Kraukk.com

728 x 90

Sunday, October 07, 2012

Mari Berkenalan Dengan Negeri Khayangan.


Dieng itu selain udaranya dingin dan tempatnya tenang banget, ternyata menyimpan budaya yang kental. Aku sampai berfikiran kalau bisa tinggal di tempat ini karena bisa buatku lupa akan Jakarta. Tempat yang juga mempunyai arti daerah pegunungan dimana para dewa  dan dewi bersemayam, mempunyai candi-candi peninggalan Hindu yang menawan dan misterius.

Kompleks Candi Arjuna
Bila tiba di Dieng, tidak lengkap rasanya bila belum menikmati sajian kuliner khas tempat tersebut, yakni Mie Ongklok. Unik ya namanya dan rasanya pun juga. Kalau memperhatikan cara memasak dan disajikan kepada aku dan teman-teman juga berbeda dari mie yang ada di Jakarta.

Mie kuning seperti mie ayam yang umum dijual diJakarta itu di rebus tetapi memakai alat bantu sehingga mie tersebut nanti dengan mudah ditiriskan dan siap disaji. Alat bantu merebus mie itu terbuat dari anyaman bambu, bulat menyerupai mangkok kecil dan disambung dengan batang bambu yang kecil. Aku membayangkan melihat alat tersebut seperti alat untuk menyerok ikan di got, sewaktku kecil hehe..

Setelah mie tersebut matang, sebelum dihidangkan akan di “Ongklok” yang berarti di kocok atau di tiriskan sampai air rebusan yang sudah dibumbui tidak ada sama sekali. Nah, itulah mengapa mie tersebut disebut “Mie Ongklok”. Lainnya, karena berbeda saat dihidangkan. Mie tersebut di tambah dengan kuah yang kental dan ditambahkan daging ayam serta sate beserta kerupuknya. Untuk mengisi kekosongan perut saat berada di udara dingin hmm… boleh lah.

Lalu bila sudah berada di Dieng akan menginap dimana? Aku melihat banyak rumah penduduk yang dijadikan tempat menginap dan harganya relatif murah. Dan tidak pula kawatir soal tempat makan, karena banyak dijumpai termasuk bila ingin dapat uang cash tanpa harus ke ATM. Caranya? Belanja sesuatu di Indomaret dan ambil tunai dengan debit hehe…

Malam hari di Dieng sangatlah dingin menusuk tulang. Kaki menyentuh lantaipun sudah tidak mau aku rasakan. Karena efek dari udara dingin adalah ke kaki menjadi keram dan itu sangat menganggu sekali buatku. Tapi walaupun merasakan amat sangat dinginnya, untuk mandi itu wajib. Ternyata seger banget loh.

salah satu candi - doc pribadi
Seperti yang aku katakan sebelumnya, Dieng memiliki satu komplek atau kawasan candi yang luas. Lokasinya pun tidak jauh dari tempat penginapan dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Sambil menikmati suasana Dieng yang sejuk, aku mengamati ladang-ladang warga yang berada di sepanjang jalan menuju pintu masuk kawasan candi. 

Umumnya para warga menanam kentang dan memang hampir seluruh tempat di Dieng akan terlihat ladang kentang. Iseng-iseng aku bertanya, kemana saja para warga ini menjual hasil panen kentang dan jawabannya beragam ada yang dibuat dinikmati sendiri atau di jual ke luar kota seperti Jakarta dan Kalimantan. Selain kentang, ada juga Carica. Sperti pohon pepaya tetapi lebih kecil buahnya dari pepaya. Biasanya buah tersebut dibuat manisan. Ada juga pohon Kemar atau disebut juga Terong Belanda. 

Kawasan candi Dieng yang dikenal dengan Komplek Candi Arjuna, mempunyai pemandangan yang sangat cantik. Perbukitan disekitar candi seperti memasuki sebuah kerajaan pewayangan yang terlupakan. Selain lima candi yang masih berdiri tegak , terdapat juga beberapa lokasi dari reruntuhan candi. Menurut seorang pemandu , bernama bapak Sumar, dikatakan kompleks candi Hindu yang tertua di Jawa. Di sini pun dapat menikmati indahnya matahari pagi berwarna keperakan.

Berada di Kompleks Candi Arjuna serasa berada dalam dunia pewayangan. Cerita dan tokoh pewayangan seakan nyata dengan beberapa lokasi yang disini. Menurut bapak Sumar, pemandu yang juga penduduk lokal , sudah diberitahukan sebelumnya bila saat mengambil foto ternyata ada penampakan pada hasil gambar ataupun melihat sesuatu dari tempat ini, jangan panik atau takut. Dan mengenai hal itu juga terjadi dengan beberapa temanku dengan ditemani bapak pemandunya. Mereka datang pada malam hari ke pelataran kompleks candi ini dan melihat pertunjukan sendratari dan ternyata disalah satu candi mereka melihat “sesuatu” berbentuk tarian kuda lumping dalam sekejab kemudian menghilang.

Di luar hal tersebut, Kompleks Candi Arjuna juga dijadikan tempat ritual dari pemotongan rambut gimbal anak-anak kecil yang ada di Dieng. Sebelumnya , dari penuturan seorang warga, lokasi ritual ada di goa dekat Telaga Warna. Namun, karena lokasi tempat yang tidak memungkinkan akhirnya dipindahkan ke Kompleks Candi Arjuna. Sayangnya, ritual pemotongan rambut gimbal tersebut sudah lewat beberapa bulan.

Rambut gimbal yang tumbuh di rambut anak-anak kecil, baik anak lelaki atau perempuan, bukan karena disengaja tetapi memang tumbuh menjadi gimbal dengan sendirinya. Dan itu adalah sebuah tradisi turun temurun dan pasti ada dibeberapa keluarga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Uniknya, pada saat tradisi dilakukan, permintaan dari anak yang rambut gimbalnya ini akan dipotong bila tidak dipenuhi oleh orangtuanya maka rambutnya akan kembali gimbal pada saat ruwatan.

lokasi mata air bimo lukar - doc pribadi
Menurut cerita dari bapak Sumar, permintaan anak-anak ini spontan diucapkan bahkan ada yang pernah meminta dari orangtuanya Topeng Reog yang asli ( kalau tidak salah denger neh ), tetapi belum dapat dipenuhi karena topeng tersebut ada di museum di Jakarta. Dan sampai sekarang, rambut anak tersebut tetap gimbal. 

Bapak Sumar sendiri, mengakui diapun pernah mengikuti ritual potong rambut gimbal sewaktu kecil, tetapi waktu itu permintaannya adalah ikan asin, untunglah dengan kondisi keuangan yang cukup akhirnya permintaannya dapat dikabulkan dan rambutnya menjadi lurus sampai sekarang dan tidak gimbal lagi.Permintaan anak-anak tersebut menurutnya bukan sembarang permintaan melainkan roh-roh leluhurlah yang meminta dari anak-anak tersebut. Bila ada waktu dan kesempatan bisa melihat ritual pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng tersebut.

