria De Fatima , di sebut pada tahun 1953 dibelilah sebidang tanah di daerah pecinan dengan seluas satu hektar yang meliputi kompleks Gereja hingga pagar tinggi di sisi belakang dan kompleks sekolah Ricci I sekarang ini, tanah tersebut dibeli dengan harga Rp. 3.000.000,00 dari seorang kapitan (sebutan untuk seorang Lurah keturunan Tionghoa di Zaman penjajahan Belanda) bermarga Tjioe. Ia adalah seorang bangsawan Cina yang kaya raya. Pembayaran tanah tersebut dibayar dengan cara mengangsur.

Barulah pada tahun 1954 ketika Pater Matthias Leitenbauer SJ tiba di Jakarta, tanah dan bangunan di atasnya resmi menjadi milik gereja. Nama St de Fatima diambil dari sebuah cerita tentang penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala seperti yang tergambar dalam relief gua maria di samping gereja.

Di depan bangungan utama tersebut terdapat dua buah patung singa, yang mana patung singa itu merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina. Konon di halamannya yang luas terdapat pula pohon sawo kecik dan pendopo joglo berlantai tinggi dan tanah tersebut di kelilingi pagar bertembok tinggi.

Perjalanan diakhiri di Museum Mandiri dimana awal perjalanan dimulai dan juga sebagai tempat berkumpulnya para peserta Jelajah Kota Toea. Museum Mandiri sendiri merupakan bangunan tua dan bersejarah. Dahulu bernama NHM ( kantor dagang maskapai ) milik Pemerintahan kolonial Belanda. NHM ini didirikan pada tahun 1929 dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh Presiden NHM. Cirinya ada terdapat lukisan kaca patri. Saya dan peserta diajak berkeliling mengenal Museum Mandiri yang banyak terdapat koleksi dan diorama dari kejayaan tempo dulu dimana tempat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan asset berharga para warga Belanda di Batavia seperti yang terdapat di sebuah ruangan safe deposit. Loker, pintu baja yang sangat tebal , emas , juga sel-sel jeruji seperti dalam penjara menggambarkan suasana saat para nasabah dan petugas di bagian ini menyimpan dengan baik asset yang dipercayakan.

Hiburan diawal perjalanan yang menyenangkan ketika pertunjukan barongsai , sebuah tradisi kesenian Tionghoa di mulai. Musik khas yang dipukul dan dentuman lempengan piringan menambah suasana semakin meriah. Beberapa orang memasukan angpao ke dalam mulut barongsai tersebut. Sedangkan penutup acara , dijelaskan situasi dan tempat-tempat dari berbagai kota tempo dulu dari sebuah film dokumenter.

Menyenangkan bisa ikut kembali di kegiatan keliling menyusuri sejarah Kota Toea di Jakarta. Walaupun acara ini merupakan kedua kalinya pada event yang sama tetapi ada saja hal yang menarik yang baru dan mungkin belum ada pada perjalanan saya sebelumnya. Sehingga hal tersebut dapat menjadi suatu informasi yang menarik dan menambah wawasan yang baru bagi saya pribadi. Terima kasih Komunitas Jelajah Budaya .. semoga setiap orang yang ikut dalam event yang diadakannya membuat mereka termasuk saya pribadi semakin peduli akan budaya serta sejarah bangsa Indonesia, bangsanya sendiri.

Jakarta, 13 Februari 2011

Veronica Setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogspot.com

Tuesday, February 08, 2011

Bedah Buku dan Review Museum di Indonesia

“Museum merupakan sebuah nama yang singkat. Akan tetapi, ditinjau dari pengelolaannya, nama ini tidak sederhana. Jika dikaitkan dengan konteks masyarakat dan Negara , nama museum justru semakin kompleks. Museum di beberapa Negara telah berkembang menjadi sebuah lembaga yang tidak dapat diabaikan keberadaannya karena telah menjadi tempat yang berperan penting bagi masyarakat Negara tersebut.”
Demikianlah yang tertulis pada awal paragraph Bab I dari sebuah buku yang berjudul Museum di Indonesia , Kendala dan Harapan karya Dr. Ali Akbar seorang dosen Arkeolog yang awal mulanya turut membantu mengatur tata letak dari Museum Bahari.

Kendala yang dialami oleh museum menurutnya pada sebuah acara bedah buku di Museum Mandiri, ditinjau dari definisinya adalah Museum di Indonesia dianggap sebagai tempat menyimpan barang saja. Sedangkan di beberapa Negara , museum adalah tempat yang berguna bagi masyarakatnya karena memiliki peranan yang sangat penting sebagai pelajar , tempat interaksi, sebuah komunitas dan sebagi media komunikasi. Buku ini juga mengulas beberapa museum di luar negeri seperti Jerman, Belanda , Pracis , Belgia , India , Malaysia , SIngapura dan Vietnam dari hasil observasinya untuk mengkaji dan dicarikan jalan keluar dari kendala-kendala yang dihadapi oleh museum-museum di Indonesia.

