Kraukk.com

728 x 90

Saturday, September 13, 2014

Melaju Ke Kampung Tugu



Masih cerita perjalanan saya menuju Marunda yang berada di kawasan Utara dari Ibukota Jakarta ini, seakan tak lengkap bila tidak melanjutkan untuk singgah di Kampung Tugu.  Hati menjadi penasaran untuk alasan apa sehingga disebut Kampung Tugu dan lestari hingga saat ini.

Asal nama Tugu ternyata beragam versi. Pertama, karena ditemukannya sebuah prasasti tugu peninggalan kerajaan Tarumanegara di wilayah Cilincing ini, maka dinamai tempat penemuan tersebut adalah Tugu. Diduga juga , disekitar wilayah tersebut merupakan kerajaan dari Raja Purnawarman.

Prasasti Tugu dengan lima baris kalimat berhuruf palawa menyingkap pembuatan kanal dari Sungai Candrabagha (Kali Bekasi) dan Kali Gomati (Kali Cakung) sepanjang 11 kilometer. Diperkirakan pembuatan kanal itu memiliki dua tujuan, yaitu meredam banjir dan untuk irigasi pertanian.

Versi lainnya lagi nama Tugu berasal dari kata Por-tugu-ese (Portugis).  Sejak penjajah Belanda masuk Nusantara dan menang dari Portugis, dan tentara Portugis yang menjadi tawanan di tempatkan dalam satu wilayah di daerah Cilincing ini kemudian menjadi satu perkampungan. Sehingga kawasan yang dihuni oleh orang-orang Portugis ini di beri nama Kampung Tugu. Dan sekarang mereka telah membaur dari sejak awal silsilah keturunan mereka.  

Versi lainnya , berarti yang ketiga ya. Nama Tugu berasal dari nama pembatas  wilayah yang waktu itu banyak terdapat di daerah ini.  Nama Tugu sekarang diabadikan untuk nama kelurahan, tetapi dahulu nama Tugu dipergunakan untuk menyebutkan nama tempat, misalnya Kampung Tugu Batu Tumbuh, Kampung Tugu Rengas, Kampung Tugu Tipar, Kampung Tugu Semper, dan Kampung Tugu Kristen.

Dahulu wilayah Tugu ini merupakan tempat yang luas tanahnya yang dipergunakan untuk area persawahan penduduknya. Lama kelamaan semua itu dijual dan berubah menjadi tempat penyimpanan container yang keluar masuk pelabuhan Tanjung Priok. Bahkan akan sangat sulit ditemukan bentuk rumah asli dari penduduk Tugu ini. Hmm.. sangat disayangkan yah, kini hanya tinggal ceritanya saja.

Di Kampung Tugu, ada sebuah peninggalan sejarah yang sampai saat ini di lindungi , yakni sebuah bangunan rumah ibadah yang dikenal dengan nama Gereja Tugu. Sebuah Gereja yang dibangun oleh pemerintahan Kolonial Belanda untuk tawanan Portugis ini. Mereka dahulu memaksa untuk mengubah keyakinan para tawanan dan keturunannya ke Kristen Protestan.  Kemudian selanjutnya pada Tahun 1960 Gereja Tugu yang berlokasi di Jl. Raya Tugu Semper No. 20, RT 010/06, Kel Semper Barat, Jakarta Utara, ditetapkan dan di syahkan masuk menjadi anggota penuh GPIB.

Bentuk bangunan gerejanya mengingatkan saya akan Gereja Sion yang terletak di ujung jalan Pangeran Jayakarta , Kota. Bangunan yang juga merupakan gereja portugis diluar kota. Dan kedua bangunan tersebut memiliki bentuk arsitektur dan tata letak ruangan yang hamper serupa. Bagian dalam ruangan , terdapat barisan tempat duduk yang dahulu di gunakan untuk para kaum bangsawan dan barisan tempat duduk yang menghadap ke mimbar/altar adalah untuk para budak,awam atau orang biasa.

Di belakang gereja juga terdapat satu lokasi tempat pemakaman dan kalau dilihat dari nama-nama yang terdapat pada batu nisan tersebut, mereka yang dimakamkan adalah kaum keluarga dari orang-orang keturunan Portugis dengan nama belakang mereka . Komplek pemakaman ini bukan sembarangan komplek seperti pemakaman umum, Mayarakat tugu sepakat untuk membuat komplek pemakaman ini khusus bagi warga keturunan portugis. Yang dimakamkan disana ada kaitannya dengan pembangunan Gereja pada saat itu. Nenek moyang mereka yang dimakamkan disana lah yang membangun gereja GPIB Gereja Tugu..

Gereja Tugu juga memiliki Lonceng gereja yang terletak sekitar 50 meter dari gedung gereja. Anak lonceng yang tua kini di museumkan dan masih dapat dilihat. Dalam sebuah kotak kaca di teras sebuah rumah yang ada di dalam kompleks gereja tugu.

Uniknya pintu utama gereja tidak menghadap ke jalan raya , seperti saat saya masuk ke dalam komplek gereja. Melainkan menghadap ke sebuah sungai kecil yang tidak jauh dari pekarangan gereja.  Mendengar cerita ternyata sungai kecil yang merupakan aliran dari Sungai Cakung ini merupakan jalur transportasi yang digunakan oleh warga sekitar atau mereka yang akan beribadah.  

Dan hal ini jadi muncul dipikiran saya. Mungkin saja dahulu kala ada halte untuk pemberhentian perahu , sehingga diketika ada penumpang yang turun di gereja tugu , maka petugas yang menjalankan perahu akan menepikan perahunya. Atau bisa saja seperti sekarang transportasi mahal adalah mobil pribadi, mereka pun juga punya perahu pribadi sendiri. Bisa jadi begitu kan, ya?? hehe..

Salam dari Penjelajah Kota Tua
Veronica  Setiawati
Jkt, 31 Agst 2014

No comments:

Post a Comment

Hi all,
thanks for reading my post and give me some comments here.. :D