Tidak jauh dari candi, terdapat juga sebuah mata air yang keluar dari batu purba. Lokasinya dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja. Menurut ceritanya tempat mata air ini adalah tempat Sang Bima Sena membersihkan diri. Oleh sebab itu dinamakan Tuk Bimo Lukar. Konon katanya mata air ini dapat menjadikan awet muda atau menjadi “Siro Ayu atau Serayu” apabila ada seseorang mencuci mukanya dari mata air tersebut. Bila ingin mencobanya silakan saja.

Oh ya, tidak jauh dari tempat cuci muka ini, ada sebuah benda cagar budaya yang mungkin belum banyak diketahui setiap orang yang datang ke Dieng. Benda Cagar budaya tersebut adalah Batu Kelir yang diyakini adalah sebuah bangunan menyerupai candi atau menyerupai benteng, entahlah. Bagiku ketika melihatnya, bangunan itu seperti bangunan yang setengah jadi, bersusun dari batu-batu seukuran batako dan sudah ditumbuhi rerumputan. 

Menyelamatkan cagar budaya bangsa sendiri , penting sekali ternyata agar suatu hari segala keunikan yang dimiliki tersebut tidak hilang begitu saja dan dapat diceritakan betapa kayanya negeri ini akan budaya dan peninggalan sejarah yang tak ternilai.


Veronica Setiawati
@Dieng 
*dalam perjalanan bersama Photopacker Photopackers*

Tuesday, October 02, 2012

Perjalanan Ke Negeri Khayangan.


Depan Gapura Dieng - Doc Pribadi
Perjalanan 13 jam dengan jalur darat tidak mengurangi niat dan rasa ingin tahuku terhadap sebuah tempat yang bernama “Dieng”.  Rasa letih dan mengantuk yang amat sangat terbayar setelah tiba di depan gapura , dimana aku telah tiba di tempat yang banyak disebut orang “Negeri Di atas Awan” ini.

Kagum dengan pemandangan serta udara dingin yang menyambutku ketika melintasi perbukitan.  Jalan yang berliku-liku diluar membuatku hampir tidak percaya kalau rasa penasaranku sudah hampir  terbayar. “Akhirnya , Dieng bisa aku datangi.” Ucapku senang.

Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan , aku melihat bukit-bukit tersebut yang digunakan sebagai tempat berladang. Hampir seluruh perbukitan berubah menjadi tempat berladang dengan pipa-pipa yang panjang untuk mengairi ladang-ladang tersebut. 

Telaga Warna Dan Kesucian Goa Di sekitarnya.
Tujuan pertama perjalanan Dieng ini adalah Telaga Warna. Dingin menyambut kedatanganku di tempat parkiran kendaraan untuk memasuki kawasan telaga warna. Seperti halnya tempat wisata yang lain, di sekitar tempat parkiran ini banyak dijumpai warung-warung yang menyediakan souvenir dan makanan kecil lainnya. Termasuk juga sarung tangan, penutup kepala dengan bertuliskan “Dieng” serta kaos kaki untuk menghangatkan tubuh dapat dibeli di tempat ini.

Untuk dapat masuk ke dalam kawasan ini dikenakan biaya sebesar Rp 6.000 per orang. Di tempat ini, aku sebuah danau atau telaga disebutnya, tetapi airnya menyusut dan bau belerang seperti bau busuk dari telaga ini. Air telaganya sedang berwarna hijau kebiruan, dan karena warna yang ditampilkan dari telaga ini , oleh sebab itu dinamakan Telaga Warna.

Telaga ini dikelilingi perbukitan dan hutan. Di tepi danau yang kering dapat dilihat buih-buih dari air telaga seperti air mendidih. Mungkin itu yang menimbulkan gas belerang. Namun, karena udara dingin dan angin yang bertiup cepat menghilangkan bau belerang yang sempat menyengat setelah dari pintu masuk.

Pemandangan di sekitar telaga ini sangat indah terlebih warna-warna air yang ditampilkan dari telaga warna ini. Menurut beberapa orang warna-warna telaga ini bisa seperti pelangi , berbagai warna bisa muncul dari telaga ini. 

Di lokasi telaga ini terdapat juga sebuah telaga yang lain tetapi tidak berwarna. Lokasi cukup dekat , nama telaga tersebut adalah Telaga Tengilon, yang artinya adalah Telaga Cermin. Telaga tersebut memang jernih bila dibandingkan dengan telaga warna , ibaratnya telaga tersebut karena terlalu bening dapat dijadikan cermin.

Telaga warna - Doc Pribadi
Tidak jauh dari telaga cermin tersebut, terdapat sebuah lokasi yang didalamnya terdapat goa. Tetapi, bila diperhatikan, lokasi yang dikelilingi pohon-pohon  yang rindang ini tidak ditemukan adanya kamar mandi/toilet.  Karena memang tempat ini benar-benar dijaga dan masih dianggap suci atau kramat.  Oleh sebab itu, bila ada yang kebelet pingin pipis sebaiknya sebelum sampai dilokasi ini dibuang sebanyak-banyaknya ditoilet dekat pintu masuk atau ketika berada ditempat parkiran hehe…

Sebelum memasuki goa-goa yang terdapat di lokasi ini, pertama kali akan dijumpai sebuah batu yang besar  dan berwarna hitam. Batu tersebut jika dilihat menyerupai seorang tokoh pewayangan bernama Semar. Maka tak salah bila batu hitam raksasa tersebut disebut sebagai batu semar, dimana di depan batu tersebut terdapat patung gajah mada yang sedang duduk bersila berwarna keemasan.Uniknya, batu semar tersebut, beberapa pohon hidup dari batu tersebut.

Tidak jauh dari Batu Semar, terdapat beberapa goa disekitarnya. Pertama adalah Goa Jaran. Di depan pintu masuk gua tersebut, ada tiga patung perempuan. Posisi patung tersebut saling membelakangi dan tidak terpisahkan. Menurut pemandunya sih, itu artinya lambang hawa nafsu yang  melekat pada diri manusia yakni harta, tahta dan wanita.

Aku mencoba untuk memasuki goa yang sempit tersebut, yang katanya sih masih digunakan beberapa orang untuk bertapa. Hmm.. ternyata hanya beberap meter saja sudah terhalang dua buah batu yang menjulang kebawah seperti stalagmite. Entah percaya atau tidak, katanya sih kalau ada yang berniat untuk mencari “sesuatu” di tempat ini, dua buah batu yang menyempit akan terbuka. Kalau ada yang mau mencoba membuktikan silakan saja hehe..