Beberapa pandangan negatif masyarakat umum di Indonesia mengenai museum adalah kuno , kusam , ketinggalan jaman, seram, tempat yang terlalu serius , sia-sia karena tidak akan mendapatkan apa yang diharapkan, sepi sehingga dapat dijadikan untuk lokasi pacaran dan lain sebagainya. Termasuk dengan perkataan bagi pegawai yang dimutasikan ke bagian lain atau dianggap dibuang menyebutnya “dimuseumkan” Oleh sebab itu , sangat diharapkan dengan sarana dan prasarana yang dimiliki museum dapat merubah cara pandang masyarakat mengenai museum itu sendiri.

Apa saja yang menjadi kendala dari museum –museum yang diIndonesia juga dipertanyakan juga oleh beberapa orang yang hadir adalah sumber daya yang dimiliki oleh museum tersebut. Jawaban penulis buku ini membuat saya terus mengiangnya ketika membahas mengenai pengawai yang pensiun dari museum. Ia menjawab bahwa disebuah museum di luar negeri tanpa menyebut nama museumnya, pegawai yang akan pensiun tidak akan duduk-duduk saja tanpa melakukan apapun, melainkan berfikir karya apa yang akan diberikan olehnya sebelum pensiun untuk museumnya. Oleh sebab itu pegawai itu akan melakukan sesuatunya tidak diam saja sampai waktu pensiunnya tiba.

Memang, belum diketahui apa sebenarnya yang diingini masyarakat tentang museum juga rasa bangganya mereka yang telah bekerja di museum. Mungkin hal-hal seperti ini dapat dimulai dari museum itu untuk bercerita atau membagi pengalamannya kepada umum sehingga sedikit membuka pikiran masyarakat umum mengenai kondisi atau harapan terhadap museum selanjutnya.

Sudah mulai banyak orang-orang yang tertarik untuk berkunjung ke sebuah museum. Namun kadang dimuseum tersebut tidak ada seseorang yang memandu para pengunjung untuk memperkenalkan isi dari museum tersebut. Sehingga pengunjung hanya mendapat sedikit informasi dari barang-barang yang dikoleksi museum atau hanya sekedar mampir saja. Ada juga di bahas dibuku ini, jam-jam yang diberlakukan sebuah museum hanya terbatas sampai jam 5 sore.Mungkin dapat diberlakukan suatu saat nanti ada waktu kunjungan sampai malam.

Bedah Buku mengenai Museum di Indonesia tentang Kendala dan Harapannya adalah sedikit cara yang digunakan untuk membuat saya dan teman-teman yang belum mengenal museum untuk lebih mencintai museum. Sehingga Museum bukan lagi sebuah tempat tanpa makna tanpa pengujung semakin jauh dan dilupakan orang.

Terakhir , saya kutip tulisan dari buku ini sebagai penutup tulisan saya :
“Museum masa kini adalah sebuah system yang kompleks yang sulit dikerjakan oleh satu atau dua orang saja. Belum tentu museum yang pengelolanya lebih banyak akan lebih baik dibandingkan museum yang pengelolanya lebih sedikit. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai pengelolaan museum yang hakiki adalah motivasi dan empati pada koleksi ditambah tanggung jawab pada organisasi, teamwork yang kuat serta integritas yang tinggi untuk memberik manfaat bagi masyarakat.”


Jakarta , 06 Februari 2011
Veronica Setiawati

Note :
* Judul buku Museum di Indonesia - Kendala dan harapan
• Penulis : Dr. Ali Akbar
• Penerbit Papas Sinar Sinanti – Anggota IKAPI Jakarta 2010

Friday, February 04, 2011

Suasana Imlek Dari Pecinan Kota Tua Hingga Bogor.

Perayaan Imlek yang memasuki tahun Kelinci , sangat meriah ya mungkin menurut beberapa orang sih tidak seramai tahun-tahun yang lalu. Nuansa warna merah memenuhi kawasan pecinan Petak Sembilan. Sekumpulan para pencari berita sudah berada disana entah sejak kapan. Hilir mudik orang-orang yang akan sembahyang dan mereka yang meliput serta hanya ingin mengabadikan beberapa photo suasana Imlek memadati sebuah klenteng yang cukup terbilang tua usianya.

Pedih mata saya karena asap dari kertas-kertas doa yang sudah dibakar membuat saya menyingkir dari klenteng tua tersebut. Tidak jauh , ada sebuah klenteng yang lain, tidak terlalu besar dan tidak padat yang mengunjungi. Namun di halamannya berjejer para pengemis yang menanti angpau. Di tempat ini teman saya lebih leluasa untuk mengambil beberapa photo. Cukup banyak turis asing yang datang mengunjungi klenteng tua ini.

Selepas dari klenteng tua , menyusuri sepanjang jalan Petak Sembilan lalu singgah pada sebuah Gereja tua bergaya Tionghoa. Tidak seramai di klenteng tua itu, tetapi ada beberapa turis asing yang juga singgah disini. Gereja ini tertutup dan tidak ada seorangpun yang dapat masuk ke dalamnya. Begitu juga dengan sebuah vihara yang lain tidak jauh dari Gereja. Hanya beberapa orang yang hendak bersembahyang yang ada terlihat di sana. Sepanjang jalan yang kami lalui pun tidak macet oleh kendaraan seperti hari-hari biasa. Lewat sebuah gang , perjalanan kami lanjutkan menyusuri sepanjang jalan pasar pagi lama.Toko-toko banyak yang tutup dan sedikit lengang.