Goa yang lainnya adalah goa pengantin ( Couple cave ). Unik sekali namanya dan goanya hanya seperti tempat persembunyian saja. Mungkin karena letaknya agak masuk ke dalam dan tersembunyi, dan mungkin  bagi para pasangan yang ingin mencari keturunan goa tersebut diasumsikan sebagai tempat mereka memadu kasih selayaknya pasangan suami istri.

Diatas goa pengantin ini, terdapat sebuah goa yang lain masih disucikan. Pertama Goa Sumur. Banyak cerita bagi mereka yang datang mencari sesuatu dari tempat ini, mereka akan membawa air sumur yang terdapat di dalam goa ini.  Karena di dalam goa ini terdapat sumber air suci yang bernama “Tirta Perwitasari.” Goa sumur akan cepat dengan mudah dikenali oleh pengunjung tempat ini karena di depan pintu gerbangnya terdapat patung seorang perempuan sedang membawa sebuah kendi yang siap dituangkan airnya. 

Goa yang kedua, diatas gua pengantin adalah Goa Semar. Nah, di tempat ini tempat yang masih digunakan beberapa orang yang masih percaya dengan hal-hal gaib. Mereka yang ingin bertapa di goa semar ini dapat memberitahukannya kepada sang juru kunci. Karena goa ini dikunci dengan sangat rapat.  Di depan Goa Semar pun terdapat patung semar sehingga siapapun yang datang akan mudah mengenalinya. 

Tempat di sekitar lokasi goa sangat sejuk dan adem. Karena pohon-pohon yang rindang mengitari tempat ini. Dan dari balik beberapa pohon terlihat jernihnya Telaga Tengilon yang memantulkan sinar matahari.  Cantik sekali.

Veronica Setiawati
*dalam perjalanan bersama Photopacker Photopackers*



Monday, October 31, 2011

Cerita Dari Magelang – Part 1

Tiba di bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, hari masihlah pagi sekitar pukul 7 dan langit kota budaya ini masih diliputi awan kelabu. Seorang lelaki lengkap dengan baju tradisional Jawa sudah menunggu dengan senyum yang mengembang dan menjadikan bandara menjadi cerah. Ia menanti kedatangan rombongan dari Lumix Fun Photo Trip dengan sebuah kertas ditangannya.

Lelaki itu yang ternyata adalah Tour Guide kami. Di dalam bus ia memperkenalkan diri akan menemani sepanjang perjalanan kami hingga hari terakhir kami di Magelang dan Yogyakarta. Ia banyak cerita mengenai kota Yogya dan baju tradisional yang ia kenakan.

Dari bandara , tujuan pertama kali adalah singgah di sebuah rumah makan yang dekat sekali dengan kompleks Universitas Gajah Mada. Dari tepi jalan kami masuk ke salah satu gang dan menemukan sebuah rumah yang sederhana tetapi sangat ramai disinggahi. Rumah makan yang menyediakan makanan khas Yogyakarta, yakni Gudeg Yu Djum.

Dari informasi bapak tour guide-nya, rumah yang kami datangi adalah rumah asli dari si pemilik nama rumah makan ini. Di depan pintu masuk, beberapa bapak-bapak tua memainkan alat musik keroncong dan mereka bernyanyi bersama. Saya seperti menjadi tamu kehormatan mendapat sambutan musik yang mungkin sudah tidak dapat di dengar di televisi ataupun radio.

Gudeg disajikan di atas piring yang terbuat dari anyaman bambu dan dialasi daun pisang segar dan kertas nasi berwarna coklat. Diatasnya terdapat nasi, telor dan irisan daging serta beberapa cabai hijau. Rasa gudeg itu begitu manis dilidah dan bumbu-bumbunya menambah rasa sesuai selera. Suasana di dalam rumahnya begitu akrab dan nyaman.

Bagian belakang rumah adalah dapurnya. Bahan masakan untuk gudeg ini dimasak di atas tungku yang menggunakan kayu bakar. Beberapa potongan kayu bakar sudah siap sedia di dekat tungku. Pemandangan yang tak pernah dilihat di kota besar seperti Jakarta.
Perjalanan dilanjutkan setelah sarapan dan menuju Magelang dan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam setengah. Dari Yogya perjalanan melewati Jalan Raya menuju Magelang, lalu Muntilan hingga menuju kota Magelang, menuju tempat penginapan kami yakni di Hotel Puri Asri.

Saat melewati Jalan raya tersebut beberapa kendaraan alat berat sedang memperbaiki tempat dimana saksi bisu dari letusan Merapi tanggal 26 Oktober 2010, menghancurkan tempat ini. Puing-puing sedang dibersihkan dan ruas jalan dialihkan. Kemudian, ketika melewati daerah Muntilan, kami diajak melihat bangunan yang kedua atap rumahnya berbentuk seperti pelana kuda.

Disebutkan bahwa kawasan Muntilan ini adalah kawasan Pecinan atau kaum Tionghoa di Jawa Tengah. Masih banyak terdapat bangunan bersejarah tetapi kurang diperhatikan dan sekarang menjadi tempat yang ramai. Di tepi jalan kawasan ini , terdapat sebuah wihara yang bersejarah bernama Hok An Kiong yang ternyata setelah santap siang kami berkunjung ke tempat ini.

Di kota Magelang sendiri, terasa kota ini sangat nyaman dan tenang. Seperti semua pergerakan roda ekonomi begitu pelan tetapi enak untuk dinikmati. Tidak ada tergesa-gesaan dan terlihat mereka yang tinggal begitu menikmati hidup. “Rasanya di tempat senyaman ini, nilai uang masih memiliki arti”, demikian yang dikatakan teman saya, saat bus melintasi kota Magelang.

Ketika kami tiba di Hotel Puri Asri dibagikan ruang kamar dan kelompok Photo. Satu kelompok terdiri dari tiga orang dipinjamkan satu kamera pocket merk Lumix , lengkap dengan memorycard dan charger. Jadi, selama dua hari , kami masing-masing dalam satu kelompok memotret apapun dari tempat-tempat yang nanti dikunjungi dengan kamera yang dipinjamkan untuk dilombakan. Walaupun kami masing-masing juga membawa kamera pribadi.

Setelah makan siang di sebuah tempat makan “Sego n’Deso” di kawasan Jl. Pemuda, Magelang kami melanjutkan perjalanan. Tempat pertama dari Lumix Fun Photo Trip adalah Wihara Hok An Kiong yang tadi sudah dilewati. Cuaca cukup terik dan matahari menyinari bumi dengan sengatnya yang menusuk kulit. Gapura wihara yang menawan dengan ornament berwarna merah menyambut kedatangan kami.

Lekukan dari tiap-tiap atap gapura yang terdiri atas tiga susun ini mengingatkan saya dengan sebuah Wihara yang terdapat di sebuah kawasan perumahan elite di Ancol yakni Wihara Da Bo Gong. Saya hanya menduga mungkin ada kaitannya karena kemiripan dari gapuranya terlihat jelas. Dan ternyata benar , wihara tersebut ada kaitannya dengan Laksamana Cheng Ho seperti yang ada di Ancol. Dan tertulis di dinding pagar Anno, 11-05-1929.