Tidak demikian ketika berada di lorong yang menghubungkan antara stasiun dan halte bustransjakarta. Ramai sekali dilorong , hujan gerimis yang sempat datang juga semakin menambah jumlah orang. Kemudian kami memutuskan untuk ke Bogor dengan kereta. Sesampainya di kota Bogor, kedatangan kami disambut hujan. Biarpun begitu, stasiun Bogor sangat penuh sesak dengan para penumpang yang akan meninggalkan atau baru saja sampai di Kota Bogor.

Disebuah mall yang tidak jauh dari Tugu Kujang Kota Bogor. Ketika berada di sebuah store yang menjual aneka bahan hasil karya mahasiswa IPB, ada sebuah pertunjukan barongsai. Musik keras dari sebuah alat yang dipukul menggemakan isi ruangan. Seekor ular naga yang dibawa oleh beberapa orang menghampiri store dimana kami berada untuk mengambil Angpao ( amplop merah ) yang tergantung di di rolling door store. Tidak lama muncul dua buah barongsai warna merah dan kuning.

Seketika itu juga penuh orang mengelilingi store yang tidak jauh dari pintu masuk ini. Mereka mengabadikan moment menghibur dengan dengan kamera handphone dan saya pun tidak ketinggalan. Beberapa adegan lucu dari tarian barongai seperti ketika akan mengambil amplop merah namun tidak kesampaian. Beberapa kali mencoba akhirnya angpao tersebut dapat diraih oleh mulut sang barongsai merah. Kalau yang warna kuning hanya meliuk liuk diantara pengunjung dan dipakai untuk berfoto oleh sebagian pengunjung. Namun, setelah angpao sudah diterima mereka berjalan lagi menuju store yang lainnya.

“ Selamat Tahun Baru Imlek “
Jakarta –Bogor, 03 Februari 2011
Veronica Setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogspot.com

Friday, January 28, 2011

Bermain Tutup Mata DI Jogya

Menjelang tengah malam, ketika setiap orang terlelap dan rumah terkunci oleh penghuninya, kami melangkahkan kaki menuju alun-alun kota Jogya. Masih ramai dengan orang-orang yang bermain tutup mata ketika kami sampai di alun-alun.

Dua buah pohon beringin yang berada di tengah alun-alun selatan kota Jogja inilah yang membuat tempat ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Sebabnya , ada sebuah mitos yang beredar bahwa jika setiap orang yang dapat melewati jalan yang diapit oleh kedua pohon beringin tersebut maka keinginannya dapat terwujud. Terserah bagi setiap orang yang ingin mempercayainya atau tidak, tetapi bagi saya dan teman-teman, menjadi sebuah permainan tantangan yang menarik.

Di tengah keramaian , saya mengamati setiap orang yang ditutup matanya, mereka mencoba berjalan menuju jalan yang ada di tengah kedua pohon beringin tersebut, namun sedikit orang yang berhasil melewatinya. Akhirnya saya dan teman-teman mulai mencobanya.

Pertama yang mencoba adalah dua orang teman saya, mata mereka ditutup dengan kain dan benar-benar dipastikan tidak melihat sekelilingnya. Lalu, mereka saya tempatkan agak jauh dari pohon beringin tetapi berhadapan lurus dengan jalan ditengah pohon beringin tersebut. Ketika aba-aba mulai dari saya , mereka berdua berjalan menuju pohon beringin tersebut dengan feeling mereka. Saya dan seorang kawan , mengatur jalan di depan mereka agar tidak menabrak orang-orang yang juga bermain tutup mata seperti kami.

Ketika mendekati tembok yang memagari kedua pohon beringin tersebut. Kedua teman saya ini berpisah. Teman yang satu berbelok ke kanan , menuju lapangan sepak bola dan teman yang satunya ke kiri. Tetapi dua-duanya berhenti dimana mereka merasa yakin telah sampai ditengah jalan diantara kedua pohon beringin. Begitu kain dibuka dan mata mereka melihat sekelilingnya ternyata jauh dari pohon beringin tersebut. Kejadian tersebut malah membuat mereka semakin penasaran untuk mencoba lagi. Menurut berita yang simpang siur sih, katanya kalau berjalan kea rah kanan berarti hidupnya masih memikirkan lawan jenisnya dan kalau berjalan kea rah kiri adalah harta atau uang. Entahlah saya sendiripun belum mendapat jawaban yang pasti mengenai kedua arti tersebut.

Penasaran juga, akhirnya saya mencobanya. Deg degan rasanya begitu mata ditutup kain dan kaki mulai berjalan. Saya meraba-raba jalan didepan saya. Rasanya begitu sunyi , padahal sekeliling saya itu sangat ramai. Denger sih teman-teman saya bicara didepan jalan saya tetapi kemudian sunyi. Aduuh, saya sempat ragu untuk melanjutkan kaki saya melangkah. TIba-tiba saya tidak konsentrasi , saya merasa takut salah dengan jalan yang akan saya lalui.

Begitu saya lanjutkan kembali melangkah, ternyata saya menabrak tembok dan entah berjalan kemana lagi. Saya merasa sudah selesai kaki melangkah ternyata malah berada di tengah lapangan tidak jauh dari tempat awal saya mulai berjalan.Menurut teman-teman, saya sebenarnya sudah sampai ditengah tetapi berhenti lalu berjalan kea rah kiri hingga akhirnya hanya muter-muter di tengah lapangan.

Entahlah , kalau menurut saya sih begitu kaki mendekati kedua beringin tersebut langkah tiba-tiba berhenti. Hal yang sama , juga terjadi kepada beberapa orang selain teman-teman saya. Tetapi ada juga yang melonjak kegirangan begitu dia berhasil melewati jalan di tengah beringin. Teman saya pun setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa melewatinya.

Pengalaman yang unik dan mendebarkan, sebuah permainan yang mengesankan buat kami selama berada di Jogja. Memang kota Jogya selalu menawarkan pesona yang membawa setiap orang yang datang untuk selalu datang lagi.

Jogja , the most lovely city, 19 Juli 2009
Veronica Setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogpsot.com
Facebook Page : Catatan Perjalanan

thanks to: mas Gatot Photo-photonya juga kiwir,pinok,resti,lilis dan rakha untuk liburan yang gila dan heboh selama ke jogja:)
Link Foto cek di http://g1g1kel1nc1.multiply.com/photos/album/91

Friday, January 21, 2011

Perternakan Kordero - Bogor

Hari masih siang setelah selesai dari Pura Jagatkarta dan saya masih enggan untuk kembali ke Jakarta. Setelah makan, kami menuju sebuah perternakan kambing etawa. Letaknya sih tidak jauh dari Jalan Raya Ciapus, Tamansari.Kami diberitahukan oleh ibu penjual warung makan sebuah jalan pintas menuju peternakan kambing tersebut.

Peternakannya sederhana dengan bangunan yang sebagian besar menggunakan kayu, baik itu untuk kandang kambing maupun untuk sebuah rumah tinggal tepat di depan kadang kambing. Selain peternakan kambing, ada juga terdapat peternakan sapi. Seorang pemuda menerima kedatangan kami bertiga dengan baik. Dari seorang bapak yang bertugas di peternakan , pemuda itu adalah manajer peternakan,lulusan D3 jurusan Peternakan IPB, namanya Mas Eko.

Ada sebuah kandang yang besar tertutup kawat dan berisi anak-anak kambing. Kandang tersebut ternyata diberikan pembatas atau sekat kayu tetapi ada pintu kecil sebagai penghubung sekat yang satu dan lainnya. Sekat pertama adalah untuk kumpulan anak kambing yang baru lahir. Saat mereka lahir, anak kambing tersebut sudah dipisahkan dari induknya lalu digabung dengan anak kambing lainnya dalam satu kandang.

Di dalam kandang , dibuatkan juga satu kandang kecil bertumpuk jerami sebagai tempat dikumpulkannya anak-anak kambing ketika mereka akan diberi susu.Tinggi pintu kandang kecil itu setinggi pinggang orang dewasa. Nanti ketika jadwalnya menyusui, anak-anak kambing tersebut diangkat oleh petugasnya lalu diberi susu satu persatu. Untuk jadwal pemberian susu adalah pkl 06.00 dan pkl 15.00.

“Ada beberapa orang yang membantu saya menyusui anak-anak kambing tersebut. Tetapi jika mereka sibuk mencari rumput untuk pangan kambing atau sedang melakukan tugas yang lain, ya saya mba yang memberikan mereka susu.” Kata Mas Eko

“Sekitar 15 liter susu sapi yang diperlukan untuk menyusui anak-anak kambing itu mba setiap jadwalnya menyusui” Begitulah yang dijelaskan Mas Eko kepada saya, Mutia dan Ida.

Tidak lama, Mas Eko meninggalkan kami untuk memeras susu sapi yang letaknya tidak jauh dari kandang anak kambing. Sebab sudah waktunya memberikan susu kepada anak-anak kambing yang memiliki daun telinga yang panjang ini. Sebanyak tiga liter susu sapi yang dihasilkan dari setiap perasan yang tanpa menggunakan alat bantu. Hasil perasan susu sapi tersebut dikumpulkan dalam sebuah ember kecil. Kemudian ember yang berisi susu sapi tersebut, diberikan putih dan kuning telur ayam sebanyak dua butir lalu diaduk rata. Setelah itu susu sapi dituangkan ke dalam botol susu , hanya sayangnya jumlah botol susu tersebut hanya 3 buah yang digunakan untuk menyusui sekitar 54 ekor anak kambing dengan berbagai usia.

Saya dan Mutia membantu menyusui anak-anak kambing dari botol susu yang sudah diisi susu sapi. Menyenangkan sekali dan baru kali ini saya merasakan menyusui anak-anak kambing yang tidak pernah menyentuh ataupun meminum susu dari puting susu induknya sendiri. Saya sendiri sangat kewalahan karena agresifnya anak-anak kambing ini menghabiskan susu. Mereka sangat kuat menyedot karet yang ada dibotol susu seperti sedang kehausan mereka menghabiskan isi botol dalam waktu singkat.