Setelah puas mengambil beberapa photo di wihara Hok An Kiong, tempat kedua adalah Candi Borobudur. Tempat bersejarah yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 09 Juli 1989 dan menjadi salah satu keajaiban dunia ini sudah mulai dibuka kembali untuk umum sejak pembersihan dari abu vulkanik Merapi yang katanya beberapa bagian sudah mengalami perubahan dari bentuk aslinya.

Dan para pengunjung sudah diperbolehkan untuk naik ke stupa atau tingkatan yang 9 – 10 dari candi yang megah ini. Tetapi itupun tidak boleh terlalu lama juga pengunjung tidak boleh duduk di stupa candi.

Setelah turun dari bus kami diserbu para pedagang, mereka memaksa dengan caranya membeli souvernir, kaos atau apapun. Harus pinter-pinter menolak deh karena kalau diladeni mereka akan terus mengejar.

Harga tiket masuk Candi Borobudur sebesar Rp 20.000,- per orang dan ada guide-nya. Sebelum masuk ke dalam pelataran candi, pengunjung diperiksa oleh keamanan dan melewati pintu detector. Segala macam bawaan diperiksa, sekarang pengamananya super ketat atau mungkin baru sadar kalau tempat ini adalah salah satu peninggalan sejarah yang harus dijaga kelestariannya.

Setelah di dalam pelataran para pengunjung diberikan kain penutup satu orang satu kain yang dililitkan dipinggang. Saya teringat seperti mau masuk ke Pura Jagatkarta yang ada di Bogor, pengunjung wajib memakai kain. Dan setelah selesai dari Candi Borobudur, kain tersebut dikembalikan kembali.

Dengan berjalan kaki, kami menuju lokasi candi hingga menuju anak tangganya. Tetapi dari kejauhan pesona Candi Borobudur yang pertama kali saya kunjungi saat masih SMA, sudah terlihat jelas puncak stupa dan beberapa bagian badan candi. Apalagi matahari sore muali menyembul dari bagian badan candinya membuatnya bercahaya.

Memang ada beberapa tempat di lantai ke dua atau ketiga yang di tutup dan para pengunjung tidak diperkenankan untuk melintas. Katanya sih selain pemugaran juga ada beberapa relief orang dewasa yang tidak pantas dilihat oleh anak-anak. Kami di ajak oleh guide candi melewati sisi kiri candi serta melintasi sebuah pohon yang disebut Pohon Bodhi, tempat Sang Buddha bertapa dan mendapat pencerahan.

Saya kagum dengan bangunan candi yang megah ini dan hebatnya kisah perjalanan seorang Buddha digambarkan di relief dinding candi. Batu-batuan saling menempel tanpa semen ataupun perekat hingga dapat kokoh berdiri seperti ini. Sebuah maha karya yang luar biasa.

Di pertengahan candi, kami melihat bukit yang menjulang. Bukit tersebut dikenal dengan Bukit Menoreh. Jika diperhatikan bukit tersebut seperti orang yang sedang tidur dengan posisi telentang. Dan keindahan pemandangan yang ditampilkan begitu memukau saat matahari hendak menuju tempat peristirahatannya. Sungguh luar biasa tempat seindah ini hadir dan nyata di depan mata.

Akhir dari perjalanan hari pertama di Magelang, adalah kembali ke kamar hotel yang sejuk. Lalu melanjutkan ke ruang makan dimana hidangan makan malam sudah menanti serta di mulai workshop tentang Fotografi oleh Mas Kelik Broto dari Majalah Tamasya, majalah yang menyelenggarakan acara ini.

Cerita Magelang hari pertama di tutup sampai disini :)

Penulis
Veronica Setiawati
Peserta LUMIX Fun Photo Trip
www.veronicasetiawati.blogspot.com

Thursday, March 10, 2011

Benteng Pendem dan Nusakambangan

Benteng peninggalan pada masa penjajahan Belanda menjadi sebuah saksi sejarah di bumi nusantara. Bukti sejarah kokohnya benteng-benteng tersebut masih bisa dilihat dan dikunjungi. Kali ini saya menceritakan ketika jejajahi benteng yang berada di kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Benteng Karang Bolong.

Untuk dapat sampai ke Benteng Karang Bolong digunakan perahu motor nelayan dari pantai Teluk Penyu menuju kawasan Pulau Nusakambangan. Tidak sampai 15 menit sudah tiba di dermaga Nusakambangan bagian timur melewati Selat Segara Anakan. Sepanjang perjalanan menuju dermaga tersebut saya melihat dua buah kapal minyak yang sedang merapat serta hijaunya Nusakambangan.

Ketinggian pulau adalah antara 0 - 50 meter diatas permukaan laut. Di sebelah selatan,barat dan timur berbatasan dengan Samudra Hindia dan sebelah utara berbatasan dengan Selat Segara Anakan, Bengawan Donan, muara sungai Citanduy, dan kota Cilacap. Selain sebagai kawasan cagar alam, Pulau Nusakambangan juga terdapat perkebunan milik warga seperti kelapa.

Nusakambangan tidak berpenduduk kecuali disekitar dermaganya itupun hanya warung-warung makanan dibuka untuk kunjungan wisata atau sebagai tempat singgah penduduk yang akan mengambil panennya. Letak Benteng Karang Bolong berada di bagian timur Nusakambangan.Sedangkan penjara yang ada di Nusakambangan letaknya berada dibagian barat pulau. Dahulu, para napi yang ada diNusakambangan dipekerjakan untuk berkebun disini juga membangun rel kereta api dari Cilacap menuju Jogja.

Perjalanan menuju Benteng Pendem dari dermaga cukup melelahkan karena medannya yang berbukit serta melewati kawasan hutan belukar selain itu ditempuh dengan berjalan kaki. Di dalam kawasan hutan ini, ada sebuah pohon bernama Pohon Gondong. Pohon tersebut memiliki bebijian berwarna hijau, serta berfungsi sebagai penyimpanan air minum dan juga obat-obatan. Karena air disekitar pulau ini rasanya payau sehingga penduduk menggunakan pohon ini sebagai air minum mereka.

Gerbang Benteng Karang Bolong hampir tidak terlihat karena tertutup akar pohon. Sehingga dari jauh mirip sebuah kastil yang angker dan menyeramkan untuk didekati. Bangunanya berbentuk huruf U terbalik , seperti arsitektur pintu yang ada di Museum Bahari. Diantara bata-bata yang tersusun dan sangat tebal ini ada sebuah celah yang sengaja dibuat sebagai ventilasi udara. Luas benteng ini sekitar 6.000M2 dan digunakan oleh tentara Belanda sebagai benteng pertahanan. Menurut pemandunya sih dibangun sekitar tahun 1855.

“Dibawah kaki kita ini adalah benteng juga, tetapi belum digali (dibaca : ekskavasi).” Demikian yang dikatakan oleh pemandunya. Saya pun sungguh heran karena tingginya benteng bahkan sampai menembus ruang bawah tanah. Hanya sayangnya tertutup lumut dan akar pohon. Diperkirakan benteng ini terdiri 4 lantai dengan dua lantai berada di atas permukaan tanah dan dua lantai lagi berada di bawah permukaan tanah . Saya dan teman-teman dituntun oleh pemandunya menuruni anak tangga.

Ruangan yang ada dibawah tanah sangat gelap begitupun ketika menuruni anak tangga yang ada di dalam benteng. Lebih baik membawa senter atau headlamp. Selesai menuruni anak tangga akan menemukan sebuah lorong yang panjang. Lorong itu merupakan jalan dimana terdapat ruangan besar yang ada dikiri dan kanannya. Ada ruang aula, barak prajurit, ruang penjara dan ruang penyiksaan serta terdapat ruang pos jaga. Di luar lorong tersebut terdapat ruang pengintaian. Lubang yang mengarah ke laut digunakan sebagai tempat penembakan jika ada musuh yang datang. Ada juga sebuah meriam yang sangat panjang di dekat pantai. Oleh sebab itu Benteng Karang Bolong juga disebut sebagai benteng alteri sebab segala perlengkapan perang dan ruang-ruang penyimpanan amunisi tersedia di dalam benteng.

Pemandangan lain yang dapat dilihat tidak jauh dari Benteng Karang Bolong adalah pantainya. Pesona pantai laut selatan dengan pasir putih dan karang-karang yang ada ditepi pantai. Menurut pemandunya, konon terdapat lorong bawah tanah yang menghubungkan benteng ini dengan Benteng Pendem dengan melewati dasar laut.

Benteng Pendem

Tidak jauh dari pantai Teluk Penyu terdapat sebuah benteng yang juga merupakan benteng pertahanan tentara Belanda yang menjorok ke laut. Setelah medarat dari Pulau Nusakambangan, perjalanan selanjutnya adalah menjelajahi benteng Pendem.

Benteng Pedem dinamakan demikian karena terpendam dibawah tanah. Dalam bahasa Belanda dinamakan “Usbatterij Op De Lantong Te Tjilatjap”. Benteng Pendem dibangun secara bertahap pada tahun 1861 - 1879. Benteng ini dibangun karena letaknya yang strategis untuk pendaratan dan pantainya terlindung oleh Pulau Nusakambangan.

Sejarah Benteng Pendem ini menurut synopsis yang dibagikan. pada waktu tentara Jepang datang ke Indonesia, benteng Pendem dijadikan markas tentara. Selama dua tahun kosong sejak Jepang kalah oleh sekutu dan Benteng Pendem kembali ke tangan tentara Hindia Belanda ( KNIL ) sampai tahun 1950. Baru ditempati kembali pada tahun 1952 sampai akhir 1965 sebagai markas TNI pasukan Banteng Loreng. Pernah juga didipakai sebagai tempat latihan pasukan RPKAD ( Kopassus ).

Sekitar duapuluh satu tahun , benteng ini terbengkalai dan tidak terurus. Sampai suatu saat seorang warga Cilacap bernama Adi Wardoyo memberanikan diri menata dan menggali lingkungan benteng sejak tanggal 26 November 1986. Sebab, disekitar lokasi benteng, telah dibangun dermaga,kantor dan tangki kilang minyak untuk Pertamina dengan sebutan Area 70 dengan memanfaatkan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 ha. Kemudian sejak tanggal 28 April 1987 Benteng Pendem resmi dibuka untuk umum hingga saat ini.

Saat ini benteng pendem sudah banyak dikunjungi dengan beberapa fasilitas tempat rekreasi untuk anak-anak dan keluarga. Seorang bapak yang memandu saya dan teman-teman dari Komunitas Jelajah Budaya, mengatakan bahwa sungai besar yang pernah mengaliri tempat ini yang berasal dari laut telah dibuat menjadi kolam buatan. Lokasi Benteng ada dibagian belakang tempat rekreasi ini. Bagian awal dari lokasi Benteng Pendem adalah bangungan yang memiliki barak yang menjadi tempat tinggal para prajurit Belanda. Satu kamar terdiri dari 40 - 50 orang dan tepat di depan bangunan barak ada tempat mandi para tentara.

Bagian tengah dari lokasi benteng, ada sebuah taman yang cukup luas. Ada beberapa ekor rusa hidup disana. Selain itu terdapat ruang-ruang yang besar. Seperti ruang klinik, sebuah bangunan yang terbagi dua ruang. Ruang yang kecil pernah digunakan sebagai tempat operasi dan ruang yang besar untuk perawatan dari tentara Belanda yang terluka. Selain itu ada ruang amunisi, ruang akomodasi, gudang peluru, ruang penjara yang terdapat sebuah ruang baca untuk para narapidana yang menerima surat dengan penerangannya memakai obor.

Dibagian lain dari lokasi benteng ada sebuah terowongan yang panjangnya sekitar 100 meter. Terowongan ini sangat gelap dan berisi air setinggi mata kaki. Tinggi terowongan sekitar 160 meter. Tempat yang lembab membuat terowongan ini penuh dengan lumut. Keluar dari terowongan ada sebuah goa jepang yang letaknya dibawah permukaan tanah. Selain goa, ada sebuah tempat penyiksaan para tawanan dengan dicelupkan ke dalam sebuah kubangan air sedalam 1 meter.

Dekat kolam buatan, ada juga sebuah benteng yang memanjang dipakai sebagai pertahanan karena letaknya menghadap laut. Cinderamata terbuat dari kerang banyak dijual ketika menuju pintu keluar benteng. Tepat di muka benteng, terdapat sebuah menara pantai yang digunakan untuk memantau kondisi pantai Cilacap.

Kuliner dan oleh-olehdari Cilacap.

Kuliner yang ditawarkan di dekat Benteng pendem adalah makanan laut tentunya. Jika ingin mencicipi aneka seafood seperti udang goreng tepung, ikan bakar, cumi asem manis dan lainnya atau sekedar menikmati segarnya air kelapa semua dapat dinikmati di tempat makan yang ada disepanjang pantai. Bahkan sambil menyantap makanan pun masih dapat menkmati indahnya pantai. Selain makanan, tidak lengkap tanpa membawa oleh-oleh ikan asin, terasi atau ikan-ikan basah dapat diperoleh dengan harga yang cukup terjangkau di kios-kios kecil depan restoran/rumah makan.