Dalam pemberian susu ada takarannya sendiri. Untuk anak kambing yang ada di sekat pertama karena usinya masih bayi, maka tiap anak kambing diberikan hanya satu botol susu sapi. Untuk yang ada di sekat kedua, usianya sekitar dua bulanan maka diberikan 1 ½ botol susu. Di sekat yang ketiga , karena usianya sudah lebih dari tiga bulanan diberikan dua botol susu. Nah, untuk anak kambing yang sudah menyusui, mereka dipisahkan dan dikumpulkan di sekat sebelah kadangnya yang sudah kosong, Setelah semua sudah minum susu, anak-anak kambing tersebut digiring masuk kembali ke dalam kandang kecilnya, begitupun dengan anak kambing di kandang berikutnya.

Saya melihat ada seekor anak kambing yang tidak lincah dan hanya terdiam dipojok kandang kecil ketika diangkat dan diberikan susu juga tidak menghabiskannya seperti yang lainnya , sepertinya sedang sakit. Kasihan kalau ada anak kambing yang sakit , akan diberikan obat-obat seperti yang biasa dikonsumsi manusia. Karena dokter hewan juga tidak ada dan Mas Eko juga merangkap sebagai dokter untuk mengobati mereka.
Selain kandang anak-anak kambing yang lucu-lucu nan menggemaskan itu, ada juga kandang khusus para pejantan dan betinanya. Kandangnya sangat bersih karena memang selalu dibersihkan setiap hari jadi tidak akan mencium bau yang menyengat. Selain itu, selalu tersedia pangan buat kambing-kambing etawa ini. Ada lima pejantan yang tersedia dan siap membuahi para betinanya.

“Banyak suka dukanya mba ketika merawat kambing-kambing ini. Pernah saya ditendang ketika memandikan mereka.” Cerita Mas Eko kepada kami.

“Tiap hari saya memandikan, selain itu juga merawat yang sakit, memberikan makan, membersihkan kandang, membantu melahirkan kambing betina. Jika ada pejantan yang sedang masa pembuahan saya juga harus tahu termasuk memilih betinanya untuk dikawinkan.” Kami jelas terheran-heran dengan apa yang diljelaskan oleh Mas Eko keseluruhan tugasnya di peternakan Kordero ini. Luar biasa..

Menurut Mas Eko, untuk kambing betina yang baru melahirkan, sekitar sepuluh hari kemudian baru dimandikan dan itupun tergantung cuaca. Sebabnya mencegah timbulnya sakit /demam pada kambing betina itu sendiri. Setiap hari juga , kambing betina menghasilkan susu perasan sebanyak tiga liter. Hasil susunya banyak untuk dijual tetapi untuk fragmentasi belum dilakukan karena keterbatasan alat. Kambing etawa ini tidak dijual melainkan khususkan untuk dikembangbiakan populasinya.

“Pernah dibawakan bibit pejantan dari luar negeri mba, tetapi adaptasinya kurang bagus , tidak bertahan lama di tempat ini dan akhirnya mati.” Demikian penjelasan Mas Eko ketika ia menunjukkan tempat kandang pejantan.

Ada satu pejantan yang sudah menghasilkan pejantan yang lain, nama kambing itu adalah Rocky. Tubuhnya sangat besar , sayapun kaget melihat postur tubuhnya yang besar dan tinggi. Anaknya pun tidak jauh berbeda dan diberi nama Danny. Rocky dan Danny serta tiga penjantan lainnya dipersiapkan untuk menghasilkan bibit – bibit yang bagus untuk perkembangan kambing etawa selanjutnya , yang menurutnya sih sudah tidak ada lagi dinegeri asalnya , India.

Sebelum pulang, Ida dan Mutia membeli susu kambing yang sudah dibungkus dan didinginkan berlabel Kordero, nama dari peternakan kambing ini. Perjalanan yang tidak disangka. Bermula hanya iseng ingin membeli susu kambing ternyata dari tempat sederhana ini , kami mendapat pengetahuan yang sangat penting dan berharga. Tidak akan pernah lupa pengalaman yang luar biasa dari peternakan kordero , Bogor.

Bogor, 01 Januari 2011
Veronica Setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogspot.com
mail to : g1g1kel1nc1@yahoo.com.au
Foto-foto perjalanan kami di bogor : http://www.facebook.com/profile.php?id=1529778501#!/album.php?id=1529778501&aid=2098804
Note : all pictures are belong to Tarmidah Sumargo

Gereja Sion Dan Kawasan Kota Tua Disekitarnya

Selain mengenal Kampung Pecah Kulit, saya diperkenalkan juga oleh Komunitas Jelajah Budaya tempat-tempat yang bersejarah lainnya. Awal perkenalan saya adalah dengan sebuah gedung Bank Mandiri yang kantornya masih aktif sampai sekarang. Tidak masuk ke dalam gedung, tetapi diluar gedungnya saja tepatnya persis disebelah halte bus transjakarta Kota.