Kalau malam hari, disekitar alun-alun terdapat sebuah lokasi makanan yang sangat ramai dikunjungi. Tinggal pilih mau pesan makanan sesuai selera. Alun-alun sangat ramai dan jika ada yang ingin menikmati jajanan kecil dapat juga membeli disini. “Setiap hari selalu ramai, tidak tergantung malam minggu atau tidak. Tapi kalau hujan ya bubar ,Mba.” ucap seorang pedagang ronde yang menjelaskan mengenai keramaian di alun-alun ini.

Cilacap, 05 Maret 2011

Veronica Setiawati

Menjelajahi Kegelapan Goa Di Pangandaran.

Pangandaran! Siapa yang tidak kenal dengan tempat yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya ini dan tempat dimana pernah hancur akibat terjadinya Tsunami. Saya pun teringat untuk pertama kalinya datang ke Pangandaran sekitar tahun 2010 yang lalu. Saya berada di tepi pantai timur melihat munculnya kemegahan matahari pagi yang sungguh eksotis dan menawan dari balik bukit. Tak bisa pernah lupa keindahannya!

Perjalanan kali ini bukan hanya melihat keindahan pantai Pangandaran saja, melainkan berkunjung ke sebuah cagar alam. Mungkin bagi sebagian orang yang pernah berlibur ke Pangandaran, pernah mendengar ataupun mengetahui ada sebuah cagar alam disini. Nah, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Jelajah Budaya ingin melihat , merasakan dan menjelajahi suasana seperti apa sih ketika berada di cagar alam yang memang masih hutan.

Ketika dipintu masuk gerbang utama cagar alam, seorang pemandu menceritakan sedikit mengenai adanya beberapa ekor kera yang akan kami temui di dalam hutan. Beberapa saran yang diberitahukan kepada kami ketika berhadapan dengan kera-kera tersebut. Seperti :

“Mengangkat kedua tangan ketika ada kera yang datang menghampiri. Mereka akan mengerti kalau pengunjung tidak membawa makanan.”.

“Tidak menenteng plastik berisi makanan yang dapat terlihat oleh kera , lebih baik disembunyikan di dalam kantong/saku. Karena kera-kera tersebut akan mengambilnya”

“Jika kera tersebut menggigit , maka digigit balik?”

Saran yang terakhir aneh ya? Tapi itulah cara mereka mendekatkan diri dengan kami. Saran lelucon yang diberikan oleh pemandunya supaya kami bisa lebih santai hehe.. Tahu tidak, ternyata kera-kera tersebut tidak suka air aqua l1299993512262036419oh. Mereka lebih memilih minuman yang berwarna dan bersoda. Luar biasa deh!

Sesampainya disebuah tempat yang terdapat papan informasi tentang cagar alam ini, mulai deh si pemandu memberitahukan isi cagar alam. Ternyata di dalam cagar alam terdapat beberapa goa yang masih alami ,lalu ada air terjun dan bunga Rafflesia juga ada di sini Bahkan petualangan yang lebih ekstrim juga ada! Karena waktu yang terbatas karena harus melewati trekking yang panjang dan melelahkan , maka cukuplah kami menjelajahi goa-goa yang terdapat di cagar alam ini. Oh ya, karena ketika menjelajahi goa , tempatnya pasti gelap dan membutuhkan cahaya sebagai penerang jalan.Bagi yang tidak membawa senter, bisa menyewa dengan harga RP 5.000 per senter. Kalau mau gratis lebih baik bawa sendiri.

Saat berjalan menuju lokasi goa, sepanjang kiri dan kanan jalan masih banyak pepohonan yang tinggi dan besar. Jalan yang dilaluipun sudah bagus dan tertata seperti trotoar. Goa-goa yang dijelajahi adalah, Goa Jepang, Goa Panggung dan Goa Pahat. Masing-masing goa tentunya memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Setiap goa juga memiliki informasinya sendiri yang dipasang di depan pintu masuk goa sehingga pengunjung dapat membaca apa yang ingin disampaikan mengenai goa tersebut.

Berjalan cukup lama akhirnya sampai juga dilokasi sebuah goa. Goa Jepang adalah goa pertama yang kami datangi. Pintu masuknya sangat tersembunyi dibalik akar pohon dan tertutup. Tingginya tidak lebih dari 1,5 meter, bagi yang mempunyai tinggi badan lebih dari itu akan menunduk untuk menyusuri sepanjang lorong goa. Satu persatu antri masuk ke dalamnya sehingga membentuk bak rangakain kereta. Karena tempatnya yang gelap, kami berjalan sambil meraba pada dinding goa. Goa Jepang ini adalah goa buatan. Bahkan dindingnya tidak terbuat dari tanah melainkan dari batu karang yang dipahat. Jika diraba akan terasa licin seperti menyentuh marmer, diatas Goa Jepang terdapat pohon-pohon yang besar dengan akar-akarnya yang merambat.

Ada yang unik lainnya, yakni ketika sampai sampai dimulut goa yang terakhir yang merupakan pintu keluarnya. Ada sebuah tangga yang terbuat dari akar-akar pohon yang merambat. Satu persatu kami menaiki tangga tersebut lalu keluar melalui sebuah celah yang kecil diantara akar pohon. Lebar celah itu cukup dilalui satu orang saja. Waah, baru goa pertama saja sudah seperti ini apalagi selanjutnya, serasa caving kembali!

Dari Goa Jepang, kami diajak ke sebuah tempat yang berada didalam hutan. Pemandunya memperkenalkan kami terdapat sebuah pohon yang besar dengan akar pohon berbentuk seperti roket. Sampai-sampai di papan keterangan dekat pohon tersebut tertulis “Menurut Anda , apakah struktur roket terinspirasi oleh akar pohon Manir?” Karena kalau dilihat lebih teliti memang strukturnya akarnya sangat mirip.

Tidak jauh dari pohon tersebut, dikenalkan juga sebuah situs peninggalan Kerajaan Pangandaran. Ada sebuah batu yang berbentuk seperti anak sapi yang sedang duduk. Batu itu dinamakan Batu Kalde. Dihadapannya ada juga sepasang batu yang lain yang dinamakan Linggayoni. Lingga untuk sebutan laki-laki dan Yoni untuk sebutan wanita. Disebelah batu kalde yang dipagari oleh kayu ini , terdapat sebuah makam bernisan batu. Dugaan pemandunya makam tersebut hanya makam simbol dari penguasa Kerajaan Pangandaran yang beragama Hindu yang telah masuk Islam. Diketahuinya dari cara orang tersebut dikubur di dalam tanah.

Ketika perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri hutan mahoni , disambut dengan bunyi yang bersahutan seperti bunyi jangkrik. Agak menyeramkan sih. Uuh seandainya berjalan sendirian tanpa ada yang memandu bisa tersesat atau mungkin diam ditempat saja. Makanya, ketika beberapa orang dibelakang jauh tertinggal, mereka yang sudah didepan harus menunggu. Memang sengaja pemandunya melewati hutan ini sebagai jalan pintas karena untuk mempersingkat waktu saja Seru banget, bener-bener jadi “bolang”!