Di jelaskan disana, pada masa pemerintahan Belanda , banyak dibangun gedung yang menjadi tempat penyimpanan uang/bank untuk para warganya yang ada di Batavia. Termasuk salah satunya adalah Kantor Nederlandsche Handel Mastchappij ( NHM ) yang dibangun pada tahun 1929 dan diresmikan tanggal 14 Januari 1933 oleh Dr. C.J.K van Aaalst , presiden NHM ke-10. Mereka yang hendak menyimpan uangnya , dahulu melakukannya dengan melewati kalibesar sebagai jalur transportasi yang murah , cepat dan vital. Karena daerah diseberang kalibesar hanya dipergunakan sebagai kawasan pergudangan.

Selanjutnya perjalanan jelajah kota tua ini, saya lanjutkan melewati Stasiun Jakarta Kota atau lebih dikenal dengan sebutan Stasiun Beos yang memiliki arsitetur bangunan yang menarik dan merupakan salah satu cagarbudaya. Nama Beos sendiri terdapat beberapa versi. Pertama, berasal dari kependekan kata Batavia Ooster Spoorweg Maatschapij ( BOSM = Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur ). Versi lain kata Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken yang artinya Batavia dan sekitarnya, dimana stasiun yang menghubungkan stasiun lain seperti Bekassie ( Bekasi ) , Buitenzorg ( Bogor ) , Parijs van Java ( Bandung ), Karavam ( Karawang ) dll. Perancang Stasiun ini adalah seorang arsitek Indo-Belanda kelahiran Tulungagung,8 September 1882 , bernama Frans Johan Louwrens Ghijsels. Secara resmi digunakan pada tanggal 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan dengan penanaman kepala kerbau di dalam ruangan gedung dan satunya lagi di tengah jalan antara stasiun dan tugu jam.

Tidak jauh dari stasiun kota , ada sebuah gereja tua yang berada diujung jalan Jayakarta yakni Gereja Sion. Gereja sion adalah salah satu gereja tua yang ada di kota Jakarta dan salah satu cagarbudaya yang dilindungi. Padahal sering sekali dilewati karena terletak di tepi jalan raya namun hanya bersama Komunitas Jelajah Budaya inilah saya pertama kalinya memasuki gereja tersebut.

Halamannya luas dan terdapat beberapa makam seperti makam yang ada di Museum Taman Prasasti. Bentuknya memanjang , tiap sudutnya ada handle yang berbentuk lingkarang terbuat dari besi yang kuat dan kalau diperhatikan ada nomornya juga diatas makam tersebut. Menurut, salah seorang jemaat gereja yang menjadi narasumbernya, mengatakan halaman ini dahulunya merupakan tempat makam dan luas sampai ke sebrang jalan. Tetapi sejak tahun 1960, makam-makam tersebut dipindahkan ke pemakaman yang ada di Tanah Abang ( Museum Prasasti ) karena makam-makam tersebut diperluas menjadi halaman untuk parkir gereja. Sekarang hanya terdapat 13 makam. Dahulu, makam-makam yang ada di halaman gereja tersebut menjadi symbol dari tingkatan sosial. Karena yang dimakamkan dihalaman gereja tersebut dari berbagai tingkatan sosial. Ada seorang Gubernur Jendral tetapi ada juga rakyat biasa.

Gereja Sion ini dibangun dengan 10.000 tiang kayu pilihan dan setelah selesai pembangunannya digunakan oleh Mardjiker atau orang Portugis yang dimerdekakan. Gereja Sion merupakan Gereja Portugis yang dibangun oleh Belanda untuk orang-orang Portugis yang menjadi tawanan VOC, setelah Portugis tidak berkuasa lagi diwilayah jajahannya. Awalnya gereja ini bernama Portugese Buitenkerk yang artinya Gereja Portugis diluar tembok pemerintahan kota Batavia. Lambat laun, gereja ini digunakan oleh Belanda sedangkan warga Mardjiker tersebut dipindahkan ke Kampung Tugu.

Lalu Gereja Sion dikelola oleh GPI ( Gereja Prostestan di Indonesia ). Karena wilayah pelayanan GPI pada bagian barat di Indonesia, maka pada tahun 1957 pada persidangan sinode, Gereja Portugis ini berubah menjadi nama GPIB Jemaat Sion. Nama Sion sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang berarti sebuah bukit yang menjadi lambang keselamatan.

Selain itu dijelaskan juga oleh narasumber gereja ini ,bahwa perkembangan awal gereja portugis ini berasal dari Indonesia bagian timur terutama di Maluku, Sulawesi ke bagian utara dan Nusa Tenggara Timur . Ada sebuah kisah dimana,pada masa penjajahan Jepang, Gereja Sion ingin dijadikan tempat penyimpanan abu tentara Jepang yang gugur. Tetapi keinginan tersebut tidak terjadi dan Gereja Immanuel yang dipakai untuk menyimpan abu.