Akhirnya saya dan teman-teman tiba juga disebuah bibir pantai setelah keluar dari hutan. Untunglah, cuaca sangat cerah dan langit berwarna biru sehingga pemandangan pantai terlihat sangat cantik dengan perahu-perahu nelayan yang sedang menepi. Di depan pantai tersebut juga ada sebuah goa yang masih alami yang bernama Goa Panggung. Ketika tiba di depan mulut goa, sekilas saya teringat ada kemiripan dengan Gua Maria Tritis yang ada di Jogja. Bentuk goa sangat terbuka dengan batuan stalagtitnya yang tajam sehingga cahaya matahari dapat masuk kedalamnya. Dari Gua Panggung bisa melihat langsung ke laut Selatan. Sebuah legenda mengatakan bahwa goa ini dulunya adalah tempatnya Mbah Jaga Lautan, anak angkat dari Nyi Roro Kidul yang ditugaskan untuk menjaga lautan di bagian Jawa Barat.

Di dalam gua ada sebuah tempat yang agak tinggi seperti panggung, sehingga tempat ini diberi nama Gua Panggung. Tangganya pun terbuat dari batuan karang dan ada pengangan ketika menaiki/menuruni anak tangga tersebut. Cukup licin karena pasir yang sudah mengendap sebagai dasarnya. Di sana juga ada sebuah makam yang disimbolkan sebagai makam dari Mbah Jaga Lautan. Agak pengap kalau saya rasakan karena bagian panggung dekat makam tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Deburan ombak terdengar jelas dari atas panggung ini. Keindahan karang-karang yang menjaga goa ini dari ombak laut serta batu-batuan stalagtit akan menakjubkan bagi siapapun yang melihat. Pemandu kami juga memberitahukan ada sebuah batu yang jika terkena cahaya berkilauan seperti berlian menempel pada langit-langit goa. Sungguh Menarik!

Gua yang terakhir dijelajahi adalah Gua Parat / Keramat. Waah apa yang menyebabkan gua ini menjadi keramat ya? Ternyata ada sebuah legenda setelah melalui pertapaan di dalam goa inilah akhirnya dapat menemukan anaknya hilang. Ada yang unik dan sangat berbeda dengan goa-goa yang sebelumnya. Selain tempatnya yang lebih gelap , pintu masuk goanya sangat pendek. Untuk dapat masuk ke dalamnya , kami harus membungkukan badan dan kepala agar tidak terkena batuan goa diatas punggung. Setelah sampai di dalam goa, ternyata tempatnya sangat luas dan langit-langit goanya pun sangat tinggi sehingga tidak perlu lagi menunduk dan membungkukan badan.

Keunikan yang pertama yang dilihat dari Gua Parat ketika sudah berada di dalam adalah sebuah batu yang berbentuk unta yang sedang duduk dan dibelakangnya terdapat batuan seperti yang ada di gua panggung akan berkilauan ketika diberi cahaya. Namun sayang , hanya sebagia saja yang mengkilap karena sudah tersentuh telapak tangan para pengunjung, sehingga memudarkan kilauan cahayanya. Keunikan kedua adalah sebuah batu yang membentuk lubang yang besar. Lubang yang sebesar pot bunga tersebut terbentuk karena terlalu sering ditetesi air dari masuk kedalam goa. Sekian lama akhirnya membentuk cekungan yang lebar seperti itu.

Pemandunya mengatakan itu adalah Kaca Benggalanya Mak Lampir sewaktu sembunyi di dalam goa. Ia adalah sebuah tokoh legenda yang menakutkan seperti nenek sihir menurut sebuah cerita persilatan di radio. Keunikan yang ketiga yang dikatakanan oleh pemandunya adalah sebuah batuan yang menggantung menyerupai alat kelamin laki-laki dan perempuan sehingga disebut Batu Kelamin. Ada mitos yang dikatakan oleh pemandunya pada batu kelamin ini yakni bagi siapapun yang belum mempunyai jodoh silakan memegang batu kelamin lawan jenisnya tersebut supaya nanti segera dapat jodoh.

Keunikan yang keempat masih di dalam Gua Pahat ini yakni sebuah batuan yang menggantung menyerupai sebuah pangkal paha ayam dan keunikan yang kelima adalah sebuah batu yang dapat mengeluarkan bunyi gong ketika dipukul sehingga disebut Batu Gamelan. Selain bebatuan yang unik di dalam goa, juga masih terdapat keluarga hewan landak yang tinggal dibawah celah batuan goa dan puluhan ekor kelelawar yang bergantungan di langit-langit goa. Ketika cahaya senter saya arahkan keatas, banyak sekali kelelawar hitam bergantungan memenuhi langit goa. Saya sungguh terpana dengan keunikan dari isi Goa Parat ini. Siapa saja yang melihat pasti sungguh tertarik!

Penjelajahan Goa Parat ini berakhir di tepi pantai. Tiba-tiba kami didatangi beberapa ekor kera. Spontan saja kami segera mengangkat tangan layaknya seorang tawanan yang menyerah. Sebab kami teringat akan perkataan pemandunya, angkat tangan sebagai tanda kepada kera tersebut bahwa kami tidak memiliki makanan. Padahal pemandunya sendiripun berusaha juga mengusir kera-kera tersebut agar tidak mendekati kami tetapi masih saja mereka menghadang jalan.

Sayup terdengar pemandunya mengatakan “Kera yang betina itu yang memiliki brewok dimukanya sedangkan yang jantan tidak ada.” Namun karena sudah takut didekati oleh kera-kera tersebut, penjelasannya tidak jadi dilanjutkan. Menyenangkan dan ada lucunya ketika sampai dibus hal ini malah jadi bahan tertawaan karena tingkah kami saat mengangkat tangan mengikuti apa yang dikatakan oleh pemandu tersebut.

Sebenarnya masih banyak yang ingin dijelajahi dari semua yang ditawarkan oleh cagar alam Pangandaran , namun belum dapat kami lakukan. Setidaknya ada kenangan yang dapat dibawa setelah menyusuri , melihat dan mengenal setiap kegelapan dan isi goa dan situs peninggalan Kerajaan Pangadaran. Mungkin di lain hari ada cerita lain dari tanah Pangandaran.