Bangunan Gereja Sion ini sangat unik. Bentuknya seperti kotak jika diperhatikan dan sederhana. Menurut salah seorang jemaat Gereja ini tidak mengalami perubahan apapun termasuk interiornya. Pintu masuk hanya satu dengan dua buah daun pintu yang lebar dan diapit dua buah tiang yang kokoh.Diatasnya tertulis usia dari Gereja Sion dan diatas tulisan terdapat salib yang besar. Kiri dan kanan pintu masuk, terdapat dua buah jendela ,simetris serta di ujung atas jendela terdapat symbol hati / love.
Bagian dalam gereja , terdapat beberapa kursi berukiran sangat bagus berwarna hitam.

Masih kokoh dan awet padahal usianya sudah ratusan tahun. Bagian belakang , masih di dalam gereja, terdapat sebuah prasasti peringatan mengenai cerita lengkap pemberkatan gereja ini yang tertulis dalam Bahasa Belanda dan masih bisa dilihat didinding gereja. Gereja Sion dibangun hampir dua tahun dan peletakan batu pertamanya dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn atas perintah Ketua Dewan Gereja Joan van Hoorn, yang kemudian hari menjabat sebagai Gubernur Jendral VOC ( 1704 – 1709 ). Gereja tersebut kemudian diresmikan oleh Pendeta Theodorus Zas pada tanggal 23 Oktober 1695 pada hari Minggu.

Persis di sebelah prasasti gereja, terdapat sebuah tangga menuju sebuah balkon yang disangga empat tiang. Ternyata diatas sana itu ada sebuah alat musik orgen atau orgen seruling . Ketika saya bertanya dengan salah seorang jemaat disana, ternyata alat musik itu masih digunakan. Orgen tersebut merupakan pemberian seorang puteri pendeta bernama John Maurits Moor.

Selain itu , mimbar yang terdapat di Gereja SIon unik sekali seperti mahkota raja. Mimbar yang bergaya Barok, bertudung kanopi dan dua tiang penyangga dan empat tonggak perunggu. Kalau diperhatikan, terdapat jejeran bangku-bangku yang menghadap bangku jemaat yang di bagian tengah. Dahulunya , ditempat itu adalah tempat duduknya para bangsawan Belanda ketika mengikuti ibadat di dalam gereja ini. Tiang-tiang penyangga gedung gereja ini sangat kokoh termasuk juga kayu-kayu yang ada di atap gereja. Warna – warna seperti coklat, hitam dan krem membuat tempat ini terlihat sederhana tetapi menarik.

Bagian belakang gedung, terdapat sebuah lonceng. Entah masih berfungsi atau tidak, penyangganya terbuat dari kayu dan ditarik dengan seutas tali. Kalau menurut saya, fungsinya sebagai tanda untuk memulai ibadat ataupun sebagai tanda kedatangan jenasah, sebab halaman gereja dulunya merupakan sebuah makam.

Jakarta, 16 januari 2011
Veronica Setiawati
http://g1g1kel1nc1.blogspot.com
mail to : g1g1kel1nc1@yahoo.com.au
Fage Facebook : Catatan Perjalanan
*thanks to : Komunitas Jelajah Budaya*

Tuesday, January 18, 2011

Kota Toea : Mengenal Kampoeng Pecah Kulit

Kampung Pecah Kulit? Nama itu terkesan aneh bagi saya. Rasa penasaran karena nama tersebut , membuat saya ikut serta dalam Jelajah Kota Tua bersama Komunitas Jelajah Budaya supaya dapat mengenal lebih dekat tentang Kampung Pecah Kulit ini sekaligus juga menjawab rasa penasaran saya.

Perjalanan mengenal sejarah ini, saya lakukan dengan berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Pangeran Jayakarta – Mangga Dua. Menurut historisnya Jalan Jayakarta ini bernama Jacatraweg . Letaknya sudah diluar kota Batavia atau diluar benteng kota Batavia, dengan perbatasannya adalah Jembatan Jassen yang sampai sekarang ini masih terlihat ditepi jalan menuju stasiun Jakartakota dari arah manggadua. Selain itu, Jacatraweg dahulunya merupakan sebuah tempat perkebunan dan hutan belantara, dimana masih terdapat banyak binatang buas di dalamnya.

Di luar kota Batavia ini, terdapat sebuah perkampungan yang diberi nama Kampung Pecah Kulit. Nama “Pecah Kulit” menurut versi yang pertama konon berasal dari sebuah profesi ayah dari Peter Erbervelt yang seorang Penyamak Kulit .Ia diangkat sebagai anggota Heemraad untuk mengurusi kepemilikan tanah di daerah Ancol, ia menjadi tuan tanah. Kekayaan ini diwariskan kepada anaknya.

Lalu siapa itu Peter Erbervelt sehingga ia dan keluarganya begitu terkenal? Dari sebuah catatan sejarah, Peter ini adalah seorang Indo keturunan Jerman - Siam yang bekerja di Batavia menjadi seorang pedagang dan tuan tanah yang cukup terkenal warisan dari ayahnya. Nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarganya berasal dari Elberfeld, yang sekarang menjadi bagian dari kota Wuppertal,NRW, Jerman. Kematiannya sangat mengenaskan. Peter , dihukum mati pada tanggal 22 April 1722 dengan masing-masing kaki dan tangannya ditarik oleh empat ekor kuda, hingga tubuhnya terpotong dan kulitnya terpecah. Inilah versi kedua , mengapa kampung tersebut dinamakan “Kampung Pecah Kulit.”

Peter dieksekusi diluar benteng Batavia bukan di halaman balai kota , yang sekarang ini menjadi Museum Fatahillah ( Museum Sejarah ). Alasannya pemerintah VOC takut jika ada pengikutnya yang melakukan perlawanan dan demi alasan keamanan. Tubuh Peter yang hancur dimakamkan dan kepalanya di penggal dan ditancapkan pada sebuah tombak. Hal itu menjadi peringatan buat semua orang agar tidak lagi melakukan perlawanan terhadap pemerintah VOC.

Lokasi dari monumen tengkorak Peter , sekarang ini sudah menjadi sebuah gedung showroom mobil yang besar, letaknya tidak jauh dari Gereja Sion- Jakarta. Dahulunya tempat itu adalah rumah peninggalan Peter Everbelt dan juga merupakan tempat dibangunnya sebuah tugu peringatan dengan tengkorak kepala Peter yang telah ditancapkan sebuah tombak dan ada sebuah prasasti dibawahnya. Namun, ketika Jepang datang ke Indonesia, Tugu tersebut dihancurkan namun prasastinya masih dapat diselamatkan. Tubuhnya dimakamkan di Museum Fatahillah dan replika dari tugu peringatannya tempatnya di pindahkan ke Museum Prasasti , Tanah Abang Jakarta.

Ada yang jadi pertanyaan saya , kenapa sampai Peter Ebervelt ini dihukum mati dengan cara yang sadis seperti itu? Beberapa catatan VOC menyebutkan Peter dianggap memimpin konspirasi dan sejumlah kekacauan yang bertujuan menentang kekuasaaan. Terlebih lagi, Peter merasa sakit hati terhadap Kolonial Belanda , terutama Gubernur Jendral waktu itu Johan Van Hoorn dimana telah menghancurkan hidupnya dengan menyita tanah dan rumahnya , dengan alasan supaya Peter mau menjual tanahnya kepada Gubernur Jendral tersebut.

Bersama sahabatnya yang orang pribumi yakni Raden Ateng, membuat rencana pembuhunan terhadap orang-orang Belanda. Namun sayang, rencana mereka gagal , akhirnya mereka dihukum mati bersama beberapa orang yang menjadi pengikut mereka. Ada juga yang mengatakan kematian Peter Ebervelt merupakan masalah politis karena terdapat banyak kejanggalan akan tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Raden Ateng Kartadriya pun dimakamkan tidak jauh dari Kampung Pecah Kulit. Di sebuah tempat pemakaman yang padat penduduk dan gang yang kecil di tepi jalan Jayakarta. Ia diyakini oleh warga sekitar sebagai Pangeran Jayakarta, walaupun catatan sejarah mengenainya tidak secara pasti dijelaskan. Namun, makamnya sangat ramai dikunjungi orang yang berziarah dan berdoa.

Selain makam Raden Ateng, ada juga seorang kapitan yang sangat terkenal dan yang pertama di Batavia bagi warga Cina yakni Kapitan Souw Bing Kong. Kematiannya pun sama karena dihukum mati oleh pemerintahan VOC dengan kata lain ia adalah salah satu korban eksekusi seperti Peter Ebervelt. Ia diberi gelar Kapitan , yakni sebuah jabatan yang diberikan oleh VOC untuk membantu pemerintah dalam menangani segala perkara sipil seperti memungut pajak dan menyediakan tenaga kerja untuk pembangunan Batavia.

Karena Souw Bing Kong atau Bencon , berasal dari etnis Tionghoa , maka dia dipercaya untuk menjadi Kapitan Cina untuk etnisnya. Begitupun untuk golongan etnis lain di Batavia , dipercayakan satu orang untuk menjadi pemimpin atau seorang Kapitan untuk membantu VOC. Ia pun merupakan sahabat dekat dari Gubernur Jendral VOC J.P Coen yang pernah membumihanguskan Jayakarta pada tahun 1619. Makamnya terdapat ditengah pemukiman penduduk yang sangat padat dan berada dalam Yayasan Souw Bing Kong jadi situsnya masih dapat diselamatkan dan dipelihara sehingga setiap peziarah dapat melihat makamnya.

Perjalanan terakhir bersama Komunitas Jelajah Budaya untuk mengenal Kampung Pecah Kulit, berakhir di sebuah mesjid Keramat Mangga Dua. Bangunan masjid ini sudah terlihat modern walaupun termasuk dalam masjid tua. Namun karena yang masih terlihat sebagai masjid tua adalah atapnya dan bentuk jendela, sudah tidak bisa dikategorikan cagar budaya karena sudah banyak bangunan aslinya yang sudah diganti marmer. Di dalam pun masih terdapat makam seorang ningrat yakni Raden Tumenggung Anggakoesoemah Dalem Gadjah.

Jakarta, 16 Januari 2011
Veronica Setiawati
http ://g1g1kel1nc1.blogspot.com
*thanks to : Komunitas Jelajah Budaya*
Foto-foto kegiatan Jelajah Kota Tua : Kampung Pecah Kulit