Pangandaran, 06 Maret 2011

Veronica Setiawati

Sunday, February 27, 2011

Jelajah Alam dan Budaya Bojonegoro

Rasanya senang bisa ikut berpetualang bersama crew televisi! Kali ini petualangan yang saya ikuti adalah menjelajahi alam dan budaya yang ada di Bojonegoro. Pasti masih bertanya koq bisa sih? Ya bisa lah kan saya menontonnya di televisi di acara JELAJAH Trans Tv , Minggu pkl 08.00 pagi lalu saya mencatatnya sebagai review dari tayangan tersebut. Ya mudahan-mudahan saja saya beneran bisa jalan-jalan bersama mereka berpetualangan menjelajahi alam dan budaya Indonesia. Namanya juga berharap selalu saja ada kemungkinan , ya kan?? ^.^

Tayangan perjalanan JELAJAH, diawali dengan meliput sebuah sungai yang terpanjang di Pulau Jawa yang juga membelah Kota Solo. Dengan sebuah gethek yang tebuat dari rakitan bambu, diceritakan sedikit sebuah sejarah tentang kisah seorang yang bernama Jaka Tingkir. Ia pernah melewati sungai Bengawan Solo ini menuju Demak. Namun, ditengah perjalanan ia dihadang oleh beberapa ekor buaya. Jaka Tingkir berhasil mengalah buaya – buaya tersebut dan dengan lancar berhasil memasuki Demak sehingga dapat menduduki tahta Demak. Sungai Bengawan Solo mempunyai dua hulu yakni di Wonogiri dan Ponorogo. Aliran sungainya menghidupi warga yang berada disekitarnya. Saat ini sudah mulai dirintis transportasi sungai dengan menggunakan gethek untuk menyusuri sungan sepanjang 548 KM.

Ada yang khas dari sebuah desa Sukoharjo yang dilewati sungai Bengawan Solo, yakni sebuah makanan khasnya. Namanya Jenanggununggudel, unik ya namanya.Pembuatannya pun masih tradisional dan menggunakan tenaga manusia. Jenanggununggudel itu seperti dodol. Bedanya dengan jenang atau dodol umumnya karena bahan dasarnya yang terbuat dari ketan. Selain itu kalau dimakan terasa kasar dan rasanya manis , oleh sebab itu orang sana menyebutnya Krasian. Cara pembuatannya adalah kelapa , beras dan gula merah ketiganya dimasak selama tiga jam lamanya. Sedangkan ketan , bahan dasar jenang ini disangrai atau digoreng tanpa minyak, selama 10 menit lalu digiling kasar. Setelah itu dimasak selama 30 menit kemudian dicampurkan dengan adonan kelapa, beras dan gula merah yang sudah dimasak sebelumnya diaduk hingga mengental. Kemudian jenang ini dibungkus plastik untuk dijual sebagai oleh-oleh. Harganya berkisar Rp 10.000 – Rp 20.000.

Lain halnya ketika berada disebuah desa Margomulyo , Bojonegoro yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Disana terdapat sebuah desa yang bernama Desa Samin. Karena letaknya yang masih dikelilingi hutan seluas 740H dahulu digunakan sebagai tempat persembuyian tentara Jepang. Ada yang menyebut Desa Samin adalah sebuah kelompok suku. Menurut sejarahnya desa ini adalah tempat seorang yang dihormati bersama pengikutnya bernama Raden Kohar. Kemudian ia mengganti namanya menjadi Samin Suro Santiko, agar bisa lebih dekat dengan wong cilik. Ia memegang teguh prinsip hidupnya yang jujur, polos tetapi juga kritis ketika menghadapi penjajahan. Bentuk perlawanannya adalah dengan tidak membayar pajak! Adalah Mbah Harjo yang hanya dapat berbicara dalam bahasa Jawa , merupakan generasi keempatnya. Pakaian yang dikenakan Mbah Harjo pun sangat unik yakni dengan memakai ikat kepala warna hitam, baju hitam dan celana sebatas lutut berwarna hitam juga. Uniknya , jika ada tamu yang datang, tidak diperkenankan minum memakai gelas melainkan menegak langsung dari kendi.

Kalau di Sukoharjo ada pembuatan jenang, nah di desa Margomulyo ini ada juga sebuah tradisi turun temurun yakni pandai besi atau yang disebut Mandey. Alat-alat pertanian seperti cangkul dan arit dibuat sendiri. Bahannya terbuat dari baja. Untuk proses tempa dan pembakarannya membutuhkan waktu 45 menit. Sebelumnya baja tersebut di sepuh dahulu kemudian dikikir diasah sampai tajam. Lambat laun kerajinan ini mendatangkan penghasilan sendiri bagi warga sebab dapat dijual juga dengan kisaran harga Rp 25.000 – Rp 50.000 sesuai ukuran. Kekayaan alam yang lain dan masih tersimpan di Bojonegoro adalah sebuah sumber gas buminya. Wah, ternyata disebuah tempat yang jauhnya 21 km dari kota terdapat sumber api abadi yang menurut seorang peneliti dari Inggris , karangan api ini terbesar se Asia Tenggara! Bahkan sudah ada jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Di tempat tersebut juga pernah digunakan seorang Mpu sebagai tempat pertapaan. Keren banget kan??

Selain sumber alam gas bumi terdapat juga sumber minyak buminya! Disebuah desa Wonocolo masih di Bojonegoro, terdapat lokasi penambangan minyak bumi. Sumur-sumur minyak itu adalah peninggalan Belanda. Karena butuh modal yang sangat besar maka warga setempat menjalankan bisnis tambang minyak ini secara berkelompok dan tentu saja dengan alat-alat yang masih tradisional. Setiap orang masuk ke dalam sumur untuk menggali kedalaman sumur hingga 25 meter. Masing-masing orang diberi jatah masuk ke sumur adalah ½ - 1 jam. Wooww… luar biasa! Setelah dirasa cukup kedalamannya, ditanam sebuah pipa untuk memompa minyak keluar. Bisa saja minyak bercampur lumpur dan untuk membersihkannya membutuhkan waktu 2 – 1 tahun. Kalau minyaknya sudah bersih, dibawa ke sebuah tempat godokan tidak jauh dari pertambangan untuk dimasak menjadi minyak tanah atau solar.

Beberapa pembeli juga datang dengan membawa jeringen besar , penjualan minyak ini sampai keluar Kabupaten. Tercatat di desa ini, terdapat 74 unit sumur tambang minyak yang masih aktif dengan kapasitas minyak yang dihasilkan adalah 42.000 ltr per harinya. Luar biasa…luar biasa…

Ternyata, tanpa harus pergi dengan hanya menonton dari televisi, saya dapat melihat tempat-tempat yang unik di setiap daerah. Saya semakin ingin menjelajahi Indonesia dan bisa mendapatkan juga pengalaman yang unik dan mengherankan seperti ini di bumi pertiwi, Indonesia. Selamat Jalan-jalan!

Jakarta, 27 Februari 2011
Veronica Setiawati
http ://g1g1kel1nc1.blogspot.com
tulisan ini dibuat pada saat menonton acara JELAJAH di Trans TV pkl 08.00 pagi
Dengan catatan seperti ceker ayam ternyata bisa dirangkai menjadi satu cerita yang unik. Thanks Trans TV, bersamamu saya bisa ikut JELAJAH!